Samudera Biru

Samudera Biru
Soang Cium-cium.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Biru yang berniat menyekolahkan Rain di usia dini nyatanya sedikit di tentang oleh Samudera. Ia tak ingin putra kecilnya itu terlalu sibuk di luar rumah dan punya kegiatan yang padat di sekolah. Berbeda dengan Embun dulu, gadis cantiknya itu memang ingin sendiri dan atas kemauannya sendiri tak seperti Rain yang justru Biru lah yang bersemangat ingin menyekolahkan.


"Biarin dia puas main sama si Ireng, Bee"


"Ish, kasian loh aku. Nanti ngomongnya malah miong-miong" balas Biru yang malah menirukan suara kucing.


"Gak mungkin lah"


"Ya kali, kan mainnya sama si Ireng terus."


"Emang di rumah ini gak ada manusia? memang kamu gak pernah ajakin ngobrol Rain sampe punya pikiran begitu?" ucap Samudera tak habis pikir.


Biru yang inginnya di tolak tentu sedikit kesal, pasalnya ia sudah menemukan tempat sekolah yang cocok untuk Rain yang memang bukan tempat Embun bersekolah dulu.


"Kalau mau main ya main, aku selama ini gak pernah larang 'kan?" tambahnya lagi sambil menangkup wajah cantik namun masam istrinya.


Samudera tahu, Biru kini punya teman teman baru selain para ibu teman si sulung di sekolah. Ia tak lagi menarik diri dari dunia luar justru semakin berani untuk tampil sebagai Nyonya Rahardian Wijaya. Sam tak masalah akan hal itu asal saat ia pulang sang istri sudah ada dirumah dan yang paling penting masih bisa meluangkan waktu untuk keluarga kecil mereka.


"Gak gitu, Bee. Pengen punya kegiatan lain aja ih. Embun usah besar, kini giliran aku fokus pada Rain"


"Kamu harus fokus pada keduanya, jangan limpahkan semua kebutuhan Embun pada Rini, Paham?"


Biru pun akhirnya mengangguk, ia sadar harusnya memang tak se egois itu.


.


.


.

__ADS_1


Perdebatan selesai saat mendengar pintu kamar di ketuk, entah itu siapa karna tak ada suara panggilan dari luar.


"Biar ku buka"


Samudera berjalan kearah benda bercat putih tersebut, ia membukanya lalu tersenyum simpul.


"Sayangnya Phiu" ucap Samudera sambil mengambil alih Rain dari gendongan papAynya.


"Nangis, PAy?" tanya Samudera pada Air.


"Enggak, cuma tadi gangguin Embun terus"


Samudera pun membawa masuk Rain kedalam kamarnya setelah sang Tuan Besar Rahardian menghilang dari pandangan.


"Bum, gangguin kakak ya?"


...Ta buuuuuuuy, mahu ucil, nda ah....


"Apa?" tanya Biru.


Uciil


"Iya, kuncirnya kenapa?" timpal Sam.


Nda.. ah.


"Hem, aku paham. Bum mau Kakak di kuncir tapi kakak gak mau, iya?" tebak Biru memastikan


Miyuh itel yaaaa.


Sam langsung tertawa gemas, mana bisa putra bungsunya itu mengatakan sang Istri Pintar sambil bertepuk tangan karna bisa paham atas ucapan nya sebab mereka biasa akan lebih dulu bertanya pada Sang Gajah.

__ADS_1


"Ya udah main sama Mhiu ya, Phiu mau ke ruang kerja dulu sebentar" izin Sam sambil menyerahkan Rain pada Biru. Ada sedikit pekerjaan yang memang harus selesai malam ini juga.


Iyaaaah..


Dadah Piyuuuuuuh..


Ati- ati yaaaaaa


"Haha, iya ganteng. Jadi berasa Phiu mau perang aja" kekeh Sam sambil berlalu dan melambaikan tangan.


Biru mendudukan Rain di tengah karpet dengan berbagai mainannya. Ia usap kepala bocah menggemaskan itu sembari mengulang pertanyaan yang pernah ia lontarkan.


"Bum, mau ya sekolah kaya kakak Embun"


Nda..


"Kenapa?" tanya Biru.


.


.


.


.


Ntal, oang iyum-iyum Bum iiiiih...



Ya Allah Trauma dia 🀣🀣

__ADS_1


Ampe merengut ganteng gitu mentang-mentang sudah ternodaiπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2