Samudera Biru

Samudera Biru
Ratu sehari


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kamu mau kemana?" tanya Hujan tepat didepan pintu mobil yang terbuka.


"Aku mau jemput Embun di sekolah, Moy" jawab Biru yang langsung menunduk karna merasa bersalah. Ia yang buru buru nyatanya langsung pergi tanpa pamit lebih dulu pada sang mertua.


"Ada apa? Rini bukannya disana"


"Gak ada apa-apa, lagi pengen keluar aja ngajak Rain main juga" jawabnya sedikit terbata.


Hujan yang mengernyit kan dahi akhirnya mengangguk kan kepala. Ia bukan tak tahu putranya selalu pulang malam, Ia juga sangat paham jika Biru butuh sesuatu untuk mengusir rasa jenuhnya.


"Kamu mau pergi keluar juga?" tanya Hujan lagi yang mulai bisa menebak.


"Hem, iya Moy"


"Pergilah sendiri, lakukan apapun yang bisa membuat mu bahagia. Kamu bisa ke salon, shoping dan makan enak. Perlakuan dirimu bagai ratu tanpa memikirkan hal lain termasuk anak anak" titah Hujan sambil meraih tubuh montok Rain dari gendongan Biru.


"Maksud Moy, apa?"


"Bi, manjakan dirimu. Bahagiakan hatimu dan rileks kan pikiranmu. Pergilah"


Biru yang akhirnya paham sampai menitikan air matanya, memang itu yang akan ia lakukan hari ini tapi tentu bersama dengan anak anaknya.


"Biar Embun dan Rain sama Moy dirumah ya, Jangan sampai kesenanganmu terganggu dengan rewelnya mereka."


"Moy, Terima kasih banyak, aku... " Biru bahkan tak sanggup berbicara di sela tangisnya.

__ADS_1


"Kamu memang butuh itu semua. Habiskan saja uang suamimu. Dia sudah bekerja sampai tak ingat waktu dah keluarga jadi tak salah jika kamu menikmatinya" ujar Hujan mulai mengajari ilmu sesat yang ia dapat juga dari adik iparnya.


Biru tersenyum dan mengangguk paham, ia masuk kedalam mobil mewah milik Rahardian setelah menciumi wajah bulat putranya.


.


.


Kereta besi berawarna putih itu melesat menuju salah satu butik langganan Cahaya yang biasa ia datangi juga meski tak sering.


Bukan karena harga nya saja yang mahal luar biasa tapi juga karna ia malu jika datang sendiri. Biru masih belum terbiasa di perlakuan dengan sangat istimewa meski ia pantas mendapatkannya.


"Bapak tunggu ya, aku gak lama kok" ucap Biru pada supir keluarga.


"Iya, Nyonya"


"Selamat datang, Nyonya" sapa satu pegawai yang nampak terkejut karna biasanya butik akan tutup jika keluarga Rahardian sedang datang berkunjung.


"Siang, juga, Kak" jawab Biru sedikit canggung.


Ia yang di persilahkan masuk tak lama di datangi oleh sang pemilik butik yang sudah Biru kenal sedari dulu, dan seperti yang sudah ia bayangkan jika kini pelayanan terbaik sedang ia dapatkan dan ia rasakan.


Setelah bertegur sapa dengan Tante Michelle, Biru pun mulai di tawari beberapa pakaian. Kali ini ia akan mengesampingkan jiwa pelit dan banyak berpikirnya saat berbelanja.


Ia tunjuk semua yang ia mau dan ia suka, tanpa mencobanya lebih dulu. Biru langsung memberikan Card unlimitednya untuk membayar semua barang yang ia beli barusan agar segera di kirim ke rumah utama seperti biasa.


"Biasanya ini kartu anteng di dompetku, tapi hari ini kamu harus keliling ya sayang" kekeh Biru yang lalu mencium benda kecil yang di sebut kartu ajaib oleh Embun.

__ADS_1


Tak sampai disitu, karna perjalanan tentu masih panjang baginya yang akan bersenang-senang menghamburkan uang si Tutut Jajah.


"Pak, ke Mall ya sekarang" titah Biru lagi pada pak supir.


Tak perlu bertanya Mall mana, karna sudah bisa di pastikan itu pasti pusat perbelanjaan milik Sang Tuan besar Air Rameza Rahardian Wijaya, Mertua dari wanita yang kini sedang menyandarkan tubuhnya di kursi belakang.


Sampai di bangunan bertingkat, mewah dan luas, Biru langsung memilih beberapa keperluan lainnya. Tas dan sandal juga sepatu tak luput dari daftar belanjaannya saat ini. Lagi lagi ia hanya tinggal menggesek kartunya dan semua akan dikirim kerumah utama.


"Tinggal beli sarang tahu baru, dan makan enak. Aku udah laper banget" gumannya sambil mengusap perut.


Biru masuk kembali ke toko pakai an da lam langganan nya, ia yang sudah biasa kesana tentu langsung di layani dengan baik juga. Lingerie model terbaru dengan warna cerah yang kontras dengan kulit tubuhnya sudah ia pilih dan siap di bayar.


Pertualangannya kini sudah selesai, tinggal perut yang akan Biru manjakan. Ia akan menikmati makanan yang tak pernah ia makan sebelumnya.


Resto paling mahal dan mewah pun kini ia datangi. Duduk sendirian tanpa teman cukup membuat ia bosan saat menunggu pesanan datang, bayangan kedua buah hatinya pun terlintas di pelupuk matanya tanpa ia tahu jika dikantor, suaminya sedang......??


.


.


.


.


.


Membulatkan kedua matanya saat satu notifikasi masuk kedalam ponselnya, Sam sedikit terkejut ketika melihat deretan jumlah angka pengeluaran sang istri hari ini.

__ADS_1


__ADS_2