
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain yang baru saja bangun dari tidur siangnya, kini sudah asik bermain dengan Embun usai di susui. Balita bergigi dua di bagian bawah itu begitu aktif berjalan meski sedikit sedikit masih merangkak jika ingin mengambil sesuatu, ia yang belum sepenuhnya tidur terpisah tapi sudah mulai di biasakan menempati kamarnya sendiri. Kamar yang cukup luas untuk ukuran bayi lima belas bulan yang super posesif pada Mhiu nya.
"Boneka Gajahnya mainin ya" pinta Embun.
Nda.
"Ih, Bumbum gak pinjemin Gajah"
Biru yang bersama mereka mulai mendekat dan memberi pengertian karna jika tidak begitu, tentu n kedua buah hatinya pasti akan menangis tak mau kalah.
"Ambil Gajah pink Bul-Bul aja ya, Mhiu yang ambil"
"Pinjem punya Bum-Bum aja, itu kan ada deket jerapah" pintanya lagi.
"Kan Appa udah belii satu-satu jadi gak boleh rebutan karna sudah punya masing-masing. Embun Gajah pink dan Rain Gajah abu-abu, paham?"
Embun menganggukkan kepalanya, ia memang lebih suka boneka Gajah milik adiknya karna sama dengan milik Phiunya tak seperti miliknya yang memang berwarna merah muda. Tapi apa boleh buat, jika Mhiunya sudah berkata seperti itu.
"Nanti pinjem nya pas Bum-Bum bobo aja ya"
"Iya, Sayang"
Nda bubu.
Suara sahutan dari Rain membuat dua wanita yang paling berharga dalam hidup Sam itu menoleh.
"Bum-Bum denger ya kita ngomong"
__ADS_1
Yah...
"Anak pintar, sini Sayang" Biru yang duduk bersama putrinya melambaikan tangan kearah sang putra.
Rain yang berjalan mendekat langsung di peluk dan di cium oleh Biru dan Embun.
"Gantengnya siapa sih?" tanya Keduanya.
Phiyuuuh
*****
Biru dan Sam yang kebetulan ada acara diluar hanya membawa Embun dan meningggalkan Rain. Bayi laki-laki itu terpksa tinggal dengan Rini namun masih dalam pengawasan Reza juga Melisa.
Rain yang tak tahu jika orangtua dah kakaknya pergi hanya berputar-putar kamar kebingungan seperti mencari sesuatu.
Phiu nah?
Wajah kebingungan Rain semakin mejadi saat Melisa menyodorkan nya botol susu.
Ndah, nyenyeh Mhiu
Penolakan yang Rain berikan membuat pasangan Baya itu kebingungan pasalnya malam juga sudah semakin larut.
"Mas, coba telepon dede. Bum-Bum nanyain terus" titah Melisa pada suaminya.
"Iya, Ra." jawab Reza sambil meraih ponsel di atas nakas, pria baya yang kini tak lepas dari kaca mata itupun langsung mencari kontak cicit kesayangannya.
"Hallo, De" sapa Reza saat panggilan tersambung.
__ADS_1
"Iya, Appa. Kenapa?" sahut Sam di sebrang sana.
"Masih lama? Bum-Bum mencari kalian"
"Iya, Appa. Lima belas menit lagi kami sampai" jawab Sam.
"Baiklah, tapi harus tetap hati hati ya"
Telepon pun di akhiri, Reza mendekat lagi kearah Rain kemudian memangkunya sembari di dekap hangat. Entah apa yang di bisikkan oleh sang Gajah karna tak sampai lima menit, si bayi hasil Tutut menggarap sawah itu pun langsung terbuai mimpi.
Rain yang di baringkan secara perlahan itupun berharap untuk tak bangun kembali sampai suara pintu terbuka membuat Reza dan Melisa akhirnya menoleh..
"Tidur?" tanya Biru saat masuk kedalam kamar Rain.
"Iya, gak mau nyusu loh pas tadi di sodorin botol, sedikit rewel kayanya tahu kalian gak ada" jawab Melisa sambil mengusap kepala cicitnya.
.
.
.
Appa, kenapa di tidurin di Gajah dede sih?!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ish... masih aja rebutan si lepek super bau 🤣.
like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1