
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ya udah, kalau gitu dede yang nginep disini" tegasnya sebagai tanda protes.
"Cih, tidur sana di kolong kompor" cetus Cahaya sambil mencebikkan bibirnya kearah keponakan manjanya.
Keduanya memang jarang sekali akur sedari Sam masih bayi, Si Tutut yang begitu posesif pada gajahnya tentu menjadi sasaran empuk bagi si bangsu untuk terus menggoda.
Cahaya yang kebetulan menjadi anak perempuan satu-satunya tentu sangat di manjakan oleh Reza.
"Dede tidur sama Appa, Oey"
"Appanya tidur sama Onty, Oey" balas Cahaya tak mau kalah.
"Terus Abang tidur sama siapa?" tanya Langit menyelak perdebatan istri dan keponakannya itu, sedangkan yang lain hanya bisa menjadi penonton sambil menggeleng kepala.
"Sama Bubuy yuk" ajak Embun tiba-tiba sampai semua mata tertuju pada si gadis cantik.
Sam langsung membulatkan kedua matanya, tanduk kecil mulai perlahan keluar dari atas kepala.
"Boleh.. boleh" kekeh Langit sambil bertepuk tangan kecil.
"Gak! enak aja tidur sama anak perawan dede!" tolak nya dengan tegas, tak senyum sama sekali di wajah tampan Samudera.
.
.
.
__ADS_1
Cek lek
Sam masuk kedalam kamarnya setelah lewat tengah malam, ia benar-benar melepas rindu pada gajahnya dengan cara terus memeluk sambil menceritakan semua pekerjaannya selama di luar kota kemarin, Reza yang kini senang menjadi pendengar yang baik tentu sangat bahagia, bohong jika ia tak merindukan Tututnya juga.
"Appa udah tidur?" tanya Biru yang ternyata belum tidur. Ia baru saja mengganti diapers yang di kenakan Rain.
"Udah, tadi nunggu Appa tidur" jawabnya sambil merangkak naik ke atas kasur.
Niat hati akan menjemput Tuan dan Nyonya besar Rahardian malah mereka yang akhirnya menginap di kediaman Biantara.
"Pasti di usir papAy" ejek Biru yang di balas senyuman oleh Sam pertanda ucapan istrinya itu benar.
Air yang tahu jika putranya belum keluar dari kamar papanya langsung masuk dan meminta Sam untuk tidur di kamarnya sendiri. Jika sudah begitu ia bagai memarahi Sam kecil padahal yang ia marahi saat itu sudah memiliki dua anak kecil.
"Jangan ganggu, Appa. Bee"
"Sama aja!" Biru menyahut sambil berbaring, ia memposisikan tubuhnya senyaman mungkin karna hari ini cukup menguras tenaganya.
Embun yang memilih tidur dengan papAy dan MiMoynya, tentu hanya Rain yang kini terlelap bersama Sam juga Biru. Bayi laki-laki itu sampai mendengkur halus karna perutnya yang sudah sangat kenyang.
"Bee, kamu tidur?" bisik Sam pelan, tangannya tentu seperti cicak yang kini diam diam merayap.
"Hem.. mau apa?" sahut Biru dengan mata terpejam.
"Mau burbur nyembur" kekeh Sam, ia sampai menggigit bibir bawahnya agar tawanya tak berisik.
"Emang tadi gak main sendiri?" tanya Biru yang sebenarnya penasaran saat suaminya begitu la di kamar mandi.
"Emang aku bujangan!" cetus pria beranak dua itu.
__ADS_1
Mendengar pengakuan Sam, Biru tentu langsung membuka mata lentiknya yang tadi terpejam rapat
"Hayo.... dulu suka main main sama sabun ya" cibir Biru tertawa kecil dengan menutup mulutnya sendiri.
"Cih, enak aja!"
Sam yang mengelak langsung merangkak naik keatas tubuh istrinya, ia yang amat rindu tentu sedari siang sudah ingin menyentuh Biru.
"Nanti Rain bangun"
"Biarin amat, suruh nonton sekalian" jawab Sam yang tak lagi bisa menahan hasratnya.
Plak.
Satu pukulan mendarat sempurna di bahu Sam yang langsung meringis kesakitan.
Ia mulai menyesap lembut leher Biru sampai ada tanda merah disana. Tapi belum juga aksinya di mulai rengekan Rain kembali terdengar.
Miyuh Buum..
.
.
.
"Ya salam! gue jadiin bibit lagi ya nih anak!"
__ADS_1