Samudera Biru

Samudera Biru
Rumah utama


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Khayangan yang baru datang tak beranjak sedetikpun dari sisi kakak iparnya yang terus menangis menggenggam ponselnya. Tak ada kabar sama sekali dari sang suami membuat wanita itu semakin kacau. Jangankan kecelakan di jalan, Sam yang jatuh dari sepedah saat kecil pun bisa membuat ia pingsan tak sadarkan diri.


Lain Khayangan, lain juga dengan Cahaya yang menggendong Rain dikamar keponakannya. Bocah itu terus rewel meski sudah di rayu sedemikian mungkin. Biru yang duduk lemas di sofa hanya bisa menoleh kearah putranya. Tangannya tak mampu untuk menggapai Rain yang masih saja terisak.


"Amma, minum dulu ya" ucap Ola yang kini ada di kamar Nyonya besar Rahardian bersama Senja.


Dua gadis itu kebingungan karna tatapan Melisa kosong dan sendu, tangisnya tak bersuara dan sudah jelas itu ada air mata penuh kekhawatiran.


Wanita baya itu melihat tangannya sendiri, tangan yang ia pakai untuk mengurus Samudera sejak ia lahir kedunia.


"Apa ada Kabar dari Abimu, La?" tanya Reza dari kursi dekat pintu kearah balkon kamarnya.


Aurora meraih ponsel di dalam tas yang tergeletak di sisinya.


"Gak ada, Appa" sahut Cucu ketiga Rahardian tersebut.


"Di Sensen juga gak ada, Pipih gak kabarin apapun" timpal Senja, gadis cantik tuan putri keturunan Biantara yang merangkap sebagai cucu bungsu Rahrdian. Jangan tanyakan manja dan kekayannya karna ia baru saja di hadiahi pulau pribadi oleh Cahaya dan Langit.


"Kemana mereka? tak satupun yang memberi kabar" gumam Reza yang sedari tadi memijit pelipisnya sendiri.


.


.

__ADS_1


Rain yang lelah akhirnya tertidur masih dalam dakapan Cahaya. Pusat pikiran Biru saat ini hanya pada suamiany bahkan Embun yang bertanya pun hanya di balas senyuman kecil yang di sertai derai air mata.


"Onty mau tidurin Rain dulu" ucap Cahaya yang bangun dari duduknya di sebelah Biru.


"Iya, Onty. Makasih banyak Onty Chaca udah mau bantuin Biru jagain Rain"


"Iya, Sayang. Kamu juga istirahat ya"


Biru hanya mengangguk dengan tangan masih mengusap kepala Embun yang terlelap di atas pahanya.


Cahaya yang kembali ke sofa, lalu menggendong Embun untuk di baringkan ke sebelah Rain di ranjang.


"Nanti, jangan lupa minta kartu ajaibnya Appa ya buat upah gendong kamu, kita shoping Ok, Bul" bisik Cahaya sambil terkekeh.


"Onty istirahat aja, aku masih nunggu kabar dari PapAy. Aku chat dan telepon tetep gak ada jawaban" ucap Biru yang semakin uring-uringan.


"Iya, Onty"


Cahaya pun mengelus bahu istri keponakannya, ia paham betul apa yang sedang di rasakan Biru saat ini.


Entah apa yang di lakukan Kak Ay, kak Bu dan Abang di rumah sakit, yang jelas perasaan aku gak enak banget!! Bathin Cahaya, saat ia keluar dari kamar Biru. Kini ia melangkah pelan menuju kamar orang tuanya.


Cek lek..


Anak dan keponakannya menoleh langsung ketika Cahaya membuka pintu. Disana juga ada Khayangan dan Hujan yang berkumpul di ranjang bersama Melisa.

__ADS_1


"Apa ada kabar, De?" tanya Reza lagi saat si bungsu berhambur ke pelukannya.


"Gak ada, Pah"


Semua membuang napas berat, sidah lewat tengah malam, tapi tak ada satupun pesan yang mereka dapat. Lalu apa yang terjadi sebenarnya di rumah sakit?.


.


.


.


.


.


Huaaaa.... udah dong cemongin muka kakak nya.


Ish, kalian jahat. Udahan ah main LUDO nya!!


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kalian pada ngapain?


Ampun!

__ADS_1


malah enak enak mainan 😳


__ADS_2