Samudera Biru

Samudera Biru
pasrah karna nagih


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Makan malam masakan Ibu dab Biru memang tak pernah bisa di ragukan lagi kelezatannya, Sam bahkan hampir menghabiskan tiga piring nasi jika saja tak ada panggilan telepon yang menggangu dan harus segera ia angkat.


"Penting banget?" tanya Biru saat suaminya sudah kembali duduk di meja makan.


"Iya, Jero yang telepon buat bilang kalau besok ada rapat pagi" jawab Sam. Ia duduk dihadapan Khansa dan ibu yang belum berkata apapun kecuali membahas soal kehamilan Biru.


Dirasa perut sudah terasa kenyang dan ada juga yang harus di bicarakan akhirnya keempat orang itu pun kini berpindah tempat ke ruang tengah. Masih dengan posisi Biru dalam rangkulan suaminya.


"Nak, ada yang ingin bicarakan padamu. Mungkin Biru sudah mengatakannya lebih dulu padamu" ucap Ibu mengawali obrolan.


"Silahkan, Bu"


"Putri ibu kini sudah tak bersuami dan itu artinya kini tak ada lagi yang bertanggung jawab atasnya. Ibu ingin meminta tolong padamu untuk memberinya pekerjaan, Nak." jelas Ibu yang akhirnya berterus terang.


"Saya hanya bisa memberi jalan, tapi untuk kedepannya tetap usah gigih Khansa lah yang paling utama. Biar nanti saya bicarakan dengan asisten saya untuk menerima surat lamaran yang Khansa buat sendiri. Disini saya tak tahu apapun tentang perekrutan karyawan baru, semua sudah ada bahagiannya masing-masing, Bu" jelas Sam pada ibu yang mengangguk paham.


Meski ia seorang direktur utama perusahan miliknya, tetap saja itu bukan urusannya samasm sekali meski ia bisa menempatkan Khansa di manapun sesuai keinginannya.

__ADS_1


Tapi Para petinggi Rahardian tak pernah melakukan hal itu semua karyawan dan jajaran Staf Di Rahardian Group dengan adil melewati semua tahap seleksi awal hingga diputuskan layak bekerja disana. Jadi tak salah jika para pekerja Rahardian group bukan orang-orang sembarangan.


"Baiklah, kalau begitu. Khansa hanya ingin hidup lebih baik dari sebelumnya dan menurut kami mungkin di ibu kota Khansa bisa meraih rejeki lebih untuk kebutuhan Dhika juga yang kini menjadi tanggung jawabnya" ujar Ibu tak bisa lebih memaksa karna semua keputusan hanya ada pada Samudera. Mungkin ibu hanya bisa meminta tolong Biru untuk lebih keras merayu suaminya.


Obrolan ke empat nya pun beralih ke yang lebih santai tanpa membahas pekerjaan atau masalah rumah tangga Khansa yang berakhir di meja sidang.


"Bu, kami pamit ke kamar lebih dulu ya" ucap Sam sambil bangkit dari duduk, semenjak istrinya hamil ia tak mengizinkan Biru untuk bergadang maka tak salah jika jadwal si TUTUT bajak SAWAH pun kini diganti pagi atau siang hari. Sam hanya ingin Cinderella nya itu istirahat dengan cukup mengingat pesan dokter yang selalu menghantui pikirannya.


"Iya, kami juga akan beristirahat"


Sam dan Biru yang lebih dulu naik ke lantai atas meninggalkan ibu dan Khansa yang masih menonton TV, tayangan sinetron yang mengajarkan seseorang menjadi pelakor licik meski berujung azab dan karma yang di bayar tunai.


.


.


"Bee, aku ganti baju gak nih?" tanya Biru, ia yang kini memakai dress longgar berbahan kaos rasanya sudah sangat merasa nyaman di tubuhnya sampai malas menggantinya dengan SarangTahu.


"Emang kamu lagi pengen?" tanya Sam dengan senyum manggoda.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Pengen gak pengen kalo di ajakin mah, hayu aja aku sih....



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


itu pasrah apa doyan ya 🤣🤣🤣


Jangan2 yang dalem perut bukan orok, tapi isinya semburan si tutut yang kebanyakan 🤫🤫🤫

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2