
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku ingin menginap disini" jawab Biru tetap tak menoleh.
"Bee, kita selesaikan dirumah. Ku mohon"
"Tak ada yang harus di selesaikan. Aku hanya ingin menginap, itu saja" sahut wanita bertubuh mungil itu lagi.
Sam lalu berbisik pada Embun agar mau membawa Rain masuk kedalam. Entah ada apa keduanya bagai paham apa yang terjadi dengan orang tua mereka.
Sam membiarkan istrinya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mengatakan banyak hal saat ini tak banyak menguntungkan baginya. Biru sedang tak baik baik saja dan ia paham akan hal itu.
"Bee, dia datang ke kantor. Memberiku kartu undangan pernikahannya. Dia meminta kita datang dan aku langsung menolaknya. Hanya itu, aku bersumpah. Tak ada yang terjadi antara aku dan Alisha"
"Jangan pernah sebut namanya" tegas Biru dengan penuh penekanan.
Sam membuang napas kasar, ingin ia menyentuh bahu Biru agar bisa berbalik arah padanya tapi entah kenapa tangan Sam mendadak berat untuk melakukan hal itu.
"Hujan"
Rintik air yang turun dari langit secara mendadak membuat Biru reflek menarik tangan Sam untuk masuk kedalam. Tanpa wanita itu sadar kedua tangan mereka saling menggenggam erat. Sam hanya tersenyum kecil, ia tahu semarah apapun Biru rasa khawatirnya jauh lebih besar.
__ADS_1
"Main hujan-hujanan seru juga ya, Bee" goda Sam. Ia tak mendapat jawaban karna hanya tatapan tajam yang ia berikan.
Biru melanjutkan langkahnya dengan perasaan kesal berlipat, sedangkan Sam masih menyunggingkan senyumnya.
"Kalian basah-basahan?" tanya Cahaya.
"Enggak, Onty. Cuma sedikit kok" sahut Biru yang merapihkan rambut panjang sepinggannya.
"Mandi sana, nanti sakit" timpal Hujan yang lalu menuntun Rain menuju tangga.
Kediaman Biantara memang tak kalah mewah dengan rumah utama. Bangunan turun menurun yang kini jatuh ke tangan Langit sebagai penerus berikutnya. Ada kamar masing-masing bagi mereka yang ingin menginap entah itu di lantai satu atau dua. Semua berjejer rapih baik hotel bintang lima.
"Kamu yakin mau nginep?" tanya Sam memastikan.
"Hem" sahut Biru yang hanya berdehem kecil.
"Sayang, tolong jangan acuh. Aku udah jelasin semuanya, kan" Sam akhirnya menarik tangan Biru. Ia cekal dengan lumayan kuat agar wanita halalnya itu mau berhadapan dengannya, belum apa-apa ia sudah sangat rindu dengan seulas senyum yang diberikan sang istri saat ia pulang dari kantor karna hanya dengan melihat itu saja semua beban yang berada di pundaknya seolah menguap entah kemana.
"Aku tak minta penjelasan!"
Biru menarik tangannya, ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan segera. Ia sadar dua anaknya pun perlu ia urus saat ini, jadi bukan saatnya untuk ia egois memikirkan sakit hatinya sendiri.
__ADS_1
Sam yang duduk di tepi ranjang melepas jas dan kemejanya sendiri hingga hanya celana yang tersisa. Perasaanya begitu tak tenang karna mereka jarang sekali bertengkar. Sam memang pernah berjanji untuk tidak menyebut nama sang mantan kekasih di hadapan istrinya, namun siapa sangka hari ini ia sudah melanggar hal itu.
Biru yang sudah keluar dari kamar mandi tak sedetikpun menoleh kearah suaminya. Sikapnya masih sama sampai Sam harus bangun dan terus mengekor di belakang langkah istrinya.
"Bisa diem gak? mandi sana! gak usah ikutin aku terus, ribet banget sih" omel Biru saat mereka saling berhadapan di depan lemari pakaian yang memang ada beberapa yang sengaja ditinggal.
.
.
Kalo aku gak ngikutin kamu, terus aku ikutin siapa?
Tukang Martabak!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tutut markentut..
kalo ngomong jangan sekata kata!
Mak othormu sekarang sedang menjelma menjadi Bumil yang celamitan.😣😣😣
__ADS_1