
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari hari yang di lewati masih sama, hanya kecerian yang nampak terlihat jelas di Rumah utama meski sering adanya juga jerit tangis entah itu dari Embun atau Rain karna adik kakak itu tak jarang juga berebut sesuatu. Semenjak sang pewaris Rahardian itu semakin besar di usianya yang kini hampir satu tahun tentu Rain semakin aktif dan mengerti, ada sajat tingkahnya yang selalu membuat siapapun gemas dan ingin mencubit nya.
"Cup, jangan nangis ya" rayu Sam saat menggendong putranya.
Ia yang baru saja membuka mata harus di hadapkan dengan pertengkaran dua buat hatinya. Embun yang baru saja selesai mandi dan bersiap kesekolah harus menangis kesal saat rambut yang sudah di kuncir di tarik dengan sedikit keras dan sengaja oleh adiknya, Rain.
Bubum.
"Iya, Bum-Bum nakal! Bubuy gak suka" jerit Embun kesal diatas pangkuan Biru, tangisnya begitu sedih karna sedikit merasa sakit.
"Maafin Bum-Bum ya, kan masih bayi belum ngerti juga, Sayang" rayu Biru masih mencoba menenangkan si sulung yang terisak lirih.
"Tapi sakit, Mhiu" adunya semakin mengeratkan pelukan.
"Iya, Nanti Phiu bicara sama Bum-Bum ya, Kamu jangan nangis lagi, ok" titah Sam yang hanya di balas anggukan kepala oleh Embun.
.
.
Drama tarik menarik selesai, kini saatnya semua menikmati sarapan pagi sebelum melanjutkan aktifitas masing-masing. Sam dan Air yang akan pergi ke kantor untuk bekerja sedangkan Embun akan ke sekolah bersama pengasuhnya, Rini.
__ADS_1
Biru yang memang sibuk mengurus putranya sendiri tentu fokus pada Rain.
"Aku berangkat ya, Sayang" pamit Sam pada anak dan istrinya saat di teras rumah. Dari semuanya memang ia lah yang paling akhir untuk pergi.
"Hati hati dijalan ya, Bee"
Sam pergi setelah mencium seluruh wajah Biru dan Rain dalam gendongan, hal yang kecil yang selalu rutin ia lakukan selama menikah.
Kepergian Sang suami akhirnya membuat Biru kembali masuk kedalam rumah, sarapan Rain yang tak habis membuat bayi laki-laki itu wajib menyu su saat ini padanya.
Dalama kamar yang cukup luas melebihi luas rumah orangtuanya di kampung Biru duduk bersandar disofa dengan di bungsu yang sibuk mengisi perutnya sampai Rain kembali terlelap kembali.
Rainer yang di baringkan di box bayi di ciumi wajahnya dengan penuh kasih sayang.
"Bobo ya ganteng, Mhiu mau ke bawah dulu sebentar"
Rain yang di titipkan pada sang ibu mertua membuat Biru leluasa dan tenang saat memasak.
"Huft, selesai" hembusan napas lega ia keluarksn saat bakpao isi coklat dan ayam beres ia kerjakan. Kini saatnya ia menunggu sang Ratu pulang dari sekolahnya.
Dan benar saja, dua jam kemudian Embun pulang dan masuk kedalam kamarnya.
Braaak
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mhiu, Bum-Bum" sapanya sambil berlari dan memeluk Biru yang sedang bersama Rain.
"Waalaikum salam sayang" sahut Biru sembari menciumi wajah cantik Embun.
"Bum-Bum belum mandi?" tanyanya saat melirik adik laki-lakinya.
"Belum, ini baru bangun bobo. Mau di mandiin dulu Sam Mhiu"
"Bakpao Bubuy, mana?" tanya sang Ratu, ia langsung ingat dengan apa yang ia minta tadi pagi.
"Ada, Mhiu ambilin ya, Bul-Bul jagain Bum-Bum dulu sebentar, Ok"
"Ok" sahut si sulung sambil memeluk Rain yang sudah tak memakai baju.
Biru meninggalkan kedua anaknya menuju dapur untuk mengambil kue bakpao. Namun, ia sedikit terkejut saat mendengar gelak tawa Embun yang renyah di dalam kamar.
"Bul, kamu ngapain?" tanya Biru yang berjalan mendekat dengan membawa piring di tangannya.
.
.
.
__ADS_1
"Mhiu, Beruangnya lucu ya sama kaya Bum-Bum"