Samudera Biru

Samudera Biru
Isi hati Biru.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Keduanya yang menangis bersama semalam sampai tak terasa akhirnya terelelap dan terbuai mimpi dengan posisi yang tak berubah yaitu Biru yang di peluk dari belakang oleh Sam.


Tapi, tangisan Rain membuat pasangan yang sedang di rundung sedih itu pun terjaga dari tidur nyenyak mereka.


"Bul..." gumam Biru, kepalanya begitu sakit karna sehabis menangis. Ia melirik kearah jam ternyata sudah pukul lima tiga puluh menit.


Sam yang hanya bergeliat kecil malah kembali terlelap. Tangannya mulai perlahan di singkirkan dari perut rata Biru.


Helaan napas berat di buang secara kasar oleh ibu dari Embun dan Rain yang kini sudah duduk di tepi ranjang, matanya begitu sembab dan merah.


Biru yang mendekati Rain hanya mengusap kepala bayinya yang masih menangis sedih kehausan.


"Mhiu cuci muka dulu ya, sebentar"


Di dalam kamar mandi, Biru membasuh wajahnya yang sangat berantakan berakali kali , ia tak ingin anggota keluarganya yang lain tahu apa yang sedang terjadi dalam rumah tangganya, cukup ia dan sang suami yang menyelesaikan semua hingga beres meski Biru sendiri tak tahu kapan hatinya akan kembali luluh.

__ADS_1


.


.


Rain yang sudah kenyang menyusu kini tinggal mandi bersamanya sebelum Embun datang ke kamar mengajak sang adik bermain. Dan benar saja baru saja Biru beranjak bangun gadis kecilnya sudah mengetuk pintu kamar dengan sedikit keras, langkah kaki Biru pun kini harus menuju pintu kamar lebih dulu.


Ceklek.


"Mhiu, Bubuy nda syekolah kan?" tanyanya saat pintu sudah di buka.


"Ok, terima kasih"


Rain yang ada di gendongan Biru pun meronta saat melihat Embun, tangannya tak mau diam berusaha menggapai rambut kakaknya yang masih sedikit berantakan.


"Yuk, masuk yuk. Kita mandi sama sama ya" ajak Biru pada kedua anaknya.


Wanita dua puluh tiga tahun itu sangat cekatan mengurus Embun dan Rain secara bersama, itulah yang membuat Sam begitu bangga padanya terutama sang mertua yang tak pernah merasakan hal tersebut.

__ADS_1


"Udah cantik udah wangi, kita turun ke bawah ya buat sarapan" ucap Biru setelah selesai menguncir dua rambut Embun.


"Phiu nda bangun?"


"Phiu masih capek, nanti kalau udah bangun pasti akan menyusul ke bawah" jawab Biru pada putrinya yang di balas anggukan kepala tanda paham.


*****


Biru yang datang bersama kedua anaknya saja keruang makan tentu langsung mendapat pertanyaan tentang keberadaan suaminya, Biru menjawab dengan jujur jika Sam memang masih terlelap. Namun, mata yang merah dan suara yang serak ditambah wajah yang masih terlihat sedikit berantakan membuat empat orang yang ada di dekat Biru saling pandang mencari tau apa yang terjadi antara Samudera dan Biru karna baru kali ini mereka semua melihat sang menantu jelas berbeda seperti habis menangis lama.


Sarapan pagi kali ini di lewati tanpa sang putra mahkota, ia yang lelah benar-benar belum bangun dari tidurnya sampai sang istri kembali ke kamar mereka.


Biru duduk di tepi ranjang, matanya menatap sendu laki-laki yang kini sedang mendengkur halus, laki-laki yang sudah menikahinya sebanyak dua kali siri dan sah, laki-laki yang tak pernah mengeluh lelah saat pulang bekerja dan laki-laki yang selalu memberinya rasa aman nyaman selama menyandang status Istri.


Kamu tak tahu betapa takutnya aku jika saja dia kembali datang untuk kedua kalinya, aku tahu jika dia cinta pertamamu, Bee. dia mendampingimu lebih lama dari ku. Jika dulu saja dia begitu cantik aku yakin kini ia semakin cantik, kan? sampai kamu mau saja saat ia menyentuhmu. Aku yang salah, aku yang hadir dalam hubungan kalian yang sudah sangat serius, masihkah dia ada di hatimu? apa kamu menjadikannya kenangan terindah dalam hidupmu, Bee. Sesakit ini ternyata cemburu, aku begitu cemburu saat namanya lolos begitu saja dari bibirmu. Aku... aku mencintaimu!!


__ADS_1


__ADS_2