
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Semakin besar Embun dan Rain nyatanya semakin sibuk juga Sam bekerja. Berangkat pagi pulang malam sudah satu minggu ini di lakukan oleh sang direktur utama Rahardian Group.
Biru yang duduk sendiri di sofa kamarnya masih menggenggam ponsel menunggu balasan pesan dari sang suami yang sudah berkali-kali ia kirim namun tak satupun yang sudah di baca.
Ceklek
Suara pintu terbuka yang begitu pelan membuat wanita berambut sepinggang itu menoleh. Ada putri cantiknya yang kini berjalan mendekat.
"Phiu belum pulang?" tanyanya saat duduk di sisi Biru.
"Belum sayang, kenapa? Bul-Bul bobo duluan aja ya gak usah tunggu Phiu pulang" ucap Biru, dua malam ini putrinya memang merengek ingin mendapatkan ciuman selamat malam dari Phiu nya yang biasa di lakukan Sam dan Biru saat mengantar sang putri ke kamarnya tapi ternyata pria itu selalu pulang saat anak dan istrinya sudah terlelap.
"Bum-Bum udah tidur?"
"Udah, cantik. Yuk Mhiu anter ke kamar ya, Mhiu temenin sampai Bul-Bul tidur, gimana?" tawar Biru yang sebenarnya merasa kasihan.
"Iya, Bubuy cium Bum-Bum dulu"
Si cantik yang sudah bergelimang harta meski usianya baru empat tahun itu meringsek naik keatas ranjang untuk peluk cium adik kesayangannya.
__ADS_1
"Jangan nangis malem malem ya, Bum." ucapnya setelah mencium pipi bulat Rain.
Biru yang melihat manisnya sikap si sulung sampai harus menahan cairan bening di ujung matanya agar sampai tak jatuh ke pipi. Rasa rindunya pada sang suami seakan terbayar dengan hanya melihat kedua anaknya.
"Nda bangun, kan. Bubuy dikit dikit ciumnya" kekeh su cantik bermata bulat dengan menutup mulutnya dengan tangan.
"Ya udah, Ayo. Jangan berisik nanti Bum-Bum bangun" ujar Biru sambil mengulurkan tangan yang langsung di sambut putrinya.
Dengan bergandengan tangan, keduanya pun berjalan ke kamar Embun yang baru akhir akhir ini ia tempati karna biasanya ia selalu tidur dengan siapapun sesuka hatinya.
"Mbak Rini udah tidur?" tanya Biru saat Embun sudah naik keatas tempat tidur.
Biru langsung mengembangkan senyum, seadil apapun ia membagi waktu memang pada Rain lah yang lebih banyak. Jadi, hanya saat si bungsu tidurlah ia bisa bergantian mencurahkan kasih sayang untuk si sulung.
"Ya udah, Mhiu temenin sampe tidur ya"
Embun mengangguk senang, ia yang sudah ada di balik selimut hello kitty nya mulai masuk kedalam pelukan Biru, wanita yang sampai ini tak pernah di khianati oleh suaminya.
Biru terus mengusap kepala dan lengan Embun sampai benar-benar terlelap terbuai mimpi.
Dirasa putrinya sudah tenang dan bisa ia tinggalkan, Biru pun meringsek turun dari ranjang. Ia benarkan lagi selimut berwarna putih dan merah muda itu sampai menutupi bagian dada Embun.
__ADS_1
"Selamat malam, tidur yang nyenyak dan mimpi indah ya sayang" ucap Biru sambil mencium kening Embun.
Ia keluar dari kamar anaknya menuju kamarnya sendiri. Masih tak ada tanda tanda suaminya sudah pulang membuat ia hanya bisa membuang napas kasar.
"kamu dimana?" lirih Biru yang bersandar di balik pintu kamar.
Ia buru buru menghapus air matanya yang akhirnya tumpah juga, dengan berjalan cepat ia mendekati Rain yang mulai sedikit merengek.
Satu bongkahan dadanya ia keluarkan dari balik piyama dress yang Biru kenakan. Perlahan tapi pasti bayi laki-laki itupun kembali tenang. Biru yang awalnya pura pura tidur agar Rain tak mengajaknya bermain nyatanya ia malah masuk juga ke alam mimpi lebih dulu.
Rain yang terjaga akhirnya mengoceh sendiri sampai Sam pulang dan membuka pintu kamar.
.
.
.
Kok gak bobo? nungguin Phiu ya.
__ADS_1