Samudera Biru

Samudera Biru
Nyicil boleh, ya?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Usai membuat pengakuan masa lalu dan memberi harapan untuk masa depan kini saatnya Sam meminta Biru untuk menceritakan tentang kedatangan para wanita Rahardian siang tadi, pasalnya Hujan tak memberi tahu apapun padanya tentu Sam menjadi penasaran apa yang di lakukan mereka seharian bersama Biru.


"Ayo cerita kan, jangan ada yang di tutup tutupi, Ok" pinta Sam.


"Banyak, aku gak inget. MiMoy sama Onty Cahaya yang tadi terus bicara" kata Biru sambil sedikit mengingat.


"Onty Chaca itu racun, gak usah di denger omongannya" selak Sam sambil terkekeh.


"Aku di suruh minta pindah sama Dede, dede tuh siapa?" tanya Biru bingung karna seingatnya tak ada anak kecil yang ia temui sejak kemarin berkumpul.


"Hem.. itu. Gak tau!" Jawab Sam, ia malah mengumpat. kesal dalam hati karna pasti miMoy nya lah yang menyebut kata DEDE.


"Terus apa lagi, mereka nyuruh kamu buat apa?" tanya Sam, kali ini tebakannya tak akan salah karna sudah pasti kembaran papAynya itu akan mempengaruhi Biru.


"Suruh minta uang yang banyak" jawabnya polos.


"Terus kamu aku kasih uang berapa?"


"Entah, dulu ibu sehari hanya memberiku uang xxxx"


Sam sampai mengernyitkan dahinya saat mendengar kejujuran Biru, dengan uang segitu bahkan ia bingung akan membeli barang atau makan apa karna itu terlalu sedikit di jaman yang sudah semakin modern.


"Kamu serius dikasih segitu sama ibu?"

__ADS_1


Biru mengangguk, tak ada gurat marah dan kecewa di wajah cantiknya. Ia malah tersenyum simpul menandakan ia sedang banyak banyak bersyukur.


Dan Sam pun tak akan menyalahkan orang tua angkat Biru karna mereka hidup dari hasil kerja keras Almarhum Wildan saja.


"Iya, tapi aku masih bisa nabung loh" kekehnya dengan bangga.


Sam menangkup wajah Biru dengan kedua tangannya yang lembut sembari menatap manik matanya juga secara intens.


"Sekarang gak harus nabung lagi ya, kamu boleh beli apapun yang kamu mau tanpa terkecuali. Ok Bee"


"Beneran?" tanya Biru memastikan apa yang ditawari suaminya itu. Namun, hanya di jawab anggukan kepala oleh Sam.


"Amma juga tadi nyuruh kamu buat resmiin pernikahan kita, ditambah resepsi katanya takut aku keburu hamil" kata Biru masih dengan kepolosannya.


"Hamil?, Amma bilang gitu?"


"Kamu mau punya anak?"


"Mau dong, yang banyak kalau bisa" jawab Biru di sela gelak tawanya.


Keduanya yang memang anak satu-satunya, tentu mendambakan keluarga yang ramai dengan banyak menghadirkan putra dan putri.


"Tau kan cara bikin anak, gimana?" pancing Sam, ia yang sudah dewasa tentu harus pelan pelan mengajari istri polosnya itu.


"Bikin anak itu bukankah sama seperti...?" Biru kembali menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Iya, seperti itu. Aku harap kamu paham. Kita sudah SAH secara agama. Kamu istriku dan aku suamimu dan kita harus sadar betul apa saja hal dan kewajiban dalam berumah tangga" jelas Sam memberi pengertian.


"Aku sudah memasak untukmu dan mengurus pakaianmu juga, kan?" ucap Biru yang membuat Sam gemas.


"Bukan hanya itu, ada kewajiban lain juga yang perlu istri lakukan untuk suami, Bee"


Detak jantung Biru berdetak berkali-kali lipat saat Sam menyentuh dagunya agar mereka bisa saling berpandangan.


.


.


.


.


"Gak apa-apa kalau masih takut, tapi nyicil sedikit sedikit bisa, kan?"


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Bisa Tuuuuut..


Mau nyicil apa?


Teko apa panci 🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2