
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain yang di ambil dari wastafel langsung di gendong dan di bawa lagi ke meja makan. Jantungnya masih berdebar hebat karna kaget melihat putranya bergelantungan. Jika Sam tahu hal itu, sudah bisa di pastikan suaminya akan marah dan mengoceh sepanjang hari, besarnya rasa sayang pada kedua buah hatinya membuat sang putra mahkota Rahardian tak ingin terjadi apapun yang bisa membahayakan para keturuannnya.
"Gak boleh gitu lagi ya" pesan Biru.
Uuuuun, Miyuh...
"Iya, kalau mau turun panggil Mhiu jangan turun sendiri nanti jatuh, Ok"
Keh..
Bocah tampan pemberani itu pun turun dari pangkuan, ia berjalan kearah ruang tengah dimana Embun dan sang kekek berada.
Bapak langsung menggedong Rain dan menuntun Embun menuju teras rumah yang sepi, tujuan mereka adalah samping rumah yang ada beberapa kandang hewan.
Apa?
"Ini bebek" jawab Bapak saat Rain menunjuk salah satu hewan peliharaan si kakek.
Uwek.. uwek... dendeeeeee
"Hahaha... gak tau kakek, Rain ngomong apa sih?" kekeh pria baya yang masih sekuat hati mengikhlaskan kepergian anak keduanya.
"Iya, Bum-Bum ngomong yang benel dong, kakak sama kakek nda ngeleti kan" timpal si anak perempuan berkuncir dua.
Uwek uwek dendeeeee iiiiiiih...
Embun dan Bapak kembali tertawa karna tak mengerti apa yang di katakan Rain meski berulang kali.
__ADS_1
Nih apa?
"Ini kelinci"
Inci ucat ucat.. icil yaaaa
"Aduh, pusing kakek nih. Iya aja dah iya"
Rain dan Embun berlarian saling mengejar, gelak tawa yang di dengar bapak bagai mengulang memorinya tentang masa kecil Khansa dan Wildan.
"Udah yuk, masuk" ajak Bapak.
Nda... ain ain tejaaaaaal....
Jika di ikuti, tentu dua anak itu tak akan mau berhenti jadi solusinya adalah Rain harus di gendong dan dibawa masuk.
Aduuuuhhh... ontong Buuuum.
Otong oy otong...
Embun mencibir ke arah Rain yang tertawa bersama kakeknya. Bapak memang terbilang dekat dengan Rain dan Embun meski jarang bertemu tapi setiap hari melakukan panggilan video call jadi wajah pasangan baya itu tak aneh di lihat.
Ketiganya masuk kedalam rumah langsung menuju dapur, wangi harum masakan yang sudah tertata rapih di atas meja makan sungguh sangat menggugah selera dan membuat perut terasa lapar secara mendadak.
"Wah, banyak ya. Bubuy mahu dong, goleng sayap ayamnya" pinta Embun.
"Awas panas, pakai garpu ya sayang"
"Iya, Mhiu"
__ADS_1
Bum.. mahu.. mahu. uwa uwa ya..
"Satu aja, gak. usah banyak banyak"
Ima.. nenem... ***** yaa..
"Heh, habis enam tujuh, Bum. Bukan ***** terus"
.
.
Sam yang sudah di bangunkan akhirnya ikut turun dan bergabung di meja makan. Semuanya begitu menikmati makanan yang tersaji.
Embun dan rain melahap semuanya di piring sampai habis begitupun dengan Sam. Meski dari keluarganya konglomerat tapi makanan rumahan adalah pavorit turunan Rahardian.
Usai makan, Embun dan Rain dibawa lagi ke teras. Sam yang mengobrol dengan bapak membiarkan dua anak itu bermain. Tapi Sam memicingkan matanya saat melihat Biru datang membawa sapu di tangannya.
"Bee, taro gak!" titah Sam pada istrinya.
"Kenapa?"
"Bi Ijah, mana? apa dia gak dateng buat beresin rumah?" tanya Sam pada wanita yang biasa menjadi membantu Ibu dirumah.
.
.
"Bee, biarkan hari ini aku menjadi Biru ya. Bukan menjadi Nona muda Rahardian!"
__ADS_1