Samudera Biru

Samudera Biru
Nginep


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rain yang duduk melamun pun langsung di gendong oleh Biru, wanita baik hati itu mencium pipi kanan putranya yang kini sedang merengut tanpa senyum.


"Bum-Bum kenapa?"


Nyeeeh...


"Oh, mau nyenyeh? Mhiu lupa tadi abis mandi gak nyenyeh ya" balas Biru, waktu yang singkat membuat ia mengabaikanmu ritual sehabis mandi anaknya.


Iyaah


"Tapi di mobil ya, Kita jalan sekarang"


Rain hanya mengangguk paham, ia bagai tak sanggup lagi berkata saking lemasnya padahal Sam sudah memberinya biskuit saat menunggu di ruang tengah tadi.


Embun yang sudah berjalan lebih dulu membuat orang tuanya hanya bisa melempar senyum dari belakang, mereka tahu bagaimana tak sabarnya gadis itu bertemu dengan orang-orang yang begitu mencintainya.


Braak..


Biru menutup pintu mobil bagiannya setelah Embun sudah duduk manis di kursi belakang, Rain yang sudah ada berada di atas pangkuannya pun terus menarik baju atasan Mhiunya.


"Sabar donk, Bum. Kamu kenapa mirip banget Phiu sih?" oceh Biru sambil mengeluarkan daging kenyal sebelah kiri miliknya. Tanpa basa basi lagi Rain langsung menye sapnya dengan kuat.

__ADS_1


"Kok bawa bawa aku sih, Bee?" protes Sam yang sudah duduk di balik setir siap menyalakan mesin mobil.


"Iya, mirip banget kaya kamu, kalo lagi eror suka grasak grusuk. Untung aja gak pernah nyasar" cetus Biru sambil mengusap kepala putranya.


"Mana bisa nyasar, ngaco!"


Hampir dua puluh menit, Rain melepas sesa pannya. Ia tertidur dengan sangat nyenyak tak perduli dengan suara Embun yang sedang cekikikan sendiri di kursi belakang sedang menonton film kesukaannya di gadget.


"Dia bukan pundung tadi, Bee. Tapi haus dan ngantuk. Kasian banget anakku" lirih Biru sembari menciumi pipi bulat Rain yang terlelap dalam pelukannya.


"Aku mana tahu, biasanya kalo diem begitu dia pundung. Kalo haus sama ngantuk kan pasti rewel ujung-ujungnya nangis" sahut Sam, ia berbicara seperti apa yang ia tahu selama ini.


.


.


Gadis cantik itu langsung masuk karna memang pintu utama yang terbuka.


"Wah, cantiknya papAy udah dateng, wangi banget sih" puji Air sambil menggendong cucu pertamanya.


"wangi Strawberry, kan?" sahut Embun.


"Iya, Dong. Wangi si Tutut" timpal Langit yang juga ikut mencium pipi mulus Embun.

__ADS_1


"Adonan Si dede keren ya, dapetnya cakep begini." bisik pria menantu bungsu Rahardian.


"Hasilnya gak kaleng kaleng, sampe hobby nya aja luar biasa dahsyat" jawab Air.


"Ajaran sesat siapa?" tanya Langit pura pura.


"Istri abang lah!" cetus Air, dalam masalah uang hanya Cahaya yang patut di salahkan, ia lah racun dari segala ratu shoping di dunia.


"Adek mu, kak" balas Langit sambil melengos pergi.


Acara makan malam selesai, rasa bahagia mereka rasakan meski tak ada si tengah karna keluarga Bumi dan Kahyangan sedang berada luar negeri sejak kemarin.


"Appa pulang, kan?" tanya Sam. Ia yang baru juga pulang tentu ingin meluapkan rasa rindunya pada sang gajah.


"Iya, pulang. Tapi besok" timpal Cahaya dengan senyum liciknya.


"Kok besok" protes Sam dengan cepat.


"Besok pagi ada seseorang yang mau ketemu sama Appa. Jadi mungkin besok sore atau malam Appa dan Amma baru pulang" jelas Reza.


.


.

__ADS_1


.


Ya udah, kalo gitu dede yang nginep disini.


__ADS_2