Samudera Biru

Samudera Biru
dede lagi...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bum.. sini sayang" rayu Biru saat putranya tetap acuh seakan tak perduli dengan kehadirannya.


"Rain tuh kalo ngambek parah ya" kekeh Hujan yang sangat gemas dengan cucu keduanya itu apalagi Melisa yang tak hentinya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Sang pewaris utama Rahardian group.


Biru hanya tertawa kecil, Rain yang memang sangat posesif membuatnya sering merajuk jika sedikit di abaikan. Tangan lembut Biru kini meraih tubuh montok Rain untuk ia pangku lali di dekap..


"Bum-Bum marah sama Mhiu ya?" tanya Biru mulai merayu.


Iyah..


"Mau nyenyeh gak?"


Nda...


Penolakan Rain membuat perasaan Biru jadi kecewa dan gemas, dua rasa itu menyatu dalam hatinya yang kini penuh sesal karna tadi terlalu lama berada di kamar si sulung.


"Kenapa?, Nyeh yah"


Nda ih..


Bocah laki laki itu tetap pada pendiriannya, ia masih menenggelengkan kepala saat Biru menyodorkan salah satu daging kenyal miikknya. Hal yang biasa di lakukan Rain sebagai bentuk protes jika di tinggalkan Mhiunya.


"Eh, beneran ngambek dia"


"Iya Moy, sok jual mahal tapi nanti Nyenyeh nya diambil Phiu makin ngamuk" goda Biru pada putranya.


Ketiganya tertawa bersama, karna Reza sedari tadi sudah keluar dari kamar bersama Embun untuk melihat semua barang belanjaannya.


.


.


*****


Ceklek

__ADS_1


Samudera membuka pintu dengan sangat pelan, ia selalu pulang di jam yang sama jika tak ada pekerjaan tambahan atau meeting mendadak.


Keluarga adalah prioritas utamanya, sesibuk apapun sang direktur utama di kantor ia akan lebih memilih menunda pekerjaanya esok hari asalkan bisa makan malam bersama dirumah. Sam cukup tahu diri jika kini anak-anaknya sudah begitu aktif terutama Rainerly yang sudah lancar berjalan. Ia akan melangkah kemanapun dan mengambil apapun sesuka hatinya. Tak jarang sang Istri sering menjerit kaget saat melihat kelakuan putra mereka.


"Bum..." pangggil Sam saat melihat Rain sedang mengacak-acak permen dalam toples.


Piyuuuuh...


Pria bertubuh tinggi itu langsung berjongkok ketika Rain bangun dari duduknya, anak laki-laki tampan itu berjalan mendekat lalu saling keduanya saling memeluk.


Puwang?


"Iya, Phiu pulang, sayang" jawab Sam yang paham dengan apa yang di katakan Rain barusan


Ia melangkah menuju istrinya yang sedang merapihkam tempat tidur karna terlihat beberapa bantal yang berserak di lantai.


"Kok ganti lagi sprei nya, kenapa?" tanya Sam di rasa semalam tak melakukan hal yang menyenangkan.


"Embun numpahin susu coklat barusan" jawab Biru.


"Di kamar mandi, lagi bersihin badannya juga"


Ketiganya kini sudah berada di sofa, Sam melepas lelah dengan duduk bersandar di bahu istrinya, cara sederhana namun mampu membuat ia lupa akan kepenatan nya selama di kantor seharian penuh.


"Bagaimana harimu, Bee?" tanya Sam pada istrinya dengan mata tetap fokus pada kedua anaknya yang bermain bersama di karpet.


"Seperti biasa, tak ada yang berbeda" jawab Biru dengan melakukan hal yang sama.


"Anak-anak? apa mereka membuat mu kesal atau lelah? " tanya Sam lagi yang langsung di jawab dengan cerita panjang lebar.


Serumit apapun otaknya dalam mengurus perusahaan, Sam akan menjadi suami penuh perhatian jika sudah pulang, ia tak pernah bosan menanyakan aktivitas anak dan Istrinya selama seharian dirumah meski ia tahu karna sering melakukan video call di sela kesibukannya dalam berkerja. Tapi Sam akan terus setia mendengar kan keluh kesah atau juga cerita lucu dari kedua anaknya, itu adalah bentuk rasa cinta Sam pada Biru, ia tak mau pemilik hatinya menanggung beban sendiri jika ia tak bisa ikut mengurus setidaknya Sam bisa menjadi teman cerita yang baik.


"Aduuuuh, Sakit!" pekik Embun saat rambutnya di tarik oleh Rain.


"Jangan dong, Dek"


Sam dan Biru yang melihat kedua anaknya mulai ribut karna Rain yang selalu jahil dan galak langsung memisahkan mereka. Tapi Embun yang sudah terlanjur menangis langsung berlari keluar dari kamar.

__ADS_1


.


.


Braaaakkk.


"PapAy...... " teriak Embun setelah membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Eh, cantiknya papAy kenapa?" tanya Air langusng menggendong cucu perempuannya itu.


"Bum-Bum nakal, tarik tarik rambut Bubuy" adunya sambil terisak sedih.


Air yang tak tega langsung menciumi wajah cantik sang Ratu Rahardian sambil di usap air matanya.


Tangis Embun karna hal seperti ini sudah biasa terjadi, Rain memang sering mengganggu kakaknya jika sedang bersama ia akan bertepuk tangan jika Embun menangis dan menjerit kesal.


"Hayu, papAy"


"Hayu, apa sayang?" tanya Air bingung, apalagi kini ia hanya memakai handuk sebatas pinggang karna baru selesai membersihkan diri.


.


.


.


Hayu pesen dede bayi lagi kaya kemalen, Bubuy mahu cali di ponsel papAy...



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Nah kan... udah mulai keranjingan belanja online 🤣🤣


Masukin keranjang dulu ya Bul..


Kalo ada laki ganteng, boleh dah minta beliin papAy juga 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2