Samudera Biru

Samudera Biru
Sakitnya Embun


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Keluarga Rahardian yang sedang menikmati sarapan paginya pun harus di kejutkan dengan teriakan Rini dari arah tangga.


"Nyonya, Nyonya!" serunya dengan napas tersengal ditambah raut wajah yang begitu panik.


"Ada apa sih, Rin?" tanya Sam yang bangun dari duduknya tak kalah terkejut.


"Pelan-pelan, ayo katakan" timpal Air yang juga bangkit lalu mendekat.


"Nona Embun... "


Bul-Bul..


Biru yang baru mendengar nama putrinya di sebut langsung berlari ke arah tangga menuju kamar Embun, ia tinggal kann semua keluarganya termasuk Bum-Bum yang di baringkan di stroller.


Cek lek.


"Nak, sayang. Embun, kenapa?" tanya Biru dengan perasaan sangat khawatir, ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap dahi putrinya yang ternyata sedikit demam.


"Kamu sakit, sayang? Ya Tuhan!"


Biru menoleh saat mendengar suami dan mertuanya juga datang menyusul.

__ADS_1


"kenapa, Bee?" tanya Sam dan Air berbarengan.


"Demam, Embun sakit" jawabnya yang sudah menitikan air mata.


"Biar Moy telepon rumah sakit, kamu bangunin Embun" titahnnya pada Biru yang hanya di jawab anggukan kepala.


Biru yang memangku putrinya langsung di ambil alih oleh Sam untuk digendong dan turun ke lantai bawah karna Air dan supir sudah menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit. Sedangkan Hujan tetap di rumah menjaga Bum-Bum. Bayi cengeng yang mirip sekali papAynya pun pasti akan rewel mencari Mhiunya.


.


.


Selama perjalanan kerumah sakit, Biru tak henti menitikan air mata. Embun yang jarang sekali sakit tentu membuat ia dan yang lainnya sangat khawatir.


"Tapi gak mau buka mata. Buy, bangun sayang"


"Ini Mhiu, sebentar lagi kita ketemu ibu dokter ya"


Biru terus saja meracau, memohon putrinya mengerjapkan mata meski sesaat tapi nyatanya Embun tetap pada terlelap seakan tak terganggu dengan isak tangis Mhiunya.


Sampai di rumah sakit milik Hujan, semua turun dari mobil. Sudah ada beberapa perawat yang menunggu di depan pintu yang di khususkan untuk mereka sang keluarga Rahardian.


Dokter anak terbaik pun sudah siap menjalankan tugasnya saat Hujan mengabari jika cucunya demam.

__ADS_1


Kini semuanya masuk kedalam Ruang pemeriksaan yang sudah di sterilkan. Namun, Air sempat keluar lagi saat ia menerima telepon dari kantor. Dan hanya Biru juga Sam lah yang sekarang mendampingi si buah hati.


"Gimana, dok?" tanya Sam yang kadar paniknya belum berkurang sama sekali.


"Saya beri obat penurun panas lebih dulu ya, nanti kita tunggu hasil yang sebenarnya" ucap dokter setelah memeriksa Embun dengan sangat-sangat teliti mulai dari perut sampai matanya.


"Baik, Dok. Tolong berikan pertolongan yang terbaik untuk putri kami" pinta Sam sungguh sungguh.


"Tentu, Tuan. Saya permisi dulu" pamit dokter untuk memeriksa lagi hasil pemeriksaan yang barusan ia lakukan pada sang Ratu Rahardian.


Biru yang terus terisak tak sedetikpun melepas genggamannya. Hatinya terus berdoa agar semua baik baik saja. Cukup demam biasa saja yang di rasakan oleh sang putri yang kini bibir mungilnya harus terlihat putih pucat.


"Sabar, Bee. Dokter udah lakuin yang terbaik. Nanti setelah minum obat pasti panasnya turun. Kamu gak boleh ikutan lemah, kuat ya sayang" lirih Sam merangkul tubuh mungil istrinya yang bagai tak bertenaga.


"Aku takut, aku benar-benar takut"


"Gak ada yang harus kamu takuti. Embun baik kok" Sam terus menenangkan Biru yang akhirnya mengangguk paham.


.


.


Tuan, bisa ikut saya keruangan dokter?

__ADS_1


__ADS_2