
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Awas nanti jatuh, Bum" ujar Reza saat Rain berjalan sambil meloncat. Sepertinya ia tak paham jika Phiunya kini sedang sakit.
Didong...
Air tentu langsung meraih tubuh cucunya saat Rain merentangkan tangan ke atas. Jari telunjuk mungil bocah itu tak henti menunjuk wajah papAynya yang masih cemony karena tinta
Cek lek
Langit membuka pintu, tapi ia kembali mundur untuk mempersilahkan Reza yang masuk lebih dulu ke ruangan rawat inap Samudera yang bak hotel lima.
Piyuuuuh, Bobo?
"Enggak, sini sayang" Sam yang sudah bisa bersandar sedikit mengangkat tangannya.
Ain... Ain?
"Phiunya lagi sakit, do'ain Phi cepet sembuh ya"
Bubuh ya.. auh auh.
"Makasih, ganteng" sahut Sam sambil tersenyum. Ia rindu anak-anaknya yang dua hari ini belum bisa ia peluk seperti biasa.
Rain mencium pipi Phiunya sampai Sam harus tergelak geli.
.
.
Satu persatu semuanya berpamitan. Kini hanya tinggal Biru dan Hujan serta Rain yang menemani Samudera di rumah sakit, bahkan Embun ikut pulang bersama Cahaya setelah di janjikan akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.
"Kapan bisa pulang, Moy?" tanya Biru saat mama mertuanya itu kembali dari ruang dokter.
__ADS_1
"Besok atau lusa juga udah bisa pulang. Gak apa-apa ini sih. Anak Moy kan jagoan" sahut Hujan sambil menangkup wajah tampan putranya lalu di cium dengan sangat lembut.
"Dede ngantuk, emang dari semalem perasaan udah gak enak banget, Moy" ujar Sam, ia baru ingat jika sebenarnya sudah mendapat firasat.
"Iya, aku minta maaf ya, Bee" Lirih Biru yang tangisnya langsung pecah.
Sam yang bingung menoleh kearah Hujan yang malah menggelengkan kepalanya. Wanita itu tentu tak paham dengan pertanyaan Sam lewat sorot mata.
"Aku udah sempet curiga sama kamu, bahkan nama wanita itu sempat terlintas di pikiranku saat malam kamu ingin aku peluk, Bee" ujar Biru sambil terus terisak.
"Ya ampun! masih saja kamu cemburu padanya. Padahal tak sedetikpun aku mengingatnya, Sayang" kekeh Sam. Jika saja ia bisa leluasa bergerak ingin rasanya pria itu memeluk dan menghukum istrinya.
Hujan yang merasa anak dan menantunya butuh waktu berdua akhirnya memilih keluar dengan alasan pergi ke kantin, Ia akan membiarkan pasangan itu mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal dalam hati.
"Moy, ajak Bum-Bum dulu ya, kalian mau apa?" tawar Hujan.
"Enggak, Moy. Titip Rain aja" sahut Embun dengan wajah basah karna derai air mata..
"Ya sudah, Kalau Moy gak datang lagi berarti pulang ya"
.
.
.
Hujan menuntun Rain keluar dari kamar rawat inap anaknya. Balita itu berjalan sambil bergandengan tangan dengan MiMoynya.
Atu.. atu.. Uwa.. uwa.. Ida.. ida.. mpat.. mpat.. Apa agih ya?
"Lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh" sahut Hujan.
Apek ah...
__ADS_1
"Kebiasaan, ngitung segitu udah capek. Phiu dulu kalau ngitung malah lebih loh" kata Hujan seolah mengingat kenangan putranya saat kecil dulu.
Banak... banak yaaaaaaa....
"Haha, iya ngitungnya kebanyakan. Kalo Bum-Bum sedikit ya" Hujan tertawa lepas, cucunya begitu sangat menggemaskan.
Mahu, na?
"Kantin, kita beli wafer ya, Sayang" jawab wanita baya itu.
Ecim, buweh?
"Boleh, tapi satu aja ya."
Uwa uwa, keh..
"No, sayang. cukup satu" tegas Hujan pada Rain.
.
.
.
Moy, akal, Bum anis ya....
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Nupel baru gaes 😍😍😍
Kisahnya Embun udah launching nih, yuk mampir.
__ADS_1