
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Air yang sedari tadi tak berhenti tersenyum membuat Sam akhirnya penasaran, putra mahkota Rahardian itu akhirnya mendekat kemudian berpindah duduk ke sisi papAynya.
"Ada apa sih?" tanya Samudera.
Air yang satu jam lalu baru datang ke kantornya justru hanya bermain ponsel di sofa, entah apa yang di lakukan pria baya itu yang menurut Sam sangat mencurigakan.
"Ish, kepo!"
"Hayo... papAy chat sama siapa? Dede bilang Moy ya" ancam nya saat si benda pipih di jauhkan darinya.
"Dih, chat sama Moy nih!" Air yang panik langsung memperlihatkan layar benda pipih miliknya tepat di hadapan wajah sang putra.
"Itu apa?"
Sam yang melihat foto Embun dan Biru tentu langsung meraihnya untuk di lihat lebih jelas dan benar saja, itu adalah gambar yang di kirim Hujan barusan.
"Ini gimana maksudnya sih, pAy?" tanya Sam lagi.
Air kembali tersenyum, ia lipat tangannya di dada seolah Embun ada dalam dekapannya. Ia jadi rindu kedua cucunya yang sangat menggemaskan.
"Bul-Bul baru kedatangan barang belanjaan, itu foto pas dia lagi bongkar semua bareng Biru, De" jelas Air.
Sam yang mendengar ucapan dari papAynya malah merogoh saku jasnya dimana ponselnya kini berada. Setelah di raih Sam pun mulai memeriksa semua notif di layar gawainya namun apa yang di cari tak ia temukan.
__ADS_1
"Gak ada notif Biru belanja, atau pake kartu Appa dede lagi?" tanya Sam bingung karna biasanya sang istri selalu meminta izin lebih dulu jika keluar rumah atau membeli sesuatu.
"Mungkin, kan anak kamu itu rampok cilik" kekeh Air yang langsung membuat Sam membulatkan kedua matanya tanda protes dan langsung menimpali.
.
.
Anakku rampok cilik tapi adeknya papAy tuh MAFIA shoping...
*****
Rumah Utama yang tadi penuh dengan barang belanjaan Embun di ruang tamu mulai d pindahkan ke kamar si pemiliknya bahkan bocah perempuan itu kini sudah membongkarnya dan mencoba satu persatu semua yang di belinya beberapa waktu lalu di ponsel sang kakek. Niat hati hanya ingin memilih satu barang, Embun justru membeli hampir satu isi toko, untunglah si pemilik toko tahu betul dengan keluarga Rahardian dan kenal siapa Cahaya jadi suatu berkah baginya saat Embun membuat begitu banyak pesanan.
"Cantik gak?" tanya Embun saat Biru sudah selesai mendandani nya tak seperti biasa.
"Bubuy nda kucir kuncir?"
"Enggak, itu kan Bubuy udah pake bandana jadi gak usah kuncir dua lagi kaya biasanya" ucap Biru, ia yang belum terbiasa dengan rambut terurai jika bukan saat tidur seakan kurang percaya diri.
"Yuk, kita ke Appa" ajak Hujan dengan senyum penuh arti, jiwa sosialitanya mendadak meronta saat ini, sambil menyelam minum air itulah yang akan di lakukan sang mantan dokter bedah jika si kartu ajaib sudah ada di tangan cucunya.
"Cantik, kan?"
"Iya Cantik, makanya tanya ke Appa sama ke Amma" jawab Hujan lagi.
__ADS_1
"Iya, Mhiu juga mau sekalian liat Bum-Bum, tadi di bawa sama Appa ke kamarnya." timpal Biru yang akhirnya mendapat balasan anggukan kepala.
Ketiganya keluar dari kamar Embun dan melanjutkan langkah menuju kamar Tuan besar Rahardian. Biru Langsung membuka pintu saat Melisa mempersilahkan mereka masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu.
Cek lek..
Embun langsung berlari berhambur memeluk Reza, diatas pangkuan pria baya itulah ia mulai berceloteh dan bercerita banyak hal termasuk drama belanjaan onlinenya.
Lain Embun, tentu lain juga dengan Hujan dan Biru yang memilih mendekat kearah Melisa.
"Bum-Bum nangis ya, Amma? aku kelamaan di kamar Bul-Bul tadi" ucap Biru penuh sesal sambil mengusap punggung putranya yang kembali sedang merajuk.
"Nangis sih enggak, cuma marah marah terus" jawab Melisa sambil terkekeh. Semakin bocah laki laki itu kesal nyatanya Reza semakin senang menggoda..
.
.
.
Wah, kayanya udah gak mojok lagi, gaya baru saat pundung berubah jadi nyungsep...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Besok jumpalitan ya Bum 🤣