Samudera Biru

Samudera Biru
DUA.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


"Bum... sini ganteng. Nih nyenyeh nyah Mhiu masukin lagi ya" ancam Biru saat putranya sudah lima menit berada di pojokan tanpa menoleh padanya padahal Biru sudah memanggil sedari tadi dengan satu dada tetap ia keluarkan seperti niat awal tadi.


"Bum.. Mhiu nangis ya"


Ndaaaa..


"Ya udah sini, mau nyenyeh gak?" tanya Biru lagi dengan perasaan gemas gemas kesal pada si bungsu.


Ndaaa....


"Ya udah kalo gak mau, masukin ya nanti di gigit muk muk nyenyeh nya" Biru mulai sedikit menahan tawanya saat melihat tingkah Rainerly.


Biru memasukan dadanya dan mengancingkan lagi baju atasanya setelah menyeka tetesan ASI yang keluar begitu saja saat belum di Hi Sap oleh Rain.


"Sini, Mhiu lihat Bum-Bum dulu. Kenap sih coba Mhiu tanya pundung ke pojokan terus" rayunya sambil berjongkok di balik punggung Rain yang masih menghadap tembok.


"Nyenyeh yuk, terus bobo"


Bung..


"Ish.. maunya apa atuh?" tanya Biru lembut, jika sudah seperti ini setiap anak hanya butuh di tanya bukan di abaikan atau dimarahi bentuk protesnya.


Piyuh Buuummm


Biru langsung menarik Rain dengan sedikit memaksanya. Ia gendong tubuh mungil itu karna sudah cukup lama berdiri disana dengan raut menahan kesal, belum lagi matanya yang memerah dan tak lama tangisnya pun mulai pecah dengan lelehan air mata yang perlahan turun membasahi wajah tampannya.


.


.


***

__ADS_1


Cek lek


Biru langsung masuk kedalam ruangan suaminya setelah bertanya lebih dulu pada Ira, sang sekertaris yang berada di depan.


"Bee, ada apa?" tanya Sama sedikit terkejut, ia sampai membuka kaca matanya sambil bangun dan berjalan mendekat kearah sang istri yang menggendong putranya.


Piyuuuuuh


Sam langsung meraih Rain, dan kini bocah laki-laki itu sudah berpindah ke pelukannya.


"Kenapa? kok sedih banget" ujarnya sembari menciumi pipi Rain dengan gemas tapi tak ada gelak tawa yang keluar dari mulut anak kesayangannya.


"Dari tadi pundung, aku bingung karna gak mau nyu su, Bee. Panggilin kamu terus ya udah aku bawa aja kesini tadi bareng sama Moy" jelas Biru tentang anak mereka yang tadi berdiri di pojokan kamar.


"Moy mau kemana?" tanya Sam saat keduanya sudah duduk berdampingan di sofa.


"Kerumah sakit" jawabnya singkat karna sambil bangun dari duduk yang kemudian berjalan menuju lemari pendingin.


"Phiu telepon Om Jero dulu ya" ucapnya sambil menggendong Rain menuju meja kerjannya lagi.


Iyaah..


Sam tersenyum kecil, ia meraih telepon biasa diatas meja kaca yang masih berserak beberapa berkas dan kertas yang belum ia tanda tangani.


"Hallo, Jero. Batalkan semua jadwal meeting saya hari ini" titahnya pada sang asisten langsung saat teleponnya diangkat. Sam bicara dengan nada tak ingin di bantah sampai mau tak mau Jero pun menyetujuinya dan sambungan telepon pun terputus.


Sam kembali ke sofa dan duduk di samping istrinya yang sedang memainkan ponsel.


Dengan mendudukan lagi Rain di atas paha, Sam pun mulai mengajaknya bermain sambil mengobrol.


"Mau makan gak?"


Nda.

__ADS_1


"Kenapa? bikin jus buah aja ya" tawar Sam lagi.


Nda.


Rain yang mulai tersenyum setidaknya membuat perasaan Samudera dan Biru sedikit lega.


"Ih, senyum senyum, giginya keliatan tuh, ada berapa sih?"


Uwa.


"Nyenyehnya ada berapa?"


Uwa.


"Mhiu nya ada berapa juga?"


Uwa.


Plaaak!!!!


Satu pukulan mendarat di bahu Sam dari istrinya yang merengut kesal.


"Kamu mau punya istri dua?" tanya Biru dengan sorot mata tajam.


.


.


.


Eh... Bum-Bum tuh, bukan aku loh, Bee!


__ADS_1


__ADS_2