Samudera Biru

Samudera Biru
Cemburu


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bum.. gantengnya Mhiu. Bangun yuk sayang" Ucap Biru sambil mengusap punggung anaknya.


"Ini tumben gak dipojokan, Moy" tanya Sam pada Hujan yang menjaga Rain selama ia dan sang istri pergi makan malam.


"Kata siapa? orang ini baru di ambil dari pojokan deket lemari" jawab Hujan sambil terkekeh.


"Abis dari pojokan langsung nutupin mukanya tuh"


Biru yang paham dengan sifat sang putra langsung mengangkatnya. Matanya yang berlinang air di ciumi oleh Sam dan Biru tak henti.



"Kasian banget." ucap Biru yang ikut sedih.


"Ditinggal Mhiu ya"


Iyaaah...


"Maaf ya sayang. Kan Mhiu sama Phiu bukan jalan-jalan" kata Sam yang ikut sedih, bagaiamana pun Rain adalah anak kesayangannya meski ia sering kali jengkel dengan keposesifan si bungsu.


"Nyenyeh ya" tawar Biru


Nda..


"Eh, tumben! Phiu ambil nyenyeh ya" goda Sam saat Rain menolak yang selama ini menjadi kesukaannya.

__ADS_1


Nda...


Merasa terancam, Rain pun langsung menarik baju atasan Mhiu nya dan itu tentu mengundang gelak tawa semua yang ada di dalam kamar.


Bocah tampan yang belum genap dua tahun itu menyesapnya dengan kuat kuat sampai Biru harus menariknya agar tidak luka.


"Bisa pelan pelan gak, Bum" omel Biru.


Melihat istrinya kesakitan, Sam malah tertawa. Biru yang bingung dengan cepat menoleh kearah ayah dari kedua anaknya itu.


"Sakit ya di gigit Bum-Bum?" tanya Sam sambil tertawa untung saja Hujan sudah kembali ke kamarnya.


"Sakit lah, sini aku gigit punya kamu!" cetus Biru kesal.


"Kalo aku yang gigit kamu pasti gak akan sakit, malah kamu men de sah. Bukan di tarik, kepala aku makin di teken, iya kan? " goda Sam.


*****


Pagi hari, di rutinitas yang sama, Biru sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya yang masih membersihkan diri usai melakukan hal yang menyenangkan pagi hari tadi, karna semalaman Rain benar-benar tak mau lepas dari Mhiunya.


Biru yang duduk di tepi ranjang akhirnya bangun saat melihat sang suami keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang Samudera ErRainly Rahardian Wijaya terlihat begitu sangat tampan terlebih saat dada bidangnya polos tak tertutup apapun. Dan beruntungnya hanya Biru yang bisa menikmati semua itu.


"Kok ngelamun, kenapa? pengen lagi ya?" goda Sam yang langsung mendapat cubitan panas di bagian pinggang sampai pria itu harus meringis karna sakit dan kaget.


"Enak aja, emangnya kamu tuh yang gak cukup sekali, mana sekalinya itu lama banget lagi!" cetus Biru yang sering tak di beri ampun oleh suaminya saat pria itu sedang di kuasai naf su bi RAhi yang sedang bergejolak.


"Tapi enak kaaaaaaan?" jawab Sam di sela gelak tawanya.

__ADS_1


Biru membantu suaminya merapihkan diri, tapi saat ia memakaikan dasi di leher Sam, Biru sedikit berdehem seakan ada yang ingin ia sampaikan.


"Ada apa?" tanya Sam yang paham.


"Aku mau pulang boleh gak?" pinta Biru dengan mata tak berani menatap sandaran hatinya.


"Pulang kemana?" tanya Sam bingung.


"Ke kampung, aku kangen ibu sama bapak" ucap Biru.


"Sama Wildan juga?" timpal Sam dengan nada langsung dingin.


Biru yang sedari tadi menunduk langsung mendongakkan wajahnya, sorot mata suaminya nampak berbeda karna tak ada keteduhan yang di dapatkan Biru.


Sam yang sudah selesai pun akhirnya berlalu ke sofa membawa perasaan yang tak karuan rasanya.


Ia tahu, jika istrinya masih sering menangis jika mengingat almarhum Wildan, pria yang akan menikahinya enam tahun lalu jika tragedi kecelakaan itu yang pernah terjadi.


.


.


.


*Andai kamu tahu, jika c**emburu yang paling menyakitkan itu adalah pada orang yang jelas jelas sudah tak ada di dunia, Bee*...


__ADS_1


__ADS_2