
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sesampainya di Mall, Biru dan Khansa langsung masuk kedalam tanpa arah, Sesekali wanita beranak satu itu harus mendengus kesal karna langkah Biru yang masih saja sedikit lamban seperti dulu apalagi ditambah kini ia sedang hamil tentu Biru akan terus mengingat pesan suaminya untuk berhati hati dan tak boleh tergesa saat melangkah.
"Lama banget sih, Bi" sentak Khansa dengan tangan sudah berada di pinggang.
"Aku kan bawa bayi, kak." sahutnya polos.
"Ish, jawab mulu!"
Khansa menarik tangan Biru menuju salah satu toko pakaian dewasa, banyak pilihan baju yang membuat kedua mata khansa membulat sempurna.
"Kamu bawa duit kan, Bi?" tanya Khansa serius yang jawab anggukan kepala oleh adik angkatnya itu.
"Banyak?" tanya nya lagi yang kali ini justru Biru menggelengkan kepalanya.
"Udah tau mau pergi, kenapa gak bawa uang banyak. Percuma punya suami kaya raya" cetus nya kesal.
"Udah tau kakak ngajak aku jalan, kenapa malah tanya aku, emang kakak gak bawa uang?" Ucap Biru yang langsung membuat Khansa mengeluarkan tanduknya.
"Jawab terus! bisa gak kalo kakak ngomong tuh jangan ngelawan, Bi! gak mungkin kan kamu yang gede gini kakak cubit?"
"Maaf" jawab Biru, ia mengusap lengannya sendiri karna ingat dulu Khansa sering mencubitnya jika ia nakal.
Khansa tak mau ambil pusing, ia mengambil beberapa potong baju dan sendal juga tas yang ia sukai tanpa melihat harganya lebih dulu, ia lalu menyerahkan semua barang itu pada Biru untuk di bayar di kasir.
"Banyak banget, kak"
__ADS_1
"Itu buat kakak kerja juga, masa iya kakak kerja pake kaos biasa" jawab Khansa santai dengan perasaan senang bukan kepalang.
"Terus?"
"Ya, terus kamu yang bayar adikku yang cantik" tegas Khansa.
Wanita itu kembali menarik tangan Biru untuk melakukan transaksi, Istri dari pemilik Mall itupun langsung di buat kaget saat mendengar jumlah nominal dari semua barang yang di beli Khansa terlebih wanita itu pun memintanya juga untuk membayar.
"Tunggu apa lagi?" tanya Khansa.
"Tunggu aku dapat izin dari suamiku, kak" jawab Biru, ia meraih ponselnya dalam tas untuk menelepon Sam yang masih berada di kantor.
.
.
"Enggak, sayang. Kenapa?" Sam balik bertanya.
"Aku mau beliin kak Khansa baju, boleh?"
"Iya, bayar pake card yang aku kasih ya. Jangan terlalu lelah, ingat itu" jawab Sam dengan santai.
"Baiklah, makasih ya"
Biru menutup teleponnya dan menyimpan lagi benda pipih itu kedalam tas kecilnya yang ter selempang di depan perut buncit nya.
Khansa langsung tersenyum saat melihat adiknya itu mengeluarkan card dari dompet dan menekan beberapa angka pada sebuah mesin kecil di atas meja kasir.
__ADS_1
Ini baru pertama kalinya ia membayari Khansa dengan uang sang suami, karna biasanya ia selalu menggunakan uang tabungannya sendiri jika Khansa ingin sesuatu darinya.
"Kita makan ya, Bi. kakak laper" ajaknya kemudian, kini di tangan Khansa sudah ada beberapa paperbag besar yang ia bawa sendiri.
"Kakak gak beliin apa-apa buat Dhika?" tawar Biru, keponakan kecilnya yang kini ikut dengan mantan suami Kakaknya selama Khansa di ibukota.
"Tentu, kakak akan belikan semua keperluan Dhika."
Biru hanya mengangguk paham, ada senyum di ujung bibirnya jika ingat anak itu. Biru sering rela menahan lapar saat sekolah jika tahu Dhika akan datang karna hanya ingin jajan bersamanya.
"Nanti aku titip sesuatu juga untuknya ya kak"
.
.
.
.
Hem, berikan yang banyak padanya. Karna kamu sekarang mesin ATM kami"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kudu di geplak palanya si Khansa 🤣🤣🤣🤣🤣
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1