
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Samudera bergeliat kecil dari balik selimut yang menutupi tubuh polosnya. Bercinta sampai hampir tiga jam lamanya tentu membuat pria itu kelelahan akibat pelepasan luar biasanya.
"Pagi, Bee"
"Pagi, Sayang. Nambah boleh kali" goda Sam saat melihat istrinya baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk dari batas dada hingga setengah paha. Rambut basah Biru yang menyeruak kan wangi strawberry membuat jiwa akelelakian Sam seakan terpancing.
"Mandi sana! udah siang" titah Nona muda Rahardian pada suaminya yang malah duduk bersandar di punggung ranjang dengan senyum menggoda.
Sam meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas sisi ranjangnya. Ia mengecek beberapa email yang di kirim para asisten dan sekretarisnya.
"Hari ini sibuk banget, Bee?" tanya Biru saat ia melihat mata suaminya begitu fokus pada layar ponsel yang sedang di genggam.
"Hem, lumayan. Kenapa?" Sam balik bertanya. Namun, matanya tak menoleh kearah sang istri.
"Aku pengen... "
Sam menoleh saat Biru menggantung ucapannya, wanita cantik itu mengigit bibir bawahnya membuat Biru semakin terlihat sangat menggemaskan.
"Pengen apa? sini, mumpung aku belum pake baju" Sam menggoda dengan senyum seringai di ujung bibirnya.
"Bukan itu, aku mau kerumah teman sekolah Embun. Sudah dua kali dia mengajakku, tapi aku selalu menolaknya, Bee"
"Siapa? istrinya siapa?" tanya Sam, karna sebagian wali murid Embun adalah relasi bisnisnya.
"Hem, Bu Sonya. Suaminya seorang dokter Hewan" sahut Biru meski ragu karna ia tak pernah bertanya hal yang menurutnya privasi kecuali dirinya yang memang sudah di kenal sebagai menantu Rahardian.
"Perlu ku antar?"
"Enggak, biar aku kesana sama supir. Aku juga akan mengajak Rini"
__ADS_1
"Baiklah, kabari jika nanti berangkat" pesan Sam yang di balas anggukan kepala oleh istrinya.
.
.
.
Samudera yang mengantar Embun ke sekolah langsung melesat ke kantornya. Sedangkan Biru akan melakukan rutinitas seperti biasa di rumah hanya sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak dan suaminya.
"Moy, Bum mana?" tanya Biru pada ibu mertuanya yang sejak pagi sudah membawa sang cucu.
"Ada, gak mau mandi" sahut Hujan.
"Kebiasan banget sih! makin gede makin mirip Phiunya. Males mandi dengan berbagai alasan" oceh Biru yang kadang kesal dengan putra bungsunya tersebut.
"Keselnya Moy nurun ke kamu, dulu Moy yang marah-marah karna Sam juga begitu taunya kata Amma ya nurun dari papAynya." kekeh Hujan seolah bayangan sang Tutut terlintas kembali dimana ia dan dua mertuanya harus ekstra merayu Samudera untuk mandi pagi.
"Ya sudah, mungkin sama kamu dia mau mandi."
"Iya, Moy. Aku mau pergi juga kerumah temennya Embun" ucap Biru.
"Oh, ok. Asal hati-hati ya"
Biru mengangguk kan kepala, lalu bergegas ke arah Rain yang sedang bermain dengan si Ireng seperti biasa. Dua makhluk menggemaskan itu nampak sangat akur.
"Bum..."
Iyaaah, miyuuuuh...
"Mandi yuk, ganteng" ajak Biru sambil mengusap kepala anaknya.
__ADS_1
Nda, ninin Miyuuuuh..
"Eh, udah siang gini, masa iya dingin terus"
Iyaaaah...
"Mhiu mau pergi, mau ikut gak?"
Nah? ntut yaaaa.
"Mandi dulu dong, yuk"
Ndi, ecok ya....
"Eh, perginya sekarang loh" kata Biru semakin gemas karna Rain menimpali terus ucapannya.
Alang-alang?
"Iya, yuk mandi"
.
.
.
.
Andi, miong buweh?
__ADS_1