
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sam yang sudah meringsek naik keatas kasur langsung memangku putranya yang tadi sedang berceloteh sendiri memainkan tangannya.
"Kok gak bobo? bangun ya, gantian sama Mhiu bobonya" ucap Sam yang mengajak putranya mengobrol lebih dulu sebelum membersihkan dirinya.
Jika boleh dikata, tubuhnya kini sangat lelah dan ingin segera beristirahat tapi saat melihat anak dan isterinya semua bagai menguap begitu saja tanpa arti. Semenjak Air sedikit demi sedikit mengurangi pekerjaannya tentu kini Sam lah yang mengambil alih semuanya. Pekerjaan di pusat tentu lebih banyak dan rumit dibanding semua kantor cabang Rahardian Group yang di pegang oleh sepupu sepupunya. Sam memperhatikan wajah tampan Rain yang terus tersenyum padanya.
"Bahagiakan dirimu sendiri, sebelum tanggung jawab ribuan orang ada di pundakmu, Nak"
Sam mencium pipi bulat Rain yang bagai bakpao dan harum strawberry pun begitu menusuk ke indera penciumannya.
"Huft, anak nakal. Phiu yang hampir gila menahan rasa ingin menikmati dan kamu malah membiarkannya" gerutu Sam sambil merapihkan bagian dada istrinya yang masih terbuka begitu saja usai menyusui Rain.
Sam memang kadang merengek manja pada istrinya saat sedang menyusui, tapi Biru selalu mencubit hidung atau menjewer telinganya ketika ia ikut usel usel di bagian dada Biru seakan ingin berlomba dengan putranya.
.
.
Jerit tangis Rain yang cukup keras ternyata mampu membangunkan Biru dari tidurnya, bayi laki laki itu menangis karna Sam sepertinya terlalu erat memeluknya sampe Bum-Bum sulit bergeliat.
__ADS_1
"Bee, awas dulu" Biru mencoba menggeser tangan besar suaminya tapi sedikit sulit karna Sam terlalu pulas tidur.
"Ya ampun!" pekiknya lagi mulai kesal dan kasihan.
Biru akhirnya menggigit lengan Sam agar cepat membuka mata.
"Aw! Sakit"
"Anak kamu nih, kebiasaan banget! emang kamu pikir ini gajah kamu, hah?" oceh Biru yang langsung menggendong Rain dan menyusui nya.
"Maaf, gak berasa. Kirain kamu yang aku peluk, Bee" ucap Sam yang malah meletakkan kepalanya di atas paha istrinya bersama Rain.
"Pulang jam berapa semalam?" tanya Biru.
"Lebih awal dari kemarin malam" ucap Biru lagi yang masih menyusui Rain yang mulai kembali tertidur karna ternyata ini baru pukul empat pagi.
"Kerjaanku banyak, mungkin beberapa hari lagi baru selesai. Aku harap kamu mau bersabar dan mengerti" pinta Sam dengan nada lirih.
"Setidaknya balas pesanku, Bee. Jangan buatku khawatir karna tak ada satupun balasan pesan darimu" protes Biru, hanya itu yang membuat ia kesal selama ini.
"Maaf, Sayang. Ponselku habis baterai"
__ADS_1
Biru membuang napas kasar, alesan klise tapi kadang memang begitu adanya.
Rain yang selesai menyusu pun ia pindah kan ke box nya karna suami tampannya sudah memberi kode untuk pembajakan.
.
.
Biru langsung turun dari ranjang setelah keduanya mencapai puncak pelepasan, tak lupa ia juga membenarkan selimut untuk menutupi tubuh polos suaminya.
Dengan memakai baju seadanya ia masuk kedalam kamar mandi. Namun, matanya tak sengaja menangkap stelan jas milik Sam yang tergeletak dekat bathup tak seperti biasanya.
"Kok tumben di taro disini, biasanya juga rapih kalo taro apa-apa" gumam Biru yang aneh dengan kelakuan Sam yang seingatnya ini baru pertama kali ia lakukan.
Biru meraih jas tersebut, tapi ia langsung menautkan kedua alisnya saat hidungnya jelas mencium sesuatu yang berbeda.
.
.
Ini bukan parfum mu, Bee...
__ADS_1