Samudera Biru

Samudera Biru
Tangisan Sam


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Lah, Biru mana?" ucap Sam dan Hujan secara berbarengan saat ia sadar jika tak ada siapapun di dapur selain mereka berdua, bahkan kursi yang di duduki Biru pun kini sudah di rapihkan oleh asisten Rumah Tangga yang tadi menemani Biru.


"Moy, sih!" sentak Sam kesal pada Hujan sambil mengacak kasar rambutnya sendiri.


"Masih berani nyalahin, Moy?"


"Iya, enggak! Dede minta maaf" jawab Sam penuh sesal, jika tadi ia tak berdebat mungkin saat ini Biru ada dalam pelukannya.


Hujan yang bertanya pada salah satu pelayan akhirnya tahu jika suami, mertua dan menantunya itu sudah lebih dulu kerumah sakit. Merasa sudah di tinggalkan akhirnya ibu dan anak itu pun segera menyusul.


"Kuncinya mana?" gumam Samudera saat keduanya sudah masuk kedalam mobil.


"Emangnya tadi pas keluar kamar gak sekalian bawa kunci mobil?" Hujan kembali mengoceh dengan sorot mata mematikan.


"Moy kan bilang lahirannya di didapur, dede mana bawa kunci mobil sih" cetus nya lagi kembali ke permasalahan utama.


"Ya udah, sekarang balik kamar ambil kunci mobil CEPETAN!!!!" teriak Hujan yang kali ini emosinya sudah di ubun ubun siap semakin meledak mumpung tak ada papa mertuanya. Karna Hujan tentu tak akan berani melakukan itu dihadapan Reza dan Melisa.


"Iya.. iya.. Tunggu!"


Sam turun lagi dari mobil mewahnya menuju kamar, Langkah panjangnya kini tak lagi berjalan melainkan berlari dengan sisa tenaga yang ia punya. Sam yang baru bangun tidur belum makan, minum bahkan cuci muka nyatanya langsung di hadapkan oleh drama persalinan sang istri yang malah dibawa lebih dulu oleh Gajahnya.


"Nah, ini dia" ucapnya senang sambil meraih kunci mobil di dalam laci nakas sisi ranjang.


Tap.. tap... tap...


Sam menuruni anak tangga sama seperti saat ia menaikinya barusan. Namun, tepat di ujung tangga ia berhenti dan melihat jari jari kakinya sendiri.

__ADS_1


"Sendal?" gumamnya lagi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal..


"Aaaah.... BODO AMAT gak kurapan inilah!"


Dengan rasa percaya dirinya, ia teruskan lagi langkah menuju garasi dimana Hujan menunggu di mobil.


Braaak...


Sam yang sudah masuk dengan keras menutup pintu kendaraan mewahnya sampai Hujan yang duduk di sebelahnya pun terlonjak kaget.


"Kamu gak sekalian mandi atau minimal ganti baju gitu jangan pake piyama begini, De!" ujar Hujan dengan menarik baju putranya.


"Dede mana mikirin mandi sih, sendal aja males ambil nih!" jawabnya sembari menunjuk kakinya sendiri yang sudah berada di atas pedal gas dan rem.


"Kamu nyeker?" pekik Hujan, rasanya ia ingin memasukkan kembali si bayi beruangnya itu kedalam perut.


"Gak apa-apa, yang penting aku ganteng!"


"Gimana, Moy?" tanya Sam tanpa menoleh karna kedua matanya fokus pada jalan di depannya.


"Baru sampe di rumah sakit" jawab Hujan yang kini semua rasa seperti sedang mengaduk-aduk hatinya. Khawatir, takut, cemas dan panik berkumpul jadi satu menjadi suatu doa dan harapan.


Tak sampai satu jam akhirnya mereka sampai di gedung mewah milik Hujan, hadiah mahar dari sang suami yang kini masih berdiri kokoh.


Ibu dan anak itu sedikit berlari sembari bergandengan tangan menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai sepuluh tempat yang di khusus kan untuk keluarga.


Sam bernapas lega saat ia melihat Reza, Melisa dan Air duduk di ruang tunggu.


"Biru mana?" tanya Hujan.

__ADS_1


"Di dalem, Moy" sahut Air sambil merentagkan tangan. Ia tahu istrinya kini sedang butuh pelukan untuk mengontrol emosi dan rasa takutnya.


"Anakku?" Sam yang duduk si samping Reza mulai merengek.


"Udah lahir, De" jawab Reza dengan menahan tawa.


"Udah lahir?" tanyanya lagi memastikan yang di jawab anggukan kepala oleh sang Gajah.


.


.


.


.


.


.


Huaaaaaaa.... kenapa di keluarinnya pas dede gak ada? suruh masukin lagi Appa....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kan.. kan.. Gajahnya iseng 😌😌😌


Jadi pengen iyup belalainya ðŸĪŠðŸĪŠ


Masih berfungsi kah? 🙄

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2