Samudera Biru

Samudera Biru
Intip


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Jangan marah saat ada perempuan lain mendekati suamimu. Bersyukur lah karna kamu yang ada di sisiNya saat ini, sampai mereka juga ingin mendapat kan apa yang kamu miliki.


Jika suamimu cerdas, tentu ia tak akan berpaling dan rela menukar berlian dengan batu yang akan membuatnya tersandung." ucap Hujan sambil terus mengusap punggung sang menantu, sedangkan Cahaya yang tak paham hanya bisa menatap dua wanita di dekatnya itu secara bergantian.


"Ada apa? Tutut kenapa? selingkuh?" selidik nyonya besar Biantara.


Kedua mata Biru dan Hujan memicing berbarengan pada anak kesayangan Reza tersebut. Cahaya yang merasa bingung hanya bisa tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya udah, yuk sarapan. Habis ini kita pulang" ajak Hujan sambil bangun dari duduknya.


"Kok pulang" protes Cahaya.


"Iya, kasihan mama sama papa" jawab Hujan sambil berlalu meninggalkan adik dan menantunya.


"Ikuuuut"


.


.


Kini semua sudah berkumpul di ruang makan, perbincangan lebih dominan pada Air dan Langit sedangkan yang lain hanya sesekali menimpali termasuk Sam yang tak lepas menatap istrinya yang sibuk menyuapi Rain, bocah itu sedikit rewel karna sempat di ganggu oleh Embun.


"Kita pulang sekarang ya" kata Air setelah di rasa semua sudah selesai mengisi perut.


"Kamu mau kantor kan, de?"


"Enggak, mau pulang. Sakit kepala" jawab Sam saat papAynya bertanya.

__ADS_1


Semua bangun dari duduknya lalu berpamitan pada pemilik rumah Biantara tapi saat mereka ingin masuk kedalam mobil masing-masing, Cahaya justru ikut masuk kedalam kendaraan yang kakaknya naiki, Langit yang melihat kelakuan istrinya itu pun hanya bisa menepuk keningnya sendiri.


.


.


.


.


Sampai di rumah utama Embun dan Rain langsung di ambil alih oleh Air dan Hujan. Mereka membiarkan anak dan menantunya itu menyelesaikan masalahnya jangan sampai berlarut-larut.


"Tuhan tuh adil ya, Moy" bisik Air sambil menciumi telinga istrinya.


"Kenapa?"


"Itu namanya Biru cinta, Kak"


"Berarti kamu gak cinta dong?" tanya Air mulai panik.


"Kepaksa kalo aku sih!"


Air yang merengut kesal langsung di cium oleh Hujan pipinya secara sekilas dan kejadian itu malah mengundang gelak tawa Embun yang tak sengaja melihatnya. Rain yang bermain dengan si Ireng mulai mengeluarkan aksi jahilnya. Kucing berbulu hitam keabuan itu di paksa untuk memakan pisang yang belum di buka kulitnya.


Mam miong, apel nda?


"Bum, kucing gak suka pisang. Kucing suka ikan" kata Embun yang langsung menarik si Ireng yang sedari tadi meronta. Embun takut adiknya kena cakar atau juga gigitan.


Itan apa?

__ADS_1


"Ikan apa aja, tapi yang jelas Kucing gak suka pisang atau buah yang lain. Bum jangan kasih lagi ya" Embun mengulang penjelasannya yang kali ini di jawab anggukan kepala oleh Rain.


Iyaaah..


Bocah tampan itu pun langsung berlari kearah Mimoy dan papAy nya. Dengan sedikit merengek Rain terus menanyakan keberadaan Biru.


Miyuh Bum, na?


Ayu.... Miyuuh...


"Mhiu nya lagi sama phiu dulu ya, nanti kalau sudah selesai pasti keluar dari kamar" sahut Hujan sambil mengelus kepala Cucunya.


Miyuh amang?


"Iya, Mhiu di kamar" timpal Air.


Rain yang tak lagi merengek kembali menghampiri si Ireng, ia bawa kucing kesayangannya menuju kamar orangtuanya.


.


.


.


.


Iyat Nda Miyuh Bum?


__ADS_1


__ADS_2