
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sam yang sudah sampai di apartemen lima belas menit lalu belum juga mendapat alasan yang bisa membuat ia mengizinkan Biru pulang ke keluarga angkatnya di kampung.
Pria tampan itu tetap menggeleng kan kepala saat sang istri hanya mengatakan ia rindu orangtuanya.
"Jangan sekarang, lusa ya" ucap Sam mulai bernegosiasi dengan Biru yang kini duduk di hadapannya.
"Sekarang atau lusa sama saja, Bee" protes Biru namun ia tak berani menatap kedua mata sang suami.
"Beda! kalau lusa aku bisa ikut" jawabnya sambil bangun dari duduk.
"Aku mau balik kantor lagi, jaga dirimu baik baik" pesan Sam seraya berpamitan, Ia tersenyum simpul saat melihat Biru mengangguk pasrah dengan mengerucutkan bibir ranumnya.
.
.
Pria tampan yang terlihat rapih dengan stelan jas hitamnya itu di buat terkejut dengan kedatangan Air dan Hujan yang sudah berada dalam ruangannya tanpa memberitahu apapun lebih dulu.
Ia yang di sambut dengan pelukan hangat langsung bertanya tentang kedatangan Kedua orangtuanya.
"Moy, lagi gak mau minta aneh aneh kan sama dede?" tanya Sam penuh curiga karna melihat papAynya begitu pasrah.
"Moy cuma punya satu permintaan yang sama, dan kamu tahu itu"
__ADS_1
"Hem, dede tahu tapi dede gak tahu mau jawab apa"
"Kalian nunggu apa lagi sih? papAy cuma bisa nyengir kuda kalo ketemu papanya Alyssa, Tut!" Kini Air angkat bicara, rasanya malu sendiri jika terus menghindari pertanyaan yang sama setiap waktu.
"Tujuh tahun gantungin Alyssa itu rasanya JLEB banget, kesian anak perawan orang, Tut"
Samudera mengusap wajahnya dengan kasar, ingin rasanya ia menceritakan apa yang telah terjadi tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat. Perasaannya masih abu-abu entah pada Alyssa ataupun pada Biru.
"Dede tahu, dede juga udah mikirin masa depan tapi gak buru buru gini, pAy" jawabnya dengan ketus.
"Dede gak punya kelainan, kan?"
"Ya ampun! Dede normal Oey!" Sahutnya semakin emosi namun kedua orang tuanya malah terkekeh.
"Jangan melanjutkan yang kiranya tak pasti, hati bukan mainan, de" cetus Air..
"Kalian serius, kan?" cecar Hujan, sebagai seorang wanita tentu ia bisa merasakan bila menjadi Alyssa apalagi kedekatan keduanya pun sudah bagaikan ibu dan anak sendiri.
"Kapan dede main main? selama ini gak aneh aneh"
Air dan Hujan mengangguk paham, mereka memang tahu jika selama ini sang putra hanya bertahan dengan satu gadis saja selama tujuh tahun karna Alyssa tak pernah mengeluhkan tentang adanya orang ketiga selama mereka bersama.. Sam memang selalu baik dan ramah pada semua orang tapi ia cukup bisa menjaga jarak dengan lawan jenis sebelum dan sesudah terikat hubungan dengan Alyssa.
"Setidaknya kalian tunangan, bagaimana?" tawar Hujan.
"Mending kawin deh sekalian"
__ADS_1
"Heh! kawin... kawin" cetus Air.
"Nikah, Pay.. Maaf ih" kekeh Sam yang sebenarnya menurut dia itu sama saja tapi begitu banyak orang yang seringkali protes dengan kata Kawin.
"Ada sesuatu yang sedang ku urus saat ini" ucap Sam sangat serius.
"Apa?" tanya Air dan Hujan berbarengan sambil menatap intens putra mereka.
.
.
.
Hati..
Aku tak ingin gegabah menjatuhkan pilhan, biar ku rasakan lebih dulu kemana aku memilih tempat pulang dan menetap. Entah pada yang sudah lama tinggal atau justru pada yang baru datang.
Meski aku tak harus membandingkan tapi setidaknya aku tahu mana wanita yang memberiku kenyamanan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Anan ama ama ya Tut..
Sok geura di kasih waktu, mau yang mana dulu nyoba nya 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Hati gak bisa di bohongin, yuk di pilih di pilih di pilih 🤭🤭