
ππππππππ
Ehem...
Seorang wanita bersanggul rapih berdehem pelan dari arah sofa, rajutannya ia taruh di atas meja lalu bangun dan kemudian berjalan menghampiri suami, cucu dan cicitnya di ranjang, tiga pria beda generasi yang teramat ia cintai.
"Aku kurang denger, tadi ngomong apa ya?" tanya Melisa dengan kedua tangan di pinggang.
"Appa ngomong apa tadi de?" Reza balik bertanya pada Sam, raut wajah panik pria itu membuat si Tutut menelan salivanya kuat kuat.
"Dede lupa, dede mau balik ke kamar dulu, kayanya jus strawberry dede belum di minum deh" pamitnya langsung turun dari ranjang dan berlari kearah pintu.
Braak..
Sam menutup pintu dengan sangat keras, ia berdiri dengan memukul keningnya sendiri.
"Lupa! Bum-Bum lagi tidur" gumamnya kesal, Sam yang penasaran akhirnya menempel kan telinganya di daun pintu, ia mendengar samar-samar suara Gajahnyanya yang entah sedang di buat apa oleh sang pawang.
Ampun, Ra. Udah lemes. Jangan di sentilin terus!
****
Makan malam tiba, tak ada yang berubah dan masih nampak seperti biasanya termasuk Biru yang cekatan melayani sang suami.
Semarah apapun para wanita Rahardian, mereka tak pernah mengabaikan perut para prianya. Meski hati begitu jengkel, tangan tetap menyendokkan nasi kedalam piring.
__ADS_1
Embun dan Rain duduk di tempat biasa, si bungsu yang tepat di sisi Mhiunya terus saja meronta tak ingin makan padahal sejak bangun tidur ia belum makan apa-apa termasuk minum susu.
Didong.
"Enggak, makan dulu baru di gendong" tolak Biru pada Rain yang terus menarik tangannya.
"Sama papAy yuk gendongnya"
Nyeh, Didong.
"Hahaha, gak bisa kalo itu, Sayang" ucap Air.
Biru yang belum menghabiskan makananya malah menggeser piring yang masih penuh, ia ambil tubuh mungil si bungsu lalu di gendong menuju kamarnya setelah berpamitan.
Opa yuk, mbung bobo ih..
Rain menunjuk pada sofa depan TV, jika bukan malam ia memang jarang mau di ranjang karna bocah itu akan melakukan banyak gaya saat menyusu, tak hanya satu tapi dua sekaligus itulah yang membuat Biru kesal dan berakhir memarahi putranya begitu pun dengan Sam, jika dua bukit sang istri terpampang jelas depan matanya pria itu langsung uring uringan tak jelas sambil menggigit bantal.
"Satu aja!" tegas Biri saat tangan Rain menarik baju sisi kanan Mhiu nya.
^^^Uwa uwa ya...^^^
"Enggak, Cukup satu. Jangan di mainin. Kalo gak mau, lepas"
Nda, mahu nyeh..
__ADS_1
Rain menyesap wadah gizi miliknya itu cukup kuat bahkan sesekali di gigitnya sampai Biru harus menjerit karna sakit dan kaget , tak lupa ia pun sering memencet hidung Rain agar mau melepas gigitannya yang cukup menyakitkan.
"Kamu nakal, Mhiu cubit ya" oceh Biru sedikit marah karna ini bukan yang pertama atau sekali dua kali
Rain yang di marahi malah tersenyum seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya yang kecil-kecil.
"Kenapa?" tanya Sam yang tiba-tiba datang dengan nampan di tangannya berisi makan malam untuk sang istri.
"Di gigit" jawab Biru pada suaminya yang duduk tepat di sebelah kanan dirinya.
"Coba aku liat?" pinta Sam sambil menyentuh satu bukit yang tadi di gigit oleh putra mereka.
.
.
.
Ya ampun! sampe lecet begini? Aku obatin ya, Bee...
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Modus π€£π€£π€£π€£
Kasih nyicip Bee, kesian gue lama lama takut ileran tuh si Tutut pengen nemplok di situ..
__ADS_1