Samudera Biru

Samudera Biru
Wanginya sang Ratu


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sam langsung menggendong Rain dan menciumi kedua pipi bulatnya. Bayi montok itu bergeliat kecil karna merasa terganggu tidurnya.


"Sstt.. sayang. Bobo lagi ya ganteng"


Sam yang kembali menidurkan putranya sedikit menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, Biru yang baru keluar dari kamar mandi langsung memasang wajah masam. Sam yang mendekat dan ingin memeluk pun langsung ditepis nya.


"Aku ketiduran, Bum-Bum ilang tapi udah balik lagi noh" ucapnya sambil menunjuk anaknya yang tidut dengan sang gajah dalam pelukan.


Plaaak


Biru yang masih kesal memukul lengan suaminya, ia begitu gemas dan rasanya ingin menggigit bahu Sam yang putih mulus.


"Aku titip Bum-Bum kenapa gak di jagain?"


"Aku ngantuk, Bee. Kan semalem nambah dua kali jadi aku capek" jawabnya jujur, tak cukup sekali main sebelum tidur nyatanya ia kembali membajak sawah sang istri saat pagi menjelang.


"Otak mesum!" cetus Biru sambil melengos pergi untuk merapihkan diri.


"Bee, maaf!" Sam yang tahu jika istrinya merajuk tentu merasa sangat bersalah.


"Aku cuma minta begitu aja kamu sampe ketiduran, kalo Bum-Bum kenapa kenapa gimana? sampe aku masuk dan mandiin dia aja kamu gak tahu. Kamu tidur apa pingsan sih, Bee" oceh Biru.


Sam mengusap tengkuknya. Rasa panik yang luar biasa karna melihat Rain tak ada di sisinya membuat Sam berpikir jika sang putra hilang, andai saja ia sedikit tenang mungkin ia bisa mendengar jelas riak air di dalam kamar mandi sampai tak harus mencarinya kesana kemari.

__ADS_1


"Makanya lain kali kalau mau tidur itu baca doa"


.


.


Kini seluruh keluarga Rahardian sudah berada di panti asuhan, setelah doa bersama kini saatnya mereka membagikan santunan berupa uang dan barang pada seluruh anak yatim piatu. Tak lupa perabotan kamar mereka yang biasa di ganti setiap dua tahun sekali.


"Moy, aku keluar ya Bum-Bum mulai rewel"


"Ya sudah tapi jauh jauh ya, habis ini kita pulang." pesan Hujan pada sang menantu yang di jawab anggukan kepala oleh Biru.


Dengan di temani pengasuh Embun, Kini Biru membawa Kedua anaknya ke halaman samping panti asuhan.


Biru menyusui Rain di kursi kayu tepat di bawah pohon mangga, Sedangkan Embun bermain diawasi oleh mbak Rini.


"Pelan-pelan dong, Bum" ucap Biru sambil menciumi tangan mungil Rain yang ia genggam.


Fokusnya terbagi dua karna ia juga harus memperhatikan putrinya yang berlari lari kecil mengejar kupu-kupu.


"Hati-hati Bila, awas jatuh" teriak Biru sedikit berteriak.


"Iya, Mhiu"


Biru sesekali melemparkan senyum, hatinya begitu terharu karna kini ia berada di panti asuhan mengingat dirinya juga adalah yatim piatu. Meski ia berbagi bukan dengan uang atau hartanya tapi setidaknya ia bisa merasakan apa yang penghuni panti rasakan. Beratnya hidup tanpa orangtua tak semuanya kuat menjalani.

__ADS_1


"Aku yang ditinggalkan orangtua kandung, nyatanya di ganti dengan mertua yang baiknya luar biasa, kelak Embun bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dariku" ucapnya dalam hati penuh harap.


Embun yang lelah berlari akhirnya duduk begitu saja di tengah rumput dengan menghapus keringat di keningnya.


"Mba ambilkan minum dulu ya"


"Iya" sahutnya senang.


Biru yang langsung menghampiri kini duduk di dekat putrinya.


"Capek, kan?" tanya Biru mengusap leher Embun.


"Iya kelingetan ini" ucapnya dengan napas tersengal.


"Ih, bau" ledek Biru.


"Nda, wangi dong linget Bubuy" selaknya tak mau di bilang bau.


"Wangi apa?" tanya Biru lagi.


.


.


Wangi Uwit...

__ADS_1



__ADS_2