
ðððððð
#BelumNulisNangisDulu.ðĒ
Reza berdiri di ujung tangga rumah utama. Rumah yang sudah ia tempati puluhan tahun bersama kedua orangtuanya dan adik perempuan satu satunya juga, Rumah yang selalu hangat dan penuh rasa kekeluargaan, Rumah yang tak permah sepi saat ia menikah dan memiliki tiga anak kembar.
Ia edarkan pandangan ke setiap sudut ruang tamu dan ruang tengah yang sudah di dekor secantik dan seelegan mungkin karna hari ini akan dia adakannya acara tujuh bulanan sang cucu mantu.
Bangunan mewah yang tak pernah berubah letak dan bentuknya itu meski berkali-kali di renovasi sudah menjadi saksi bisu bagaimana semua acara itu di lakukan disini. Mulai dari tujuh bulanan istrinya saat hamil si kembar, berlanjut dengan acara Hujan, Kahyangan dan juga si Bungsu Cahaya.
Dan kini di saat tubuhnya tak sebugar dulu Reza ternyata ia masih bisa menyaksikan acara tujuh bulanan Biru, istri dari cucu pertamanya dari si sulung Air Rameza Rahardian Wijaya.
Putra yang begitu sangat manja dan cengeng nyatnaya kkini sedang bersiap menjadi seorang kakek dalam waktu dekat, padahal rasanya baru kemarin ia menimang Air di rumah ini saat baru pulang dari rumah sakit.
Waktu berjalan begitu cepat, membuat memory otak Reza terus memutar semua kenangan mereka, apalagi saat bersama dengan orangtuanya yang kini telah tiada belasan tahun lalu, tapi Tuan Wisnu dan Nyonya Riana cukup bisa pergi dengan tenang karna sudah melihat semua cucunya menikah dan memiliki anak, mereka menutup mata di sisi anak, menatu dan cucu beserta pasanganya masing masing hingga hembusan napas terakhir. Dan itu juga yang di harapkan oleh Reza dan Melisa nanti di ujung usianya, di lepas oleh semua orang yang mencintainya dengan tulus.
"Mas. kok malah ngelamin di sini?" pertanyaan istriya langsung membuyarkan lamunan Reza yang masih berdiri di ujung tangga, ia menghapus cairan bening di sudut matanya yang hampir jatuh ke pipi.
__ADS_1
"Gak apa apa, Ra. Aku cuma inget saat dulu kita yang punya acara disini, gak nyangka banget bakal kedatangan emak emak dunia nyata yang super heboh ya" kata Reza deng mengulum senyumnya sambil meraih bahu sang istri agar lebih dekat dengannya.
"Iya, yang pada rebutan pengen salaman sama kamu, kan? untungnya aja saat itu aku belum punya panci warna warni ya, Mas" jawab Melisa sambil terkekeh. Kenangan itu masih tersimpan rapih di otaknya.
.
.
.
"Aku tuh masih kurang percaya diri saat berada di tengah tengah keluarga besarmu, apalagi saat di kenalkan menjadi istrimu di depan banyak orang. Entah itu pada teman, kerabat ataupun rekan bisnismu, Bee" lirih Biru pelan, ia masih ingat betul saat ada istri teman Sam yang merendahkannya karna Biru berasal dari kampung, saat itu Sam begitu marah dan ikut menangis di pangkuan Biru karna membuat wanita halalnya menitikan air mata karna kasta mereka yang jau berbeda.
Sejak kejadian itu, Biru selalu bersembunyi di balik punggung suaminya, meski Sam sellau menariknya ke samping agar keduanya selau sejajar dengan alasan cinta yang seharusnya saling menggenggam.
"Kamu istriku, belahan jiwaku yang kini juga menjadi ibu dari anakku, jangan pernah menganggap dirimu rendah dihadapan orang lain karna hanya kamu wanita satu satunya yang memiliki tahta tertinggi setelah Mimoy dan Amma" sahut Sam, ia juga tak akan pernah lupa dengan dua wanita lainnya yang selalu ia hormati dan ia lindungi seumur hidupnya.
"Aku memang orang rendah yang diangkat derajatnya olehmu, tak salah jika mereka menganggap hina diriku" balas Biru lagi.
__ADS_1
Sam hanya bisa tersenyum kecil lalu memutar tubuh istrinya itu agar bisa berhadapan dengannya.Ia tangkup wajah bulat Biru dengan kedua tangannya juga.
.
.
.
Kilauan BERLIAN tak akan pernah kalah dengan kotoran, Bee...
ðŧðŧðŧðŧðŧðŧðŧðŧ
pengen piyuk gajah beserta tututnya ð
Sini aku iyup biar gak sedih ðĪŠðĪŠ
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1