
ððððððð
Acara yang dinanti pun tiba, kini semua anggota keluarga sudah berkumpul di lantai bawah sedang meng Aamiin kan beberapa ustadz yang di panggil Reza dan Melisa untuk melantunkan doa agar Biru dan si cabang bayi bisa sehat dan semua berjalan lancar serta selamat sampai harinya tiba.
Biru yang duduk di apit oleh Sam juga Hujan terus menitikan air mata terharunya, sesekali ia melirik kearah ibu juga bapak yang sudah datang sedari kemarin begitupun dengan Khansa, wanita yang beberapa bulan lalu menumpang di apartemennya bersama sang suami.
Doa penutup selesai di ucapkan, kini saatnya semua tamu undangan menikmati sajian yang ada. Semua berhambur menjadi satu tanpa ada yang di bedakan ruangan dan juga makanannya.
Ibu ibu dan bapak bapak pengajian, para yatim piatu, rekan bisnis serta beberapa pejabat bersatu di lantai bawah untuk makan dan minum sajian yang terhampar berlimpah ruah.
"Kamu mau apa? biar ku ambilkan" tawar Sam saat membantu Biru bangun dari duduknya.
"Aku mau kue yang warna merah itu, kayanya enak banget. Dapet di bawain dari Maminya onty Chaca kayanya deh"
"Ya udah, kamu tunggu disana ya"
Sam menuntun istrinya ke sofa single yang memang di khususkan untuknya duduk agar lebih nyaman. Pria tinggi putih berbalut baju hijau olive itupun langsung melangkah ke meja kue yang di tunjuk oleh Biru.
"Aw...!" pekik seorang gadis berhijab putih saat pipinya di cubit sesorang, siapa lagi kalau bukan kakak sepupunya yang jahil namun penyayang.
"Mulai isengnya! kan sakit, kak'De." oceh Aurora yang Sam panggil dengan sebutan Ola
"Kangen, lima hari gak ketemu" kekeh Sam yang malah mencubit kedua pipi si cantik solehah itu lagi.
"Temenin kak Biru sana, dari pada gabung sama emak emak rempong ini" sindir Sam Sambil menunjuk kearah Cahaya dan Ameera bergantian.
__ADS_1
"Wah si turut cari perkara" cetus dia bungsu Rahardian.
"Ayo balapan!" tantang Sam pada Cahaya yang mencibirkan bibirnya.
"Ayo!" sahut Cahaya sambil mengangkat sedikit gamisnya sebatas betis.
Satu... dua.. tiga...
.
.
.
"Aduh!" pekik Reza yang kaget saat ia di peluk secara bersamaan oleh Samudera dan Cahaya. Dua kesayangannya yang sampai detik ini tak pernah akur.
"Kita cuma beda dua detik. Gak usah sombong" sahut Cahaya tak mau kalah. Lahirnya Samudera telah menggeser posisinya sebagai satu satunya tuan putri Rahardian Wijaya, tapi Cahaya tentu sangat menyayangi keponakannya itu. Pertengkaran mereka hanya sebatas soal meributkan Reza saja.
"Kalian itu apa-apa an sih!? malu sama papinya tuh dek" ledek Reza di hadapan sang besan, Adam Biantara.
"Aku kalo peluk papi nanti di cubit sama Mami loh" jawabnya sambil terkekeh.
"Ya udah peluk Abang aja sini. Hak milik kamu satusatunya dari bayi sampe punya bayi dan bayi lagi"
Langit yang tiba-tiba datang langsung menarik tubuh istrinya yang masih nampak begitu cantik seperti sejak pertama kali ia di lahirkan dulu.
__ADS_1
Reza dan Adam hanya bisa tersenyum simpul, kebahagiaan orang tua adalah melihat anak dan menantu mereka hidup rukun dan akur dalam berumah tangga.
"Ini lagi, kenapa masih peluk peluk Appa aja" kata Reza saat cucunya itu masih mendekap hangat tubuhnya
.
.
.
.
.
Ya ampun! dede kan mau ambil kue buat Biru...
ððððððððð
Keluarga SEMPURNA ðĪðĪ
bayangin mereka aki aki Sama nini nini.
kalo di itung umur udah ngakak duluan ðĪŠðĪŠ
Sehat-sehat ya kalian..
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan.