Samudera Biru

Samudera Biru
Gelantungan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Appa! tolongin dede, ada yang Ehem ehem tapi gak berwujud" gumam Sam yang masih memeluk Pohon, kedua matanya yang tertutup kini terbuka saat ujung kaosnya di tarik oleh Embun.


"Phiu, kenapa?"


"Hah?! loh mana dia?" Sam loncat lalu mengedarkan pandangannya.


"Phiu cali sapa?"


Sam hanya menggeleng kan kepala, ia gendong putrinya lalu masuk kedalam rumah sang mertua.


Embun yang tak tahu apa-apa hanya menurut dan tak lagi banyak bertanya apalagi saat melihat raut wajah Phiu nya yang sedikit panik.


.


.


Rumah yang dulu sangat sederhana kini berubah menjadi bangunan yang lumayan mewah dan kokoh. Ada dua kamar tidur dibawah untuk ibu bapak dan satu lagi untuk Khansa yang kadang pulang dari ibu kota. Sedangkan di lantai atas ada tiga kamar, tapi hanya satu yang dipakai untuk Biru dan Sam karna yang dua milik Embun juga Rain jika besar nanti mungkin akan menginap disini.


Cek lek.


Masuknya Sam kedalam kamar setelah menaiki tangga langsung di sambut dengan tangis kencang Bum-Bum. Ia yang mengantuk dan lelah malah justru mengamuk sambil berguling di ranjang.


"Kenapa, Bee?" tanya Sam sembari mendekat kearah ranjang.


Ndaaaaaa....


"Aku mau gantiin bajunya, kan tadi ketumpahan air pas di mobil tapi gak mau, malah ngamuk gak mau pake baju" jelas Biru tentang tangisnya putra mereka yang kini tanpa apapun.


"Udah biarin, tar cape juga tidur"

__ADS_1


"Tapi kasian klo gak pake baju, Bee" ucap Biru yang di tangannya ada satu stel piyama berwarna putih.


"Aku juga sering tidur gak pake baju, kamu kasihan gak?" goda Sam yang wajahnya langsung di jauh kan dari dari hadapan Biru.


Mesum..


******


Keadaan rumah yang sepi membuat Biru sedikit bingung tentang kemana orangtuanya. Padahal ia sudah memberi kabar jika akan datang, perihal ia bisa masuk rumah tentu karna Biru memiliki kunci cadangannya.


Biru berdiri di depan teras dan berniat untuk bertanya pada tetangga samping rumah yang lumayan jaraknya.


Namun, baru lima langkah ia berjalan suara motor terdengar semakin dekat di telinganya.


"Ibu, bapak" sapa Biru saat orangtua angkatnya itu turun dari motor.


"Maaf, ibu pergi lama ya"


"Engga apa-apa, Biru cuma sedikit khawatir aja"


"Mamang, kenapa?" tanya Biru.


"Tadi kecelakaan, jatuh dari atas pohon kelapa sekarang kakinya patah" jelas Ibu.


"Sudah di bawa kerumah sakit?" tanya Biru lagi semakin penasaran.


"Sudah, tadi juga ibu jenguk di rumah. Anak dan suamimu mana?"


"Ada di kamar, mungkin tidur karna Rain habis nangis"


Baru saja Biru selesai bicara, Sam datang menggendong Rain yang sudah bangun padahal ia baru saja ingin terlelap. Sam menyapa dan mencium punggung tangan wanita baik yang sudah memaafkan khilaf nya dan juga sudah mengikhlaskan dua anaknya demi dirinya.

__ADS_1


"Embun mana?"


"Tadi sama bapak, ketemu di ruang tengah" jawab Sam.


"Aku mau tidur ya, Bee" sambung Sam lagi sambil menguap.


"Iya, nanti aku bangunkan saat makan malam"


Biru mengambil alih Rain dari gendongan suaminya, Ia susui anak tampannya yang sudah di pakai kan baju oleh Sam sebelum keluar dari kamar.


"Udah belum, Mhiu mau masak loh" ucap Biru saat Rain belum juga melepas sesapannya.


Acak apa


"Sayur bayem, biar Bumbum sehat ya"


Iyaaaa...


Biru menciumi wajah putranya lalu bangun dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan Rain, ia dudukan tubuh kecil putranya di sana sampai bersih.


"Bi, tolong ambilkan wortel di kulkas" titah Ibu tanpa menoleh lagi yang sedang berdiri membelakangi nya di depan meja kompor.


"Iya, Bu"


Biru yang teledor meninggal kan Rain di wastafel dan akhirnya ia menjerit karna kaget saat melihat anaknya bergelantungan.


.


.


.

__ADS_1


Buuuum! jatoh kamu ih..



__ADS_2