Samudera Biru

Samudera Biru
Dapur Debat


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Moy, aku pipis" ucapnya pelan dan terbata.


Hujan yang mendengar meski samar samar langsung menoleh, mata nya pun kini terarah ke lantai sama seperti sang menantu.


"Bee.." pekik Hujan sambil mendekat.


"Moy, aku pipis"


Biru yang mau melangkah ditarik lagi oleh Hujan, ia meminta satu ART yang nampak ikut kaget untuk mengambilkan kursi.


"Kamu duduk, tunggu Moy panggil Sam dan papAy dulu, ok" pesannya pada Biru yang di jawab anggukan kepala.


Hujan memang bukan dokter kandungan tapi ia paham apa yang kini di alami Biru tentu itu wajar pada seorang ibu hamil karna ia pun pernah merasakannya. Hujan yang melangkah tergesa lebih dulu masuk ke kamarnya untuk memberi tahu sang Suami.


"Kak, kita ke rumah sakit sekarang" titah Biru pada Air yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ngapain?" tanya pria yang masih memakai handuk sebatas pinggang itu.


"Makan! ya periksa Birulah" oceh Hujan dengan kesal.


"Kan ada Dede, ngapain ngajak aku?" kata Air masih belum sadar kepanikan Hujan yang memang sudah biasa marah marah hampir setiap pagi.


"Biru mau lahiran!"


****

__ADS_1


Usai berdebat dengan suaminya, kini Hujan masuk kedalam kamar putranya. Ia membuang napas kasar saat melihat Sam ternyata masih mendengkur halus dengan bantal guling dalam pelukannya.


"De, bangun!" Hujan terus mengguncang bahu Samudera agar anaknya itu cepat membuka mata.


"Dede bangun gak? kalo masih tidur aja Moy siram nih ya!" ancam Hujan yang mulai kesal. Tak terasa sudah setahun ini ia tak melakukan hal tersebut pada putranya.


"Hem, apa sih!"


"Istri kamu mau lahiran! cepet bangun" Hujan tak hanya meninggikan nada bicaranya tapi ia juga terus menarik Sam agar lebih cepat sadar dari tidurnya.


"Istri siapa?" tanya Sam, kesadaran yang belum terkumpul semua membuat pria tampan itu hanya bergumam pelan.


"Biru istri siapa?"


"Dede" sahutnya cepat dengan mata langsung terbuka lebar.


"Di dapur!" jawab Hujan sambil berlalu keluar kamar meninggalkan Sam yang semakin bingung.


Sejak kapan orang bisa lahiran di dapur?


Semua anggota keluarga sudah berkumpul bersama Biru yang masih duduk di temani ART. tak raut panik diwajah cantiknya yang memang baru saja mandi pagi.


"Sabar ya, gak boleh takut" ucap Melisa.


Biru yang masih mencoba sedikit demi sedikit memakan buah apelnya hanya mengangguk paham, ia yang selalu di kelilingi orang orang baik dan penyayang bagai menambah rasa percaya dirinya jika ia akan mampu melewati proses persalinan dengan baik dan selamat.


"Mana? Bayinya mana?" tanya Sam yang baru datang dengan masih memakai piyama tidurnya.

__ADS_1


"Lahiran aja belom" sahut Reza.


"Kata Moy, Biru lahiran di dapur?"


Semua mata tertuju pada Hujan, ia menggelengkan kepalanya lalu dengan cepat menyentil dahi Samudera cukup keras sampai anaknya meringis sakit.


"Mana ada Moy bilang lahiran di dapur, dasar Patonah!" protes Hujan.


"Moy loh yang bilang!" ucap Sam lagi, keduanya terus saja saling menyalahkan dan membela diri masing-masing.


Melisa yang pusing akhirnya menarik tangan Biru untuk bangun dari duduknya. Dibantu oleh Reza kini ketiganya melangkah menuju pintu utama karna mobil sudah di siapkan oleh Air setelah ia mengabari pihak rumah sakit tentang kondisi menantunya saat ini agar team dokter dan perawat lebih cepat dan sigap melakukan persiapan.


.


.


.


.


.


Loh, Biru mana???


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sukur di tinggalin 🤣🤣🤣

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2