
🍁🍁🍁🍁🍁🙊
"Moy kapan pulang, udah dua minggu gak pulang-pulang jangan bilang lupa jalan pulang" protes Sam pada Hujan lewat sambungan telepon, wanita baya itu hanya tertawa mendengar ocehan putranya yang sehari bisa berkali kali menelepon memintanya segera kembali.
"Iya, Nanti moy pulang de"
"Tapi kapan, papAy aja yang ditinggal tapi Moy pulang" pintanya lagi sudah dengan mata berkaca-kaca.
Sam memang tak pernah di tinggal selama dan sejauh ini, meski ia dekat dengan Appa dan Ammanya bukan berarti ia tak punya rasa rindu untuk wanita yang sudah berjuang melahirkannya.
Apalgi untuk papAynya, selama mereka pergi Sam tak ada teman berdebat dan saling bertukar ejekan saat sarapan atau makan malam.
"Iya, lusa kita pulang" jawab Hujan, ia juga merasa sangat kasihan pada putranya yang tak kuasa lagi menahan rindu.
"Dede tunggu loh, awas kalau bohong lusa gak pulang!"
"Gak! pAy sama Moy gak pulang. Masih seneng gesek gesek disini" timpal Air yang merebut ponsel dari istrinya.
Hujan langsung mencubit dada polos sang suami yang memang tak memakai apapun karna keduanya memang baru saja selesai melakukan hal yang menyenangkan di tengah hari waktu setempat.
"PapAy gak usah pulang!"
__ADS_1
Air dah Hujan semakin tertawa, mereka sudah bisa membayangkan bagaimana imutnya sang tutut Jajah jika sedang merajuk.
.
.
*****
"Kasihan, kak. Lusa pulang ya. Aku kangen Bul-Bul sama Bum-Bum, kayanya gak puas walau setiap hari video call tapi tetep gak bisa gendong dan peluk" pinta Hujan yang memang liburan kali ini sudah sangat cukup baginya.
"Biarin aja, paling juga nangis nangis peluk Gajah" sahut Air yang mengeratkan pelukannya pada Hujan, seorang wanita hebat yang mau bertahan dan berjuang bersamanya. Tak pernah menoleh dan mengungkit masa lalunya sama sekali.
"Tututnya nangis bareng gajah, tapi buayanya disini enak-enak an ya, main basah basahan terus" ledek Hujan yang membuat Air tertawa kecil.
"Selama ini kita bersama, apa cintamu masih sama, kak?" tanya Hujan yang kini berbaring menghadap Air yang langsung menggeleng kan kepala.
"Enggaklah, beda" jawabnya cepat dengan senyum seringai di ujung bibirnya.
"Ish, kamu tuh! gak apa-apa deh sedikit bohong yang penting aku gak marah. Jangan bilang kalau kamu bosen sama aku" ucap Hujan mulai sedikit kesal.
"Emang siapa yang bilang kalau aku bosen? aku belum selesai ngomong udah cubit cubit" protes Air yang malah menggigit kecil telinga istrinya sampai Hujan harus terlonjak kaget dengan serangan dadakan yang di terimanya.
__ADS_1
"Selama kita bersama tentu perasaan ku berbeda setiap waktu. Saat aku melihatmu jujur semua terasa biasa malah cenderung kesal karna kamu menabrakku waktu itu, tapi saat aku tahu nama dan seringnya bertemu dengannmu aku mulai suka, sampai akhirnya kita dekat dan aku pun sayang, Setelah pernikahan muda kita cinta itupun perlahan datang meski harus bertahun-tahun aku pendam dan tak berani ku ungkapkan" jelas Air, jika ia ingat betapa beratnya perjalanan cinta keduanya selama tiga puluh lima tahun bersama.
"Kamu akan selalu jadi Bayi buaya cengeng ku" balas Hujan.
"Dan kamu, tetap jadi Jan Hujan deres ku yang takut petir" kekeh Air menimpali.
"Apa kamu tahu, jika aku selalu memanjatkan doa yang sama dari awal kita bertemu sampai hari ini" sambung Air lagi.
"Engga, memang apa doa mu?" tanya Hujan.
.
.
.
Aku berdoa untuk selalu tidur dengan wanita yang sama, menggenggam tangan yang sama, mencintai orang yang sama dan memeluk tubuh yang sama.
Aku tak butuh yang lain meski aku harus menukar dunia denganmu.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Lagi kangen uwunya mereka 🙄🙄🤧
Like komennya yuk ramaikan.