
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Appa, Tutut dede sekarag lecet, Oey" bisik Sam di telinga kanan Reza yang sedang duduk di sofa dengan surat kabar di tangannya.
Samudera langsung meringsek keluar dari kamarnya saat pagi menjelang, ia dengan bangganya memberi laporan tentang hasil kerja kerasnya semalem bersama Biru.
"Udah?" tanya Reza seakan tak percaya dengan yang di katakan cucu kesayangannya itu.
"Udah dong, besar loh, Hahahaha" gelak tawanya menggema ke seisi kandang Gajah sampai sang pawang harus melirik curiga tentang apa yang sedang di bicarakan dua pria tersebut...
"Kalian ngomongin apa?" tanya Melisa
"Enggak!" jawab Reza dan Sam berbarengan.
Gajah yang tahu jika pawangnya semakin menyelidik kini menarik Sam menuju ruangan santai di sebelah kamarnya.
"Aduh Appa, apa sih?"
"Diem!"
Keduanya masuk kedalam ruangan tersebut dan betapa kagetnya mereka saat sudah ada Air, Bumi dan Langit sedang duduk berjejer di sofa panjang.
"Kalian ngapain?" tanya Reza dengan tangan masih menggandeng Sam di ambang pintu.
"Papa yang ngapain? sidang dede gak ngajak kita" sahut Air.
__ADS_1
"CURANG" balas ketiganya serentak.
Sam yang tak paham pun hanya menurut saat Reza terus menariknya ke dalamSam ruangan, ia diminta duduk di sisi Air yang sudah membuka telinganya lebar lebar, begitu juga dengan dua uncle nya yang menatap Sam penuh rasa penasaran.
"Kalian kenapa?" Sam bertanya sambil mengedarkan pandangan ke semua pria Rahardian satu persatu.
"Udah lecet Tututnya, tuh" ledek Reza dengan senyum kecil.
"WHAT?"
"Hebat dede nya papAy" sorak bangga Air sambil mencium kedua pipi putra semata wayangnya semakin kebingungan.
"Enak dek? berapa kali?" tanya Langit, Pewaris Biantara itu rela datang pagi-pagi saat istrinya bercerita usai banyak membelikan Biru Lingerie kemarin.
"Sekali doang, itu juga susah banget, Dede di tinggal tidur, pengen dede siram tapi sayang" adunya lirih tapi itu justru membuat pria di sekitarnya begitu gemas.
Ruangan itu pun kini penuh gelak tawa, terakhir di adakannya rapat tentu saat Bumi menikah dan itu sudah lebih dari dua puluh tahun lalu, karna kasih sayang Othor yang begitu baik Reza pun bisa berbangga diri karna masih bisa mendengarkan cerita ritual malam pertama cucu kesayangannya. Pria baya yang masih sibuk melindungi Keluarganya itu pun sampai menitikan air mata bahagianya.
"Langsung jadi ya, biar si kakak cepet berubah jadi Kakek" ledek Bumi sambil tertawa begitu pun dengan yang lainnya.
"Huaaaaa.... tau amaaaaaaat!" jerit Air berpura-pura menangis
"TUA! udah punya mantu tuh ngomong gak ada bener-benernya" kata Langit seraya mencebikkan bibirnya.
"Udah hukum alam itu sih, bengkok mulu" timpal Bumi.
__ADS_1
"Udah di tiup belom?" tanya Reza sambil terkekeh, ternyata candaannya saat mandi dulu benar-benar terbawa oleh Sam sampai bocah itu beranjak dewasa, ia yang begitu penasaran karna tak mendapat jawaban terus merengek ingin penjelasan.
Reza awalnya ragu, tapi akhirnya ia juga lah yang memberi tahu dengan syarat untuk tidak mencobanya sebelum menikah, kesepakatan pun terjadi dan Samudera menepati janjinya sekarang.
"Belum" jawab Sam, kali ini kedua pipinya begitu merah merona, Air yang begitu gemas menciumnya lagi tanpa ampun. Ia bahagia karna berhasil mendidik putranya untuk tetap pada jalur yang benar sampai halal di tengah pergaulan yang begitu bebas.
"Kenapa?" tanya Reza lagi.
.
.
.
.
.
.
Beyum iyup udah besal, Oey...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
pengen cium Appa, 😘😘😘
__ADS_1
Ngakak mulu ah, ampe bikin kecoa Dadet oey di pojok kasur 🤭🤭🤭🤭
Like komennya yok ramaikan