Samudera Biru

Samudera Biru
Pabrik mainan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bum-Bum, kemana?" tanya Embun dengan si Ireng di dalam gendongannya.


Bum upet ya, anan ali ali, Keh..


Sahutan Rain tentu membuat semua yang ada di ruang tengah tertawa, termasuk Reza yang akhirnya menarik sang cicit kesayangan untuk ia dudukkan di atas pahanya.


"Kalau upet jangan berisik, nanti ketauan" ucap sang Tuan besar Rahardian sambil mendekap penuh kasih sayang pada Rain.


Upet agi ya..


"Gak usah, kakak udah liat. Nih kucing Bum-Bum" kata Embun sambil menyerahkan hewan berbulu hitam itu pada adiknya. Kini, dimana ada Rain disitu juga biasanya si Ireng berada dan begitu lah sebaliknya. Semua orang tak menyangka mereka menjadi paket komplit.


Rain turun dari atas paha Appanya, ia menarik peliharaannya itu ke pojok ruangan dekat ia bersembunyi barusan. Sudah berulang kali Air dan yang lain memberitahu tapi tetap tak di indahkan oleh bocah menggemaskan itu, Rain tetap menarik paksa si Ireng tanpa takut hewan berkaki empat itu akan mencakar nya.


"Puuuus, miong.."


Lagi dan lagi Air mengajarkan cara memanggil si Ireng agar Cucunya itu paham.


"Si Ireng itu males, gak bakal bangun kalo di gituin. Rain itu kesel makannya di tarik buat cepet bangun dan ikut dia" ucap Hujan. Ia yang juga sering bermain dengan Rain tentu hapal dengan kelakuan hewan tersebut.


"Tapi aku takut di cakar, Moy"

__ADS_1


.


.


.


Makanan yang sudah rapih di meja makan membuat semua anggota keluarga kini pindah berkumpul di ruang makan. Lagi, Rain dan Embun menjadi pusat perhatian.


"Bul-Bul udah gede, mau punya bayi lagi gak?" goda Air pada ratu kesayangannya.


"Gak, satu aja. Bum-Bum gak mau juga kan, punya adik?" Embun malah bertanya pada Rain.


Iyaah..


"Embun buat papAy, Rain buat Appa, kalian bikin lagi sana" sahut Air yang langsung mendapat sorot mata tajam dari menantunya.


Seperti biasa, ritual makan bersama selalu di selingi obrolan hangat yang kadang mengundang gelak tawa di tambah dua bocah yang sedang aktif aktifnya berceloteh menambah suasa rumah utama penuh warna.


Rain, Sam dan Biru kembali ke kamar mereka, sedangkan Embun di tuntun Air dan Hujan ke ruang keluarga di lantai atas karna ada tamu yang datang berkunjung menemui Reza dan Melisa.


"Bul, belanja apa tadi, kok gak bilang papAy kalo mau ke Mall" ucap Air sambil mendekap hangat cucu perempuannya itu.


"Mhiu yang ajak, tadi cuma main sama makan aja"

__ADS_1


"Gak belanja?" tanya Hujan.


"Enggak, bingung mau beli apa"


Air dan Hujan saling Pandang lalu melempar senyum. Pasangan itu seolah tak percaya dengan yang di katakan Embun barusan, si gadis kecil kesayangan semua orang.


"Tumben, pantes kok panas banget ya malam ini, eh taunya ada yang bingung belanja" ledek Air lagi sambil menciumi pucuk kepala Embun.


"Bukan Bingung belanja apa, Bubuy udah punya semua, Pay."


"Iya, dari pada nanti kebanyakan. Meski ujung-ujungnya kamu kasih orang lain untuk berbagi tapi gak harus mainan kan?" bela Hujan yang begitu bangga pada Embun kecilnya.


.


.


.


.


Dari pada beli mainan di Mall, PapAy bikin pabrik mainan aja. Biar Bubuy gak repot belanja, Gimana?


__ADS_1


__ADS_2