
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Acak Ael..
"Masak air buat apa?" tanya Biru lagi sambil menyuguhkan beberapa makanan ke atas meja.
"Buat Hujan, hahaha" Reza tertawa sampai matanya menyipit, begitu pun dengan Melisa yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Kamu sih, kasih nama suka aneh-aneh aja"
"Tapi kan gemoy, Ra" sahut Reza.
Biru menyinggungkan senyum, begitu tentram melihat pasangan baya yang selalu bersama dalam keadaan apapun. Entah itu suka dan duka, dalam sehat dan sakit pun mereka selalu bersama menggenggam tangan.
Biru selalu berdoa, suaminya akan semanis Appa dalam memperlakukan pasangan, jangankan main tangan untuk menaikkan nada suaranya pun pria itu tak pernah.
"Bee, kenapa? kok ngelamun" ucap Melisa yang membuat Biru kaget.
"Enggak, Ama. Oh, iya, tadi pagi Sam nawarin buat pindah rumah tapi maaf aku menolaknya" lirih Biru sambil menunduk.
"Pindah rumah?" seru Reza dan Melisa berbarengan yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Biru.
Pasanga baya itu pun saling pandang seolah melempar pertanyaan lewat sorot mata.
Si Tutut minta di sunat dua kali.
.
__ADS_1
.
.
#Kantor.
Tumpukan berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya membuat Sam berkali-kali membuang napas kasar. Jam sudah hampir menujukan pukul dua belas dan semua belum juga ia bereskan. Rasa lelah tentu tak lagi Direktur Utama itu rasakan. Pundaknya terlalu berat untuk memikul tanggung jawab dalam genggamannya.
"Gimana kalo papAy pensiun terus aku jadi Presdir" gumam Sam yang kini sudah menyandarkan punggung di sandaran kursi kebesarannya.
Mata teduhnya terpejam sesaat, dan bayangan Biru lah yang langsung terlintas. Tak hanya Wanita cantik itu, tapi juga Embun dan Rain, celoteh si Sulung dan rengekan si bungsu selalu menggema di telinganya. Belum lagi tingkah mereka yang sangat menggemaskan.
"Masih inget awal ketemu kamu gimana, gak nyangka kita masih bersama dan kamu udah kasih aku dua anak. Makasih ya Berliana Biru"
Sam tertawa kecil, ia raih ponsel yang tegeletak di atas meja. Jari jarinya sibuk membuka galeri poto di dalam benda pipih tersebut. Ia perhatikan semua foto keluarganya dan juga video para kurcaci kesayangannya.
Sam bangun dari duduknya, ia rapih kan lagi kemeja yang kancing dan dasinya sudah ia buka.
Tak lupa Sam juga memakai jas sebelum ia keluar dari ruangan.
.
.
Dengan kecepatan tinggi, mobil mewah Samudera melesat membelah jalan, perut laparnya sudah sangat meronta ingin segera terisi. Ia juga sudah tak sabar melihat reaksi istrinya saat melihat Sam pulang mendadak.
Sampai di rumah utama, ia langsung masuk dan bergegas ke lantai atas dimana kamarnya berada. Tapi, belum sempat ia membuka kenop pintu ada Melisa yang menyapa dengan senyum hangat seperti biasa.
__ADS_1
"De' udah pulang? ada apa?"
"Gak ada apa-apa, lagi kangen istri" jawabnya sambil terkekeh, begitu pun dengan Melisa.
Cek lek.
Sam membuka pintu, ia tertawa kecil saat melihat Biru menatapnya bingung. Ekspresi wanita itu sungguh susah bisa di tebak olehnya.
"Bee, kok pulang? mau makan siang kok gak bilang dulu" kata Biru saat suaminya berjalan semakin dekat.
"Enggak, aku lagi kangen kamu, Sayang" jawab Sam yang langsung mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
"Bee, ada apa sih?"
"Sstt.. diem. Tar Bum-Bum bangun" bisik Sam setelah ia melirik anaknya sedang berbaring di karpet bersama si Ireng.
.
.
.
.
Apa Piyuuuuh??
__ADS_1