
Njem, buweh?
"Minjem apa?" tanya Embun saat adik laki-lakinya mendekat.
Ucil uwa uwa.
"Jangan ya, nanti kakak sakit. Kalau pegang gak apa-apa"
Bum, ucil mahu...
"Kakak gak bisa kuncirin, Bum minta mhiu aja" Sahut Embun lagi sambil mengusap kepala Rain dengan lembut penuh kasih sayang.
Miyuuh na?
Embun langsung mengedarkan pandangan. Ia juga bingung saat tiba-tiba Mhiunya hilang padahal beberapa menit lalu masih ada bersamanya di ruang tengah.
"Mbak, Mhiu mana?" tanya Embun pada Rini.
"Lagi kebawah, ada tamu" jawab sang pengasuh.
Embun hanya mengangguk paham lalu mengajak Rain kembali bermain. Jika saja si bocah laki laki itu tak jahil mungkin keduanya akan selalu akur jika bersama. Tapi sayang, ada saja tingkah Rain yang membuat Embun kesal.
Hingga sore menjelang, kakak adik itupun di minta untuk membersihkan diri sebelum Samudera pulang dari kantor.
Drama pun di mulai.
Ninin nda?
__ADS_1
"Enggak, Bum. Pakai air hangat ya kalau gak mau dingin" tawar Biru, berbeda dengan si sulung yang sudah sejak tadi masuk kedalam bathup tapi si bungsu masih saja bernegosiasi.
Nda bendem.
"Ya udah, di guyur aja ya" rayu Biru lagi saat tingkat sabarnya masih aman.
Dadet, Bum...
Biru membuang napas kasar, ada saja alasan yang membuat bocah itu akhirnya mandi karna di paksa. Tapi karna Biru sedang tak ingin mendengar putranya menangis ia biarkan anak itu melanjutkan bermain, kini tugasnya adalah mengurus Sang Ratu Rahardian.
"Udah yuk, nanti kamu demam terlalu lama berendam" ajak Biru yang sudah memegang handuk di tangannya. Embun pun langsung mengangguk dan bangun. Ia di tuntun oleh Mhiunya menuju shower untuk di bersihkan lagi.
"Dingin, pantas Bum gak mau" ujar Embun saat tubuh mungilnya di lilit handuk bergambar Buaya.
"Adikmu memang malas mandi, itu udah turunan dari sananya" jawab Biru.
Miyuuuh obotnya akal...
"Eh, kakinya mana ini?" tanya Biru aneh saat melihat mainan Rain tak berkaki.
Akal ya...
"Jangan di rusakin, nanti gak Mhiu kasih mainan lagi" ancam Biru
Ain miong miong.
Lagi dan lagi, ada saja jawaban yang membuat Biru tertawa tapi sambil menahan kesal.
__ADS_1
Ia melirik kearah jam yang menggantung di dinding.
"Kurang lebih tiga puluh menit lagi Phiu akan pulang. Tapi anak ini masih saja asik bermain" gumam Biru sambil mengelus kepala sang Pewaris Rahardian Wijaya. Si anak manja kesayangan semua orang.
Cek lek...
Biru menoleh saat kearah pintu yang terbuka, dahinye mengkerut saat melihat sang suami pulang lebih awal beberapa menit dari biasanya.
"Kerjaan ku sudah selesai" ucap Sam sebelum di tanya oleh istrinya.
"Hem, baguslah. Ajak anakmu ini mandi."
"Belum mandi?" tanya Sam yang seharusnya tak aneh karna ini hampir setiap hari terjadi.
"Belum, drama turun menurun sepertinya." sindir Biru, ia tahu itu tentu dari ibu mertuanya. Bagaiamana sulitnya wanita baya itu jika sudah menyuruh Air dan Samudera untuk mandi terutama pagi hari. Dan ternyata semua itu menurun padanya.
"Kenapa sih kalian susah banget mandi?" tanya Biru.
"Kata siapa? aku rajin mandi pagi" sahut Sam.
"Sejak kapan?" cibir Biru dengan senyum seringai
.
.
.
__ADS_1
Sejak menikah.. ..