
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ckckckck..
Melihat Rain yang kebingungan tentu membuat semua yang masih ada di meja makan dibuat terkekeh gemas apalagi Air yang malah tertawa sampai hampir saja menggigit bahu Hujan yang duduk di sampingnya.
Uiiiiiin miyuuuuuuh..
"Hahaha, kesian di tinggal, nyenyeh di bajak sama Phiu ini sih" kata Air yang langsung mendapat cubitan dari sang istri tercinta yanga langsung bangun untuk menggendong cucu laki-laki kesayangannya itu.
Miyuh pelegi
"Nanti balik lagi, Bumbum sama Moy ya" sahut Hujan yang mendudukkan Rain di atas pangkuannya.
Nyenyeh
"Eh, enak aja! ini punya papAy ya. Dilarang nyicip ataupun ngintip, paham!"
Plaaak
Hujan memukul paha suaminya, ia tentu malu karna di hadapan mereka ada Reza dan Melisa yang tertawa kecil mendengar ancama putra mereka.
Tak kalah dengan Sam, Air pun sama pelitnya jika sudah menyakut bagian bagian hal yang menyenangkan.
"Kayanya dede ke banyakan dikasih sesajen tuh, sampe lupa sama Rain" ucap Reza dengan tangan melipat di dada.
"Betul!" sahut Air seraya menjentikkan jari tengah dengan ibu jari.
"Ish, kalian berdua ini, Otaknya gak jauh dari kemesuman" cetus Melisa sambil bangun dari duduk lalu mengajak sang menantu ke ruang tengah.
"Kemesuman kita itu menguntungkan kalian wahai para istri, iya gak pah" Air berucap sambil tertawa sedangkan Reza langsung mengacungkan dua jempolnya dihapan titisannya tersebut.
__ADS_1
.
.
.
Deg....
"Anakku mana?" tanya Biru panik sambil memegang dadanya. Ia baru merasa ada yang aneh saat sadar jika tak ada yang ia peluk.
"Bum, ya ampun! kemana tuh anak?" Sam yang tak kalah panik langsung menoleh kearah belakang, dan sialnya hanya ada Embun disana.
"Bum-Bum mana, kak?" tanya Sam pada si sulung.
"Nda tahu, eh iya, gak ada ya" Embun yang baru sadar juga mulai celingukan.
"Ketinggalan di rumah, Bee" ucap Biru sambil menggoyang lengan suaminya.
Mobil yang memang belum jauh berjalan harus putar arah kembali menuju rumah utama. Pasangan suami istri itu terlihat ketakutan dan berdoa dalam hati berharap Rain memang tertinggal dirumah, bukan di tempat lainnya.
Pagar tinggi yang menjulang itu pun kembali terbuka saat kendaraan mewah Samudera tepat di depannya, tak perlu menunggu di buka kan oleh penjags karna besi kokoh berwarna hitam itu sudah otomatis.
"Ayo, Sayang. Kita turun dulu" ajak Biru pada Embun di kursi belakang.
"Iya, Mhiu"
Biru keluar dan turun lebih dulu, rasa paniknya membuat ia tak ingat apapun lagi.
"Bum, Sayang" teriak Biru si ruang tamu.
"Tuan muda kecil ada di lantai atas bersama Nyonya besar, Nona" ucap salah satu ART.
__ADS_1
"Baik lah, Terima kasih"
Biru berlari menuju lift bersama Sam dan Embun, tak ingin rasanya ia membuang waktu lagi meski perasaannya cukup lega Sang putra ternyata benar tertinggal di rumah utama.
Triiing...
Saat lift terbuka, Ketiganya dengan cepat keluar. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Sang pewaris Rahardian group itu sedang bermain bersama MiMoynya.
"Sssttt, Rain lagi nyanyi" kata Hujan dengan telunjuk di bibirnya.
"Nyanyi apa?" tanya Sam sambil terus mendekat dengan langkah pelan.
"Gak tahu, coba aja dengerin" jawab Hujan.
Kini ada empat orang di belakang punggung Rain sedang membuka lebar telinga mereka.
.
.
Buwung tata Buaaaaaa
Ecot, di endelaaaaa
Amma Bua bua..
Didi na, indal Uwaaa
Tetung.. tetung.. tetung lalalaaaa
Nyenyeh Bubum Uwaaaaa
__ADS_1