Samudera Biru

Samudera Biru
Nenek Sihir


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Tok.. tok.. tok..


Ketukan pintu kamar Biru yang cukup kencang dan berulang kali membuat wanita hamil yang sedang terbuai mimpi itu pun akhirnya bangun dan turun dari ranjang. Dengan mata setengah terpejam Biru membuka pintu kamarnya.


Cek lek.


"Ada apa?" tanyanya pada Khansa yang berdiri tepat di hadapannya kini.


"Bumil tuh jangan tidur terus, banyakin gerak Bi" ocehnya langsung yang hanya di balas senyum kecil.


Khansa yang masih mematung diambang pintu dengan tangan melipat di dada tentu membuat Biru bingung, entah apa yang di inginkan wanita dewasa itu masih belum bisa Biru tebak.


"Kakak perlu sesuatu?" tanya Biru akhirnya.


"Ya, kakak mau jalan-jalan, dan kamu yang harus anter" jawabnya langsung tanpa basa basi seolah memerintah bukan mengajak.


"Jalan-jalan kemana? aku aja gak pernah jalan-jalan"


Khansa mendengus kesal, adik angkatnya itu selalu saja menjawab dan membalikkan ucapannya, hal itulah yang kadang membuat Khansa begitu jengkel pada Biru.


"Ke Mall, makan siang di cafe atau restaurant kemana ajalah dari pada disini terus. Kakak bosen, Bi!" sentaknya.


Biru langsung menelan salivanya, sudah lama tak mendapatkan omelan dari Khansa tapi nyatanya hari ini ia merasakan lagi hal yang sepuluh tahun biasa ia dengarkan hampir setiap hari. Khansa memang seorang wanita yang galak bukan hanya padanya tapi juga pada adik kandungnya sendiri juga yaitu Almarhum Wildan, keduanya sering bertengkar meski hanya soal sepele, amarahnya aka lebih memuncak jika Wildan terus membela Biru.

__ADS_1


Tapi, Khansa tak selalu galak juga, ada saatnya ia juga baik dan khawatir jika punya sesuatu lebih.


"Hem, kita ke Mall saja ya, nanti aku izin suamiku dulu"


"Ya sudah, kakak tunggu dibawah" jawabnya ketus sambil berlari.


Biru dengan cepat masuk dan menutup pintu kamarnya lagi, kepalanya sedikit pusing karna tidur siangnya terganggu oleh suara yang cukup kencang tadi.


Ia duduk di tepi ranjang sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Dede jangan kaget ya, kak Khansa emang gitu. kalo kata kak Wildan dia itu nenek sihir yang suka bawa sapu, hahaha" ucap Biru, ia mempraktekan bagaimana dulu almarhum Wildan juga sering menghiburnya.


Biru meraih ponselnya, ia mencari kontak nama suami tampan paripurnanya itu untuk di telepon.


"Ada apa sayang, kamu mau sesuatu?" tanya Sam langsung, ia yang baru keluar dari ruangan rapat kini sedang berjalan menuju ruangan pribadinya.


"Kak Khansa ingin ke Mall, boleh aku pergi dengannya?" izin Biru, ia begitu takut memintanya.


"Kalian mau jalan-jalan? hanya berdua"


"Hem, boleh ya, kalau kamu gak izinin akunya yang di omelin lagi, Bee" adu Biru jujur. Ya.. begitulah Biru, tak ada satu hal pun yang ia tutupi selama ini pada sang suami dan itu juga yang membuat Sam semakin mencintai istrinya karna sikap terbuka dan polos maksimalnya.


"Ya sudah, kalian boleh pergi tapi sebelum aku pulang kku sudah dirumah ya. Jangan terlalu lelah dan makan sembarangan. Ingat, jika dalam perutmu ada anak kita, Sayang" pesan Sam yang di iyakan sambil mengangguk bagai sang suami kini ada di hadapannya.


"Aku pergi ya, boleh pake card kamu kan kalo uangku habis buat jajan"

__ADS_1


"Boleh sayang, bersenang-senang lah, beli apapun yang kamu mau tanpa ragu ya"


Sambungan telepon yang sudah terputus akhirnya membat Sam melempar beda pipih itu ke tengah meja.


"Jero!"


"Iya, Tuan" jawab sang asisten setianya.


.


.


.


.


Kirim beberapa orang untuk mengawasi istriku...


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pasukan Buaya nanti ketemu pasukan Gajah 🤣🤣🤣


Awas jangan ghibah ya 😝😝


Like komennya yuk, sampe sini moga kalian paham Khansa itu gimana ya 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2