
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Sempol ayam?" tanya Sam.
"Iya, pokonya enak. Selama nikah sama kamu aku tuh tersiksa gak bisa jajan kaya gitu" oceh nya sambil menarik tangan Sang suami ke lantai bawah lagi.
Sam yang pasrah akhirnya hanya ikut dengan tangan saling menggenggam, tanpa berganti baju keduanya pun pergi ketempat dimana Biru pernah melihatnya.
"Kamu yakin disana ada?"
"Iya, aku mau beli tapi takut di omelin Mimoy," sahutnya saat Sam dan Biru sudah berada di dalam mobil.
"MiMoy gak mungkin ngomel kalo gak ada alesannya, Bee"
"Moy, setiap pagi telepon aku buat gak lupa makan makanan sehat, banyak sayur buah juga daging, Bee. "
"Oh, iya susu sama vitamin juga" adunya pada Sang suami.
"Biar sehat dan kuat, sayang" timpal Sam sambil terkekeh.
"Bukan!"
"Terus biar apa dong?" tanya Sam dengan dahi mengkerut dan menoleh kearah istrinya.
"Biar cepet kasih Moy juga papAy cucu!" ucap Biru dengan polos, tak ada beban yang terlihat di wajah cantiknya terlebih tak sekalipun keduanya membahas masalah anak.
Satu bulan ini Sam dan Biru begitu menikmati hari harinya sebagai pengantin baru. Dapur sumur dan kasur hanya tiga tempat itu yang selalu mereka datangi setiap ada waktu senggang. Bermain tanpa kenal lelah dari malam hingga menjelang pagi.
.
.
__ADS_1
.
"Berhubung ini aku yang teraktir, aku beliin kaku lima sedangkan aku sepuluh ya" ujar Biru sebelum turun dari mobil yang kini sudah terparkir di depan sekolah dasar pinggir kota.
"Kok aku sedikit, kamu malah yang banyak sih?" protes Sam
tentang pembagian yang menurutnya tak adil.
"Takutnya kamu gak suka, lagian uangku gak banyak" jawabnya sambil keluar sendiri meninggalkan suaminya yang menggelengkan kepala karna merasa kesal bercampur gemas.
Lima menit menunggu, akhirnya Biru datang lagi dengan dua plastik di tangannya. Satu bungkus ia berikan pada Sam yang berisikan lima tusuk sempol ayam, sedangkan yang satunya yang lebih banyak ia nikmati sendiri.
"Perasaan kamu tuh seneng banget ya sama model jajanan begini, Bulet lonjong di tusuk sama bambu" ucap Sam sambil merasakan satu gigitan kecil sempol ayam.
"Udah gitu makannya di jilat jilat dulu lagi, bikin aku ngilu ngilu pengen juga di gituin!" sambungnya lagi dengan nada menyindir.
Biru yang menoleh langsung membalas ucapan Sam dengan ledekan menujulurkan lidah sampai keduanya harus tertawa kecil.
"Tapi kan sensasi menuju besarnya lain lagi, sayang"
Biru hanya mencubit pipi suaminya dengan gemas lalu menyodorkan air putih dalam kemasan botol yang ia beli juga di warung kecil sebelah tukang sempol tadi.
"Kamu punya uang dari mana?" tanya Sam penasaran, karna seingatnya ia tak pernah memberi uang cash pada Biru.
"Dikasih Amma, kemarin kembalian beli bunga" jawabnya malu malu.
"Maaf ya, aku cuma kasih card tapi gak kasih uangnya" ucap Sam tak enak hati, kadang ia lupa jika Biru tak sama dengan wanita lainnya. Ia yang baru masuk kedalam keluarga baru kaya raya terkadang tak nyaman dengan semua yang terlalu mudah tapi malah membuatnya pusing.
"Yu udah mulai sekarang aku kasih kamu uang cash ya buat jajan, biar gak harus nunggu kembalian lagi" ejek Sam, padahal ia yakin itu sengaja Ammanya lakukan.
"Bener? kamu mau kasih aku uang?" Kedua mata Biru berbinar dengan senangnya.
__ADS_1
"Iya, sebelum aku berangkat ke kantor aku kasih kamu uang, Bee"
Sam mengacak rambut panjang Biru, begitu sederhananya membuat malaikat polosnya itu bahagia.
Biru benar-benar belum butuh harta dan tahta, ia hanya ingin kebersamaan dan rasa aman yang justru itu sulit di lakukan oleh Samudera.
"Tapi masih kasih aku card, kan?" tanya Biru sambil menoleh dengan sorot mata serius.
"Iya, kenapa?"
"Gak apa-apa, besok mau pergi sama grandMomy" jawabnya sambil tersenyum dengan kedua alis yang ia naik turunkan.
"Terus apa hubungannya sama card?" tanya Sam, karna ia tahu jika istrinya itu tak gila belanja seperti duo keong racun Rahardian.
"Mulai minggu depan saat aku resmi jadi istrimu, aku wajib pakai slogan mereka, Bee"
"Slogan? apa tuh?"
.
.
.
.
.
.
Ada uang abang di sayang, gak ada uang gak boleh goyang
__ADS_1