
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Selama perjalanan menuju pasar, Samudera terus saja mengoceh karna bingung harus kemana lagi karna tempat yang barusan mereka datangi adalah pasar ketiga.
"Cari ke kampung aja, Bee" ucap Biru masih dengan santainya.
"Kampung mana?"
"Kampung Durian Runtuh. Hahaha" gelak tawa Biru begitu renyah sampai Sam pun ikut terkekeh gemas.
"Jadi pengen cium, kan!" goda Sam sembari mencubit pipi istri kecilnya.
Perjalanan yang tak tahu arah dan tujuan ini pun akhirnya berhenti di salah kedai warung kopi yang terdapat banyak orang berkumpul. Disanlah Sam dan Biru akan bertanya tentang ayam yang sedang bertelur.
"Permisi, selamat siang" sapa Sam sopan dan ramah.
"Iya, Siang" jawab mereka secara berbarengan, ada tiga orang dewasa dan dua remaja sedang bermain catur.
"Maaf mengganggu, saya mau tanya sesuatu barangkali bapak bapak tahu" ucap Sam lagi.
Biru yang ditatap oleh dua orang remaja yang sepertinya seumuran dengannya itu langsung merapatkan diri ke tubuh sang suami.
"Ada apa ya? mungkin bisa kami bantu" jawab salah satu pria dengan kumis sedikit beruban.
"Saya mencari ayam yang sedang bertelur. Mungkin ada yang tahu atau ada yang punya ayam tersebut karna istri saya ingin telur yang lansung dari induknya" jelas Sam oada bapak-bapak yang langsung saling pandang sambil berpikir.
"Kenapa gak ke perternakan ayam telor saja" timpal bapak yang lainnya.
"Istri saya maunya ayam kampung, Pak"
"Oh..... " kelima pria itu pun hanya ber OH ria secara serempak.
__ADS_1
Lima menit Sam dan Biru hanya menunggu para bapak bapak tersebut berdiskusi mencari tahu juga dengan di selingi perdebatan kecil diantara mereka, sedangkan pasang suami istri itu hanya mengulum senyum melihat dan mendengarnya.
" Bagaimana, Pak?" tanya Sam.
"Ada kayanya, coba saja kerumah pak Badrul. Dia ayamnya banyak mungkin ada yang sedang bertelur" jawab si bapak berkumis tadi.
"Dimana ya rumahnya? apa di antara bapak bapak ada yang bisa mengantar kami?" pinta Sam.
Semua pria itu kembali saling pandang dan saling senggol sampai pilihan jatuh pada pria yang sedari tadi hanya diam tak banyak ikut berdebat.
"Mari ikut saya" ajaknya pak Wawan, orang yang akan mengantar Sam dan Biru.
Ketiganya sudah masuk kedalam mobil dengan pak Wawan duduk di kursi belakang, ia yang akan menjadi penunjuk jalan letak rumah pak Badrul yang terkenal memiliki banyak ayam.
"Masih jauh, Pak?" tanya Biru yang sudah sedikit tak sabar.
"Di depan belok kiri, Non"
"Bee, sakit gak perutnya?"
"Enggak, aku gak apa-apa kok" jawab Biru, ia sadar tentang kepanikan suaminya itu.
Pak Wawan langsung menunjuk satu rumah berwarna merah muda yang terlihat lebih besar dari rumah rumah yang lainnya. Saat mobil berhenti, ketiganya pun langsung turun dari kendaraan mewah milik Samudera.
"Ini rumahnya?" tanya Sam.
"Iya, Tuan. Mari kesana"
Sam dan Biru berjalan di belakang pak Wawan menuju rumah pak Badrul yang pintunya tertutup rapat.
Berulang kali mengucap kan salam, akhirnya ada juga yang keluar membuka pintu.
__ADS_1
"Cari siapa?" tanya seorang wanita dengan perut buncit.
"Cari pak Badrul, mereka ini sedang mencari ayam" sahut Pak Wawan.
"Oh, Bapak ada di belakang, ayo saya antar" ucapnya lagi yang langsung berjalan lebih dulu menuju samping rumah dengan sesekali melirik kearah Sam.
Sampai di belakang rumah, Sam langsung mengatakan maksud dan tujuannya ia dan istrinya datang. Pak Badrul hanya tersenyum tipis sambil mengangguk paham dengan keinginan wanita cantik yang di gandeng oleh Sam.
"Jadi ini berapa ya harga ayamnya?" tanya Sam pada pak Badrul saat ia menerima seekor ayam betina yang tak hentinya berkokok.
Belum sempat menjawab, pak Badrul langsung ditarik oleh wanita hamil tadi yang ternyata adalah anaknya sendiri. Wanita tadi berbisik pada ayahnya yang entah sedang mengatakan apa.
"Bagaimana, pak?" tanya Sam lagi, karna hari beranjak sore.
.
.
.
.
.
"Tak perlu dibayar, sebagai gantinya cukup kamu usap perut anak saya saja, bagaimana?"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bingung dah tuh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Like dan komennya yuk ramaikan.