Samudera Biru

Samudera Biru
Maaf ya


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Apun... Bum nda Akal


Bum nda ubit miong agi.


Rain terus saja merengek didalam kandang si Ireng sedangkan Air masih berdecak pinggang di depan cucunya tapi lain dengan Embun yang malah tertawa melihat adiknya ketakutan.


"Mau nakal lagi gak sama Ireng?" tanya Air dengan tegas.


Nda..


Apun.


"Janji?"


He'eh...


Biru yang sedari tadi ada di belakang Air, akhirnya melanjutkan langkahnya lebih dekat. Rain yang melihat Mhiunya datang semakin histeris.


"Ada apa?" tanya Biru.


"Si Ireng di tarikin bulunya, Mhiu. Terus di masukin ke plastik sama Bumbum" jelas Embun.


"Ireng diem aja, tapi kalau sampai dia nyakar kebagian wajah apalagi mata, gimana?" sambung Air.


Miyuuuuh.... Didong..

__ADS_1


"Bum, nakalin miong? kenapa?" tanya Biru pada putranya, ia tak akan membela sebelum mendengar langsung.


Nda akal, miong akal.


"Bum, mungkin dendam masalah dia di sapih kan Sam bilangnya aku di gigit kucing" bisik Biru pada ayah mertuanya.


"Huft, kalian ini!"


Air langsung membuka pintu kandang si Ireng, menggendong cucunya sambil menghapus kebasahan di wajah Rain yang menggemaskan.


"Kalau miong nakal, jangan di nakalin lagi ya. Mio Miongnya di sayang, Ok" pesan Air. Ia tak bisa membayangkan jika kucing besar itu membalas apa yang di lakukan Rain barusan.


Keh..


Biru langsung mengambil alih putranya dari gendongan Air, ia bawa Rain masuk ke rumah utama sedangkan Embun bersama papAy nya.


"Kenapa sih?" senggol Cahaya.


"Rain di masukin ke kandang si Ireng, katanya abis tarikin bulunya terus di masukin plastik juga." jawab Biru pelan.


"Oh..."


Rain yang sudah jauh lebih tenang, mulai bermain dan berlarian lagi seperti biasa bersama Embun yang masih di asuh oleh Air sedangkan Sam belum juga turun dari kamarnya padahal pesanannya sudah terhidang di meja makan.


.


.

__ADS_1


"Aku panggil Sam dulu ya, Moy"


Hujan hanya mengangguk, berbeda dengan Nyonya Biantara yang sudah sibuk mencicipi apa yang sudah terhampar di meja makan.


"Aku tuh kangen masakan mama, tapi cukup tahu diri juga buat gak minta. Aku gak mau mama cape" lirih Cahaya.


"Iya, sama. Chef handal pun gak sama rasanya kaya yang biasa mama bikin ya." sahut Hujan yang merasakan hal yang sama. Ia yang memang tak pandai masak sejak dulu hanya bisa menahan kerinduan perutnya di manjakan oleh sang ibu mertua.


"Yang penting mama tetep sehat, cuma itu yang aku harapi de" sambung Hujan lagi sambil mengusap punggung adik iparnya.


"Amiin, makasih ya kak. Udah jagain dan urusin mama selama ini"


"Sudah tugasku, kamu jangan khawatir." balas Hujan, sebagai menantu pertama tentu hal itu adalah kewajiban baginya. Berani mencintai anaknya tentu harus menerima orangtuanya.


Cahaya dan Hujan yang masih mengobrol, sesekali menoleh saat mendengar Embun tertawa. Anak gadis Rahardian itu memang sangat menempel dengan papAynya. Apapun mereka lakukan bersama karna Air memang sangat memanjakan Embun. Lain Embun, lain juga dengan adiknya. Si Ireng yang kini selalu mengikuti Rain pun selalu ada di dekatnya tak perduli jika barusan sempat sedikit di jahili oleh Rain.


.


.


.


.


Miong, map ya...


Miong Mahu emen Nda?

__ADS_1



__ADS_2