
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bee, biarkan hari ini aku menjadi Biru ya. Bukan menjadi Nona muda Rahardian!" pinta Biru pada suaminya.
Biru yang terbiasa melakukan pekerjaan rumah saat gadis merasa senang saat kembali ke kampung. Ia seakan menjadi dirinya sendiri yang bebas melakukan aktifitas apapun sesukanya.
Berbeda jika di rumah utama, ia hanya di izinkan untuk memasak dan mencuci sendiri sprei yang di gunakan sebagai alas pergulatan panasnya dengan sang suami.
"Tapi gak nyapu juga, sayang" ucap Sam lagi.
"Gak apa-apa, tanganku gak akan jadi kasar karna ini, tetap akan halus kok saat pegang Tututmu, Bee" kekeh Biru sambil berlari kecil meninggalkan si sandaran hati yang sedikit terkejut dengan yang di ucapkan istri kecilnya itu.
"Hey, awas ya!" teriak Sam yang malah sangat gemas dengan Biru.
Pria tampan kaya raya itu duduk di teras bersama bapak dengan dua cangkir kopi yang ada di atas meja.
Nih apa?
Lagi lagi si anak bawel itu mulai banyak bertanya
"Kopi, BumBum mau?" tawar Sam
Nda, nih apa?
"Ini pisang rebus, mau juga?"
Nda..
__ADS_1
"Terus maunya apa?" tanya Sam.
Nyenyeh Miyuuuuh.. Nak.
"Cih, itu sih jangan di tanya!" cetus Sam sambil mencubit pelan pipi putranya.
Bapak yang banyak menceritakan banyak hal membuat Sam hanya menjadi pendengar yang baik. Mulai dari lima lingkungan sekitar sampai beberapa hewan peliharaannya.
"Tapi aku beneran denger suara deheman itu, pak" ucap Sam meyakinkan si pria baya tentang yang ia dengar.
"Mungkin itu hanya halusinasi mu saja, Nak. kamu yang lelah jadi malah mendengar hal seperti itu"
Sam hanya mengangguk paham, ia pun tak berniat melanjutkan lagi keluhannya.
Ada saja kejadian yang membuat bulu halusnya bangun dan merinding, dan itu salah satu alasan kadang ia merengek ingin pulang.
.
.
"Yuk, Bubuy mahu mahu.." jerit senang Embun di sambut oleh Rain, ia yang mengerti tentu langsung bertepuk tangan juga.
Para keturunan Rahardian itupun sudah bersiap siap dengan pandangan fokus pada layar ponsel, padahal Embun baru saja mematikan panggil telepon dari sang Mimoy yang sudah mengeluh sepi di rumah utama.
"Nda angkat, napa?" tanya si cantik.
"Kita coba lagi ya"
__ADS_1
Tiga kali mencoba melakukan panggilan video call akhirnya wajah sang Gajah bisa mereka lihat, senyum langsung terlihat dari ketiganya, Sam, Embun dan Rain tapi yang paling merasa senang tentu si Tutut.
"Appa..... " seru mereka bertiga secara berbarengan.
"Hallo sayang, kangen Appa ya"
"Iyah, Appa lagi apa?" tanya Embuh lebih dulu.
"Lagi kangen Bul-Bul" jawab Reza.
Bum??
Protes si bungsu nembuat Sam dan Biru tertawa, pasalnya Rain memasang wajah bingung sambil memegang dadanya sendri.
"Oh, iya, Appa kangen Bum-Bum juga" kekeh Reza merasa bersalah karna satu cicitnya lupa ia sebut sampai menuai protes.
Bum, anen ya..
"Iya, Bumbum juga kangen, Appa. Makasih ya ganteng" ucap Reza, lagi lagi hanya dia yang paham dengan semua kosakata ajaib para keturunannya.
"Bumbum main sama siapa disana?" tanya Reza karna ponsel Sam sudah di rebut oleh sih pewaris Rahardian, tandanya hanya ia yang akan mengobrol dengan sang Gajah.
Uwek.. uwek... dendeeee.. Inci ucat ucat tejaaal...
.
.
__ADS_1
Oh, main sama bebek gede, kelinci loncat kejar kejar.