
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.
Usai makan malam hanya ada Reza dan Sam di rumah tengah karna yang lain sudah masuk kedalam kamar masing-masing. Air dan Hujan memang baru pulang dari luar kota sore tadi tampak begitu lelah sedangkan Melisa mengajak Embun ke kamarnya untuk menyiapkan barang barang yang akan di bawa ke rumah Aurora, putri dari Bumi dan Kahyangan.
"Mahu mana? banak banak banet?" tanya Embun saat melihat Amma nya memasukkan beberapa baju dan mantel.
"Mau kerumah Onty Ola, Bul-Bul disini gak ada Amma gak boleh nakal ya" pesan si Nyonya besar Rahardian Wijaya.
"Bubuy nda akal, Bubuy tantik taya puteli" jawab Embun dengan boneka kelinci dalam dekapannya.
"Iya, cicit Amma memang cantik lebih dari Puteri karna Bul-Bul ratunya disini" balas Melisa sambil mencium pucuk kepala.
Embun terus memperhatikan apa yang di lakukan Melisa. Niat awal hanya dua hari tapi entah apa yang akan terjadi, jika Sam tak merengek meminta gajahnya pulang mungkin mereka akan lebih dari waktu yang di tentukan tapi bila si Tutut mulai rewel akan ada dua kemungkinan antara Gajahnya yang pulang atau Tututnya yang datang dan ikut menginap. Kadang itulah yang membuat para sepupunya kesal dan ingin mengirim Samudera ke Antartika.
"Udah malem, bobo sama Amma yuk" ajak Melisa karna Embun sudah berguling di tengah ranjangnya. Ia sengaja membawa gadis cantik itu ke kamarnya agar tak mengganggu istirahat Hujan.
"Bubuy ambil jajah emping dulu ya" ucapnya sambil bangun dan turun dari tempat tidur. Tubuh mungilnya kini berlari keluar kamar menuju kamar orangtuanya. Di umur yang hampir empat tahun sang Ratu masih tidur dengan siapapun sesuka hatinya meski memiliki kamar sendiri yang super cantik secantik dirinya.
Tok... tok.. tok..
"Mhiu, Bubuy macuk ya" izinnya lebih dulu di depan pintu
Cek lek.
Mata bulatnya langsung menangkap sosok sang ibu yang duduk di sofa dengan kedua tangan menutup wajah cantik yang kini berpipi gembil.
"Mhiu apa?" tanya Embun.
__ADS_1
"Eh, gak apa-apa sayang. Bul-Bul mau bobo ya" ucap Biru sambil buru buru menghapus air matanya.
"Nda, Bubuy ambi jajah emping. Bubuy bobo Amma dede ya"
"Oh, ok. Bobo ya cantik jangan rewel" pesan Biru untuk putri tercintanya.
Embun keluar lagi dari kamar setelah mendapat banyak ciuman dari Mhiu nya bahkan air mata Biru sampai menempel diwajah Embun juga saat bersentuhan.
Langkah kaki mungilnya malah turun ke lantai bawah usai melempar si gajah pink ke sofa single dekat tangga. Ia sedikit berlari hanya untuk mencari phiunya yang ia tahu ada bersama Appa dede.
.
.
" Phiu apa? nanis nanis taya Mhiu" ucapnya yang langsung membuat Sam mengurai pelukan.
"Iya, Mhiu nanis, muta na tutup tutup nanan."
Braaaak...
"Bee, kamu kenapa sayang?" tanya Sam panikdan khawatir yang langsung duduk juga disisi istrinya.
"kalian Jahat!" jawab Biru sambil melempar ponsel Sam yang memang ditinggal di kamar.
"Jahat? siapa?" tanya Sam lagi tak paham dengan ponsel ditangannya.
"Kalau udah ada istri dan anak kenapa harus selingkuh sih, Bee? apa di otak laki-laki itu semua isinya cuma perempuan dan gak puas dengan satu perempuan?!"
__ADS_1
Sam langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaaan sang istri yang tanpa ia sadar malah membuat Biru semakin histeris.
"Perempuan mana lagi yang ada di kepalamu, Bee?" tanya Biru yang langsung merampas ponsel Sam dan melemparnya ke dada.
"Amma, Moy, Mhiu, Bul-Bul. Kalian empat perempuan yang ada di kepalaku." Jawab Sam jujur apa adanya.
"Terus?"
"Terus apa sih? Kamu kenapa marah marah sambil nangis begini?" tanya Sam yang mulai Frustasi kesal dan gemas pada pemilik hatinya.
"Terus kenapa selingkuh?"
"Siapa yang selingkuh? aku mana selingkuh!"
"Ini kenapa selingkuh, padahal udah punya istri dan tiga anak!" jawab Biru sesegukan karna tangisnya semakin keras.
Sam yang masih tak paham akhirnya meraih ponselnya dan melihat apa yang terjadi sebenarnya sampai sang istri sebegitu sedihnya.
"Ini maksud kamu?"
"Iya!" sahut Biru dengan wajah penuh air mata.
.
.
Huft... korban Leeminho.
__ADS_1