Samudera Biru

Samudera Biru
Aku lupa!


__ADS_3

"Habiskan!" titah Sam pada sang istri.


Biru yang bersandar di punggung ranjang terus saja menutup mulutnya, tak ada apapun yang masuk kedalam perut sang pemilik hati membuat Sam begitu frustasi. Belum lagi Rain yang rewel karna tak mau lepas di tambah ASI nya pun kurang enak.


"Kami tanpa kamu bisa apa? aku suapi lagi ya, biar habis ini minum obat lalu istirahat"


Biru tetap menggelengkan kepalanya, untuk bicara saja rasanya ia tak lagi sanggup. Kepalanya sangat pusing dengan pandangan ber kunang-kunang.


...Cek lek.....


Hujan yang berjalan mendekat setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk langsung berdiri di sisi ranjang setelah meraih tubuh Rain yang meronta ingin di gendong.


"Masih gak mau makan?" tanya Hujan, ia begitu tak tega melihat menantunya sampai pucat tak bertenaga.


"Masih, Moy. Tadi pagi cuma dua suap malah di muntahin." sahut Sam yang sudah sangat pusing memikirkan istrinya yang di prediksi dokter terkena asam lambung.


"Bawa kerumah sakit aja, De. Perawatan disana jauh lebih baik di banding dirumah seperti ini" titah Hujan .


"Enggak, Moy. Aku gak apa-apa, cuma lagi mual aja"


"Tapi kamu harus makan, biar ada tenaga"


Emam...


Semua mata kini beralih pada Rain, semenjak Biru sakit ia tak se aktif biasanya. Rewel nya berkali-kali lipat membuat semua nya harus bekerjasama merayu Rain agar tak mengganggu istirahat Biru.


"Bum-Bum mau makan?" tanya Hujan pada cucunya yang sedang ia gendong.


Iyaah Emam

__ADS_1


"Mau makan sama apa?" tanya Sam sambil meraih ponselnya untuk menghubungi Rini agar cepat menyiapkan makanan untuk putranya.


Nyenyeh Miyuuh


Sam hanya bisa membuang napas kasar, ia menepis tangan Biru saat ingin meraih tubuh mungil anaknya.


"Moy, tolong suapin Rain ya."


"Iya, Biar Rain sama Moy. Kamu urus Biru agar lekas sembuh ya" balas Hujan seraya membawa keluar Rain, sudah sejak pagi bayi menggemaskan itu tak ingin dengan siapapun. Bahkan sudah se siang ini saja ia masih memakai piyama tidurnya.


Rain, ya... hanya Rain lah yang begitu sulit di ajak oleh siapapun berbeda dengan Embun yang di rayu sedikit saja sudah manut dan ikut kemana saja.


"Mumpung Rain sama Moy, lanjut makan ya. Atau kamu mau apa? biar aku beliin sekarang" tawar Sam lagi, hatinya ikut sakit dan otaknya bagai tak bisa berpikir saat melihat tubuh lemah Biru.


"Aku mau jus buah aja" jawab Biru meski ia tak ingin tapi setidaknya ia menghargai rayuan suaminya yang sudah bersusah payah memintanya untuk makan.


"Aku mau jus buah aja, terserah kamu mau buah apa" pasrahnya kemudian dengan mata terpejam.


"Baiklah"


Sam mengusap kepala istrinya lalu mencium kening Biru dengan lembut sebelum ia beranjak ke lantai bawah.


.


.


"Bisa tolong buatkan aku jus wortel"


"Baik, Tuan muda" jawab salah satu pelayan yang kebetulan berpapasan dengan Sam di ruang tengah.

__ADS_1


Sam yang menunggu pesanannya di buatkan memilih menunggu di salah satu sofa single dengan memijit pelipisnya.


"Tuan, jus wortel nya sudah siap"


"Ah, iya. Terimakasih" ucapnya sambil meraih nampan di tangan si pelayan lalu membawanya ke kamar.


Sam membuka pintu dengan sangat pelan, ia takut Biru justru malah sudah terlelap.


"Bee... jusnya di minum dulu"


Biru yang merasakan pusing akhirnya membuka mata, ia bangun dengan di bantu sang suami untuk kembali bersandar.


"Makasih ya, Bee. Maaf aku merepotkan mu"


"Gak apa apa, Sayang. Asal kamu janji harus cepet sembuh" lirih Sam yang hanya di balas senyum kecil


"Embun mana, Bee? kok gak kesini" tanya Biru sambil mengaduk jus wortel nya.


"Ya ampun! aku lupa" pekiknya kaget sembari bangun dan berlari ke kamar mandi.


Ceklek.


"Buy.. sayang?!":



Nah kan 🙄🙄🙄🙄


Tuh anak bisa masuk angin de... 😏😏

__ADS_1


__ADS_2