
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tok... tok.. tok..
Suara ketukan di pintu ruangan, membuat Sam langsung menoleh. Ia buka kacamatanya lalu di letakkan di sisi laptop yang menyala.
"Selamat siang, Tuan. Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" ucap Asisten Samudera.
"Suruh dia masuk"
Tak sampai dua menit, seorang wanita bertubuh tinggi semampai masuk kedalam ruangan direktur utama Rahardian group. Seorang masa lalu yang sudah di kubur jauh jauh oleh Samudera selama ini.
"Maaf menggangumu" ucap Alisha.
"Al, ada apa?"
Sam pun menganggukan kepala saat sang asisten pamit keluar dari ruangannya, kini hanya Ia dan sang mantan kekasih.
"Aku hanya ingin memberikan ini padamu, aku harap kamu dan istrimu mau datang di pesta pernikahanku yang kedua, Sam" ucap Alisha sambil memberikan sebuah benda persegi empat di atas meja kaca.
"Kamu akan menikah lagi, dengan siapa?" tanya Sam sambil meraih benda tersebut lalu di bukanya secara perlahan.
__ADS_1
"Mr.Simon?" sambung Sam yang lalu menatap tajam kearah Alisha.
"Ya, aku tahu pasti kamu sangat mengenalnya"
"Tentu, lebih tepatnya mungkin ayahku yang sangat tahu tentangnya"
Alisha hanya tersenyum kecil, ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Sam saat ini. Siapapun pasti kenal Mr Simon, pria baya lebih dari setengah abad yang suka kawin cerai. Dan Alisha adalah calon istri kesebalas bagi pengusaha tersebut.
Tak ada pilihan lain, menjadi single mom dan hanya mengandalkan gaji sekertaris membuat Alisha cukup kualahan menjalani hidupnya yang terbiasa serba mewah terlebih saat menjalin kasih dengan Sam yang dulu begitu memanjakannya dengan harta dan kasih sayang.
"Aku tunggu kedatangan kalian, calon suamiku pasti sangat senang" pinta Alisha dengan senyumnya yang masih sama.
"Jangan bicara begitu, bukanlah aku tak pernah mengganggu kalian. Datanglah seperti teman"
"Aku dan kamu bisa beranggapan seperti itu tapi tentu tidak bagi istriku, Al." tegas Sam lagi.
"Baiklah, aku tak memaksa. Yang jelas aku sudah mengundangmu secara baik-baik. Datang atau tidak aku tak akan memaksa, permisi"
Alisa mundur satu langkah karna memang Sam tak mempersilahkannya untuk duduk. Langkah kakinya begitu berat saat ia keluar dari ruangan yang dulu sering ia datangi karna tak jarang ia mencumbu sang direktur yang sedang sibuk bekerja.
Bayangan itu terus saja berkelebat di dalam otak Alisha, sesal pernah mengkhianati Sam masih sangat ia rasakan. Jika waktu bisa di ulang tentu ia tak akan bersikap bodoh harus tergoda napsu semalam hingga hamil.
__ADS_1
.
.
Lain Alisha, tentu lain juga dengan Samudra. Pria itu hanya bisa diam berdiri menghadap kaca sambil memandangi kartu undangan yang di berikan sang mantan kekasih barusan.
"Apapun keputusanmu, aku harap kamu bahagia seperti aku yang kini sudah sangat bahagia. Terima kasih pernah singgah selama enam tahun dalam hidupku. Kemudian membuatku kecewa karna sebuah pengkhianatan sampai kata maaf saja rasanya tak cukup untuk melupakan apa yang pernah kamu lakukan"
Ceklek
Suara pintu terbuka dan derap langkah mendekat tak membuat Sam membalikan badannya. Sorot matanya tetap memandang ke arah luar dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku celana.
"Ada apalagi, Al?"
.
.
.
Al... Aku Biru.
__ADS_1