Samudera Biru

Samudera Biru
pergi dan datang


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Lima belas bulan sudah kini usia Rain, balita menggemaskan itu kini tak lagi merangkak melainkan sudah bisa berjalan meski masih seperti robot tapi setidaknya sang pewaris tahta tertinggi Rahardian Group itu tak harus selalu di gendong kemana pun ia mau.


"Diem sini, Mhiu ambil tisue dulu" pesan Biru pada putranya sehabis menikmati satu piring kecil buah mangga yang sudah di potong dadu.


"Kenyang gak? mau nambah lagi?" tawar Biru sambil mengelap sisa buah di mulut mungil Rain.


Nda.


Biru yang memang berada digazebo halaman belakang di datangi Air dan Hujan, mertua rasa orangtua kandung yang perhatiannya lebih dari apapun.


"Kapan si Tutut pulang, Bee?" tanya Air pada sang menantu.


"Lusa, pAy"


"Wah, bisa lebih cepet dari perkiraan, keren si Tutut" balas Air bangga pada putra semata wayangnya.


Sam yang sejak kemarin pergi keluar kota karna ada satu masalah yang harus ia tangani sendiri memang sedikit membuat keluarganya khawatir terutama Reza dan Air, dua pria itu sudah menebak jika Samudera ErRainly Rahardian Wijaya akan membereskan semua itu dalam waktu enam atau tujuh hari tapi nyatanya anak yang selalu menjadi kebanggaan keluarga sudah mengabari istrinya jika ia malah akan pulang lusa nanti.


"Anakku, loh kak" ucap Hujan bangga.


"Iya, iya... anak kamu" balas Air seraya ingin mencium pipi isterinya tapi belum juga bibirnya mendarat sempurna wajah Air yang masih saja terlihat tampan itu di pukul oleh sang Cucu.


"Kenapa sih? galak banget" oceh Air yang langsung memangku Rain.

__ADS_1


Moy Bubum.


.


.


Hari berganti, empat hari sungguh berat dirasakan Biru dan Samudera. Mereka yang jarang sekali berpisah tentu meras waktu begitu lambat berjalan. Jadi, tak salah saat pasangan suami istri itu bertemu bagai dunia milik berdua.


"Gak macem-macem kan gak ada aku?" Biru langsung menodong suaminya dengan pertanyaan.


"Iya, Bee. Mana bisa sih aku begitu. Segini sayangnya aku sama kamu" balas Sam sembari mendarat kan ciuman di punggung tangan sang istri.


"Anak-anak rewel gak?" tanya Sam lagi.


"Hahaha, Gajah aku tuh baunya sedep, Bee. Aku aja gak bisa hidup tanpa Gajah" kekehnya yang langsung mendapatkan cubitan di perut sampai harus meringis menahan sakit.


"Ya udah, itu Tutut kamu main aja sama Gajah"


"Eh, enggak gitu, Sayang" elak Sam mulai panik saat dirasa wanita halalnya sudah mengeluarkan tanduk.


Melihat raut wajah takut suaminya, Biru malah berhambur memeluk sandaran hatinya yang semakin hari semakin tampan dan tentu membuat Biru takut kehilangan.


"Kangen ya, sabar ya cantik. Nanti malem aja ini masih siang" ledek Sam sambil menahan tawa karna kedua mata Biru langsung membulat sempurna..


"Ish, nyebelin!"

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama saling memeluk, memberi rasa nyaman bagai kewajiban bagi mereka yang kini sudah menginjak enam tahun usia pernikahan yang di lakukan secara tak sengaja namun akhirnya menjadi cinta luar biasa.


"Aku mau liat Rain dulu" ujarnya yang memang sangat merindukan sang buah hati yang kini berada di kamar mereka sedang keduanya masih bermanja di ruang tamu.


"Yuk, ke atas. Mumpung Embun juga belum pulang sekolah, mereka bisa rebutan"


Dengan tangan saling menggenggam, Sam dan Biru melangkah ke kamar mereka yang berada di lantai dua rumah utama.


Cek lek..


"Bum-Bum, gantengnya Phiu" sapa Sam saat membuka pintu. Senyum terukir di wajah tampannya saat melihat sang putra sedang bermain di jaga oleh Hujan.


Rain yang mendengar sapaan Phiu nya langsung membalas senyum pria Kesayangannya.


.


.


.


.


Phiu.... Phiu Bum-Bum yeee...


__ADS_1


__ADS_2