Samudera Biru

Samudera Biru
Warisan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Appa dede...... "


Reza yang baru saja ingin memencet lift langsung menoleh saat Sang Ratu memanggil sambil berlari kearahnya.


Melihat Bul-Bul semakin dekat Reza pun langsung berjongkok menerima pelukan cicit cantiknya.


"Dari mana sayangnya Appa?" tanya Reza masih memeluk bidadari cantik hasil kerja keras si Tutut.


"Beli baju buna buna nang banak banak" sahut Bul-Bul senang, bocah cantik itu seakan tak pernah lelah jika sehabis jalan jalan, tak seperti Biru yang sudah melengos lebih dulu ke lantai atas menuju kamarnya lewat tangga.


"Banyak banget?" tanya Reza, Bul-Bul begitu mirip dengan si bungsu Cahaya.


"Banget, Appa! Dede sampe beli lemari baru" Cetus Sam.


Reza menggandeng cicit cantiknya itu menuju kamarnya sendiri. Melisa pasti senang jika tahu kesayangannya sudah pulang dari menghabiskan uang phiunya.


Cek lek..


Bul-Bul membuka pintu dengan pelan, berbeda dengan Air atau Sam yang sedari dulu tak pernah mau pelan-pelan jika membuka benda berwarna cokelat itu.


"Amma Dede Bubuy"


Ya, Embun memang memanggil Reza dan Melisa dengan sebutan Appa dede dan Amma dede. Itu terjadi karna ia sering mendengar Phiunya memanggil seperti itu. sebab di rumah utama tak ada yang memanggilnya Dede seperti Sam kecil. Ia sudah mempunyai nama panggilan sayang yaitu Bul-Bul.


"Wah, yang abis beli baju bunga bunga baru pulang." kata Melisa yang sudah merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Mahu liat nda? banak banget, Amma" celoteh nya lagi.


"Boleh, tapi cuci tangan sama kakinya dulu yuk. Habis dari luar, kan?" ajak Melisa, wanita yang lebih dari setengah abad menjadi menantu Rahardian.


"Yuk, Bubuy tuti ndili ya"


Melisa mengangguk sambil tersenyum simpul, di gandengnya bocah cantik itu menuju kamar mandi.


"Dinin banet ya, Amma" celotehnya lagi di hadapan wastafel dan kaca besar nan mewah.


"Apa mau sekalian mandi? mandi yuk sama Amma"


Bul-Bul menggeleng kan kepalanya, dingin di tangannya saja sudah membuatkan ia begitu merinding apalagi jika mandi,, pikirnya.


"Kenapa gak mau mandi? kan habis jalan jalan"


"Cantik kok, Coba tanya Appa deh"


Embun langsung turun dari wastafel dan berlari ke arah Reza yang berdiri di balkon kamarnya, bekas gemericik hujan siang tadi membuat hawa dan udaranya cocok untuk bermalas malasan.


"Appa dede, Bubuy tantik nda?" tanya Embun sambil menarik ujung baju Reza sampai membuat pria baya itu menoleh.


"Cantik, Cantik banget malah, kenapa?" Reza balik bertanya, jika ia masih kuat mungkin saat ini tubuh mungil cicitnya sudah ada dalam gendongannya sama seperti ia dulu sering menggendong Samudera dua puluh tahun lalu.


"Alow mandi tantikna ilang nda?"


Reza langsung terkekeh, ia paham betul dengah arah pertanyaan Embun, pasti bocah bawel itu sedang mencari alasan menolak mandi.

__ADS_1


"Bul-Bul lebih cantik kalau mandi, kalau gak percaya sekarang Bul-Bul mandi ya terus di pakai baju barunya, gimana?" rayuan maut Reza pun mulai ia layangkan.


"Mahu.. Bubuy Mahu pate baju buna buna"


Embun yang berlari, kini meninggal kan Reza dan Melisa yang menatap sang cicit dengan tawa kecil.


.


.


.


.


.


.


Kalau begini modelnya, wajan warna warni ku bakal di warisin ke siapa, Mas?


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Eh... kita siap nampung kok 🤣🤣🤣


Bener gak emak emak?


Gada minyaknya gpp dapet wajannya.

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2