Samudera Biru

Samudera Biru
Dikit, boleh gak?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Acih auh nda Miyuuuuuh.... Bum auuuuus!!!


"Iya, masih auh, sayang. Sabar ya" jawab Biru saat Rain merengek di pangkuannya. Tingkahnya begitu menggemaskan saat menenggelamkan wajah di atas paha Mhiunya yang masih duduk di sofa ruang tengah.


Biru mengangkat tubuh Rain untuk di ia peluk karna bocah tampan itu sudah menangis sesegukan. Rain begitu lemas dan pasrah saat Biru mendekapnya.


Aku harus gimana?


Bathin Biru terus bertanya tanya sendiri, ia bingung dengan sikap apa yang harus ia lakukan saat ini. Sedangkan ia sudah berjanji pada sang Suami untuk tega terhadap putra mereka.


Biru berkali-kali meminta maaf pada Rain sambil menciumi wajah lemas anaknya.


Nyeh, Miyuh.. huhuhu miong akal


Ubit ubit yuk


Miong akal... miong akal.


Rain terus saja mengoceh di sela isak tangisnya. Ia benar-benar menyalahkan si kucing soal tanda merah di wadah gizi alaminya tersebut. Rain hanya meminta tapi tak berani memaksa apalagi menyentuh atau menarik baju bagian atas Mhiunya itu seperti biasa. Anak itu seolah tak ingin menambah kan rasa sakit yang di alami Mhiunya tersebut.


Biru yang masih mencoba menenangkan sang buah hati akhirnya bisa bernapas lega saat Rain ternyata sudah terlelap. Ia pun segera menghapus semua sisa kebasahan si wajah Rain dengan tangannya, tak lupa Biru pun kembali menciumi nya sampai berkali-kali.

__ADS_1


"Kita bobo ya, Sayang"


Tubuh putih mulus nan imut cucu mantu Rahardian itu pun kini melenggang pergi meninggalkan ruang tengah menuju lift sambil menggendong Rain.


Triiing.


Hanya beberapa detik saja, ia pun sampai di lantai dua. Biru langsung masuk ke kamarnya lalu membaringkan Rain di tengah ranjang besar.


"Bobo ya ganteng, jangan rewel ya. Mhiu sayang Bum-Bum. Maafin Mhiu ya, padahal Phiu yang nakal dan harus di cubit bukan Miong" ucap Biru pelan setelah ia mengganti pakaian Rain dengan sangat hati-hati jangan sampai anaknya terganggu lalu bangun dari tidurnya.


Sambil menunggu Rain yang sedang terbuai mimpi, Birupun sesekali berselancar di berbagai sosial media miliknya sampai akhirnya suara ketukan pintu pun terdengar.


Cek lek


"Mhiu, temenin Bubuy warnai, mau?" pinta Embun saat Biru sudah membuka pintu. Gadis kecil itu berdiri dengan Rini tepat di belakangnya.


Keduanya masuk, tapi tidak dengan Rini yang kembali ke dapur setelah Biru meminta tolong padanya di bawa kan sepiring cemilan dan satu gelas jus buah untuk menemani si sulung selama mewarnai nanti di dalam kamarnya.


"Bum, bobo?"


"Iya, bicaranya pelan-pelan ya. Bum-Bum lagi gak Mhiu kasih Nyenyeh jadi kakak jangan ingetin lagi ya. Ok" ucap Biru memberi pengertian, jangan sampai kejadian di mobil terulang lagi.


"Iya, Mhiu"

__ADS_1


Keduanya pun duduk di karpet bulu depan TV, di meja kaca depan sofa itu kini sudah terhampar beberapa kertas dan crayon yang siap di warnai oleh Embun. Jika mengingat cerita Ammanya, Embun mirip sekali hobby dengan Cahaya. Sejak kecil bungsu Rahardian Itu senang menggambar di temani kakak keduanya, Bumi. Karna tugas Air adalah menjahili dan mengacak hasil warnaan adik perempuan satu-satunya itu.


Beberapa menit berselang, Rini kembali dengan sebuah nampan di tangannya. Ada sepiring biskuit coklat dan jus mangga untuk sang Ratu.


"Makasih banyak ya, Rin"


"Sama-sama, Nona. Saya disini saja atau Nona kecil saya tinggal?" tanya si pengasuh.


"Tinggal aja, Biar Embun sama saya, kamu istirahat ya"


"Terimakasih, saya pamit. Nona, Mbak keluar ya"


"Iya, Mbak, Dadaaaah" balas Embun sambil melambaikan tangan.


Biru yang sedang menemani putrinya pun langsung menoleh saat mendengar panggilan dari Rain yang nyatanya sudah bangun.


.


.


.


Miyuuuuh

__ADS_1


Nyeh, ikit buweh nda??



__ADS_2