
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Tuan, bisa ikut saya ke ruangan dokter?" suara perawat dari arah pintu membuat Sam dan Biru menoleh bersamaan.
"Baik, saya kesana" jawab Sam.
Ia menoleh lagi kearah istrinya yang matanya begitu sembab karna tak henti henti menangis.
"Aku ketemu dokter dulu ya, gak apa-apa kan sama papAy dulu" pamitnya pada Biru yang di jawab anggukan kepala.
"Iya, aku temenin Embun aja disini."
Sam langsung keluar setelah menitipkan anak dan istrinya pada Air yang masih ikut menunggu. Ia tak akan pergi sebelum mendapat kabar pasti tentang keadaan cucunya. Karna bagi Air saat ia melihat Embun tentu bagai melihat putrinya yang telah tiada.
cek lek.
"Silahkan, Tuan" ujar perawat tadi setelah membuka pintu ruangan dokter yang berbeda lantai dengan ruangan Embun kini berada.
"Terimakasih"
Sam mengangguk sekali saat seorang dokter wanita dengan kaca mata tebalnya itu mempersilahkan Tuan Muda Rahardian untuk duduk di depannya, hanya meja kaca lah yang kini menjadi penghalang mereka.
"Laporan pemeriksaaanya sudah keluar, dan hasilnya Nona Muda Embun terkena DBD. Terlihat adanya juga ruam merah ditubuhnya. Dari keterangan yang saya terima juga jika Nona muda sempat muntah sebelum dibawa kesini" jelas dokter memberi keterangan serta menyodorkan kertas laporan pada Samudera.
__ADS_1
"Iya, dok. Pengasuhnya memang sempat mengatakan jika putri saya muntah saat bangun tidur pagi tadi"
"Baiklah, saya harap Nona Muda mau di rawat disini beberapa waktu sampai kondisinya sembuh kembali"
"Baiklah Terima kasih, Dok"
.
.
Sam keluar dari ruangan dokter dengan perasaan hancur, ia sungguh tak bisa melihat putri kecilnya terbaring lemas bagai tak berdaya. Jika bisa di tukar rasanya ingin ia saja yang merasakan sakit.
Kini tak lagi ia dengar celoteh manja dan nyanyian lucu yang keluar dari mulut mungil Embun RaLiana Rahardian Wijaya.
Bayangan sakitnya Embun setahun lalu pun mulai terlintas lagi yang nyatanya dulu hanya sebagai pertanda jika ia mau memiliki seorang adik kecil.
.
.
"Gimana, De?" tanya Air saat Sam kembali.
"Kena DBD, pAy. Harus di rawat beberapa waktu disini" jawabnya dengan suara berat.
__ADS_1
"Ya sudah, biarkan dokter menjalankan tugas mereka dengan baik, jangan lupa berdoa dan jaga juga kesehatan kalian. Terutama Biru"
"Iya, Pay"
Sam kembali lagi ke sisi istrinya yang duduk tepat di sebelah putri mereka. Sesekali ia meringis seakan merasakan sakit dalam tubuhnya.
"Kenapa, Bee?"
"Bum-Bum pasti pengen nyu su, dada ku sakit banget" lirihny sedikit menunduk, ia raba bagian atas bajunya yang ternyata sudah sedikit basah.
"Pulang dulu ya, kamu susui Bum-Bum. Sambil di pompa. Nanti kesini lagu, gimana?" tawar Sam.
"Aku mau sama Embun, Bee" tolak Biru.
"Rain juga butuh kamu, Embun sudah mendapat pertolongan pertama, biarkan ia istrihat Berdoalah saat kita kembali Embun sudah bangun"
Biru tak menjawab sama sekali, ia begitu bingung antara dua anaknya yang memang benar kata Sam jika Rain lah yang lebih butuh dirinya kali ini, terlebih tak ada persiapan apapun saat pergi tadi karna semua terjadi begitu mendadak.
.
.
.
__ADS_1
"Kalian pulang lah, Biar Embun papAy yang jaga"