Samudera Biru

Samudera Biru
Berapa ya???


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Rumah utama...


Bangunan yang tak pernah berubah bentuk bahkan warna catnya sekalipun. Semua tetap sama tak ada yang berkurang atau berlebih, seluruhnya di jaga dengan baik bersama kenangan yang sudah terukir di dalamnya selama puluhan tahun.


"Cape Oey" keluh Samudera yang berada dalam pelukan Appanya. Ia benar-benar tak mau jauh karna takut Nyonya besar Biantara mengambil pria kesayangannya.


"Kapan balik lagi, belum beres semua?" tanya Reza sambil mengusap kepala cucu kesayangannya itu.


"Belum, Gala gak mau di cipratin kerjaan dede tuh Appa, omelin gih" adunya sambil mendelik ke arah sepupunya itu.


"Sorry ya, kerjaan aku banyak" sahut Gala dengan mencibir.


Plak..


Satu pukulan mendarat sempurna di paha pria tinggi besar bergelar Direktur di cabang perusahaan Rahardian Group, siapa lagi yang berani melakukan hal tersebut jika bukan istri tercinta.


"Apa sih, Ra?" protes Gala.


"Jahat banget gak mau bantuin kakak ganteng"


"Ish, mulai" cetus Gala yang langsung mode Cemburu tak jelas.


"Ara sebagai fans berat garis depan kakak ganteng gak Terima kalau kakak ganteng susah sendirian" balas Ara dengan nada kesal berapi api.

__ADS_1


Sam yang mendengar perdebatan pasangan suami istri itupun hanya tertawa geli, sedangkan yang lain hanya menjadi penonton begitu pun dengan Biru yang tak pernah ambil pusing meski Ara jelas terang terangan mengagumi suaminya.


"Dahlah berisik, mendingan kita makan" ucapan Hujan tentu mengalihkan fokus mereka.


Senja yang sedari tadi asik mengobrol dengan Ola pun ikut menoleh bahkan pindah turun ke karpet saat Hujan meletakan cemilan di atas meja.


"Senja bisa gak kalo ada makanan tuh paling belakangan?" cetus Awan, kembarannya.


"Gak bisa, kalau kamu gak mau ya diem gak usah banyak protes" balas senja yang acuh dengan cibiran Awan.


"Sudah, jangan bertengkar terus, ayo makan" titah Melisa yang mengusap punggung cucu laki-laki nya itu, Awan.


"Aku mau keluar sebentar, Amma" pamit Awan yang lalu memcium pipi Melisa sekilas.


Pria tampan itu berlalu kearah halaman belakang dengan mata fokus pada layar ponsel yang ia genggam.


"Harus di kawinin tuh" timpal Air dengan mulut penuh makanan yang di bawa istrinya tadi.


"Nah, calonnya masih di umpetin. Gak sama sekali mau di kenalin" jawab Langit yang selalu di buat pusing dengan sikap tertutup Awan.


"Nanti juga kalo udah ngebet pengen kawin di bawa cewenya" ucap Gala sambil terkekeh.


"Saking cakepnya sampe di umpetin" timpal Sam


Kini semua mata tertutup pada dua pria tersebut, seolah mereka tahu sesuatu tapi enggan untuk bicara. Sam dan Gala yang sadar mejadi pusat perhatian hanya tersenyum lebar sampai terlihat semua deretan giginya yang putih dan rapih.

__ADS_1


"Kalian tahu?" tanya Reza yang di jawab kompak gelengan kepala oleh kedua pria tersebut.


"Jangan di umpetin, nanti Onty cubit kalian berdua" ancam Cahaya.


"Emang Onty berani cubit dede depan Appa?" ledek Sam dengan kedua alis naik turun.


Tentu itu pilihan berat juga bagi Reza, ia tak mungkin memarahi si bungsu demi membela cucu laki-laki kesayangannya itu.


"Wah nantangin!"


"Udah diem, nanti abang yang akan di kasih siraman rohani sama papa tujuh hati delapan malam." cegah Langit saat istrinya ingin bangun dari duduk.


Bumi dan Khayangan masih asik melihat drama keluarganya jika sedang berkumpul, perdebatan yang sudah berlangsung puluhan tahun itu tak pernah berakhir.


"Bum kenapa? di makan dong kuenya" titah Biru pada Rain yang tumben hanya diam saja.


.


.


.


Ba' pa ya?


Banak banak ya..

__ADS_1


Papay Uwa uwa, onty uwa uwa.. angkel uwa uwa



__ADS_2